
"Ini hari yang menyebalkan buatku."
"Sabar Ero. Tarik napas dalam-dalam, hembuskan pelan berulang kali. Gimana? Sudah enakan?" tanya Ratna dengan polosnya hingga membuat Ero ingin mencubit pipi gembul Ratna dengan gemas.
"Enakan apanya! Masih panas begini. Haus, aku haus!" ketus Ero karena hatinya masih membara setelah berdebat dengan cowok kampus yang terkenal nakalnya.
"Sudah ini, minum punyaku Er. Kebetulan aku bawa air minum dari rumah," sahut Ocha menyodorkan botol minumnya.
Tanpa ragu, Ero menyambar botol minum itu lalu meminumnya hingga habis tak bersisa.
Ratna hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Ero yang blak-blak an.
"Makasih botol minumnya. Maaf, air minumnya habis. Nanti beli yang baru di kantin saja," Ero mengembalikan botol kosong pada Ocha dan menerimanya dengan tersenyum kaku.
Akan tetapi dalam hatinya berkata, "Buset, nih cewek. Haus apa memang kehausan!" Ocha menatap Ero dengan wajah heran.
Tak lama Devi datang setelah di beritahu beberapa teman yang lain, bahwa sahabatnya Ratna dan Ero terjadi keributan dengan salah satu cowok kampus.
"Rat, Ero. Kalian tidak apa-apa?" tanya Devi yang baru tiba dengan napas ngos-ngosan berlarian menuju kelas.
Ketiga cewek itu seketika menoleh dengan kedatangan Devi.
"Dev. Kami baik-baik saja. Kamu sendiri kenapa baru datang?" seloroh Ero melihat Devi duduk di depannya dengan mengusap keringat di dahinya.
"Iya, perjalanan macet tadi. Kamu tahu sendiri Jakarta kota yang sibuk," sahut Devi seraya terkekeh.
Ero mengangguk membenarkan apa yang dikatakan Devi. Lalu mereka berempat kembali mengobrol dan menceritakan kejadian tadi pada Ocha yang belum mengetahui kejadian sebenarnya.
Tak lama, dosen yang mengajar pun tiba di kelas dan mereka duduk dengan tegap mendengarkan apa yang di terangkan oleh dosen itu.
Beberapa jam berlalu, pelajaran mata kuliah bergantian dari dosen satu ke dosen lain. Hingga siang hari tiba, mereka baru bisa keluar kelas setelah mendengar segala materi dan tugas dari dosen. Mereka berempat keluar kelas dan menuju kantin untuk makan siang.
"Ocha, aku lapar banget ini. Dari tadi dosen ngoceh tiada henti. Di tambah tugas malah membuat kepalaku pusing," celetuk Ero berjalan menggandeng lengan Ratna dengan wajah memelas.
"Tenang saja, nanti ku bantu," sahut Ratna.
"Beneran ya! Kamu memang the best Rat," jawab Ero dengan santai.
Mereka sampai di kantin dan terlihat suasananya begitu ramai. "Tumben ramai banget nih kantin?" ucap Devi melihat sekeliling.
"Ayo, kita pesan makanan. Cacing di perutku meronta-ronta minta diisi," ajak Ero berjalan menuju kios makanan berada.
Dari kejauhan, Gilang dan teman-temannya juga berada di kantin sedang makan siang bersama.
Lalu, Gilang menatap seorang gadis yang menabraknya kemarin dengan tatapan tajam.
"Lihat saja gadis itu, akan ku buat dirimu bertekuk lutut di hadapanku." Gilang berucap dalam hati dengan hati yang bergejolak di hatinya.
Selama ini, banyak gadis terpesona akan ketampanannya, bahkan mengantri untuk mengenal dekat dengan dirinya. Tetapi, hanya seorang gadis seperti Ratna yang tak menoleh saat bertemu dengannya.
Ke empat gadis tadi duduk di meja paling pojok dan sedikit jauh dari posisi Gilang. Namun, tanpa sengaja mata mereka bersitatap dan membuat Ratna terkejut saat di tatap oleh Gilang.
"Kenapa dia menatap ke arah sini? Apakah dia dendam dan gak terima?" ucap Ratna dalam hati.
Ratna pun tak memperdulikan tatapan lelaki itu. Dirinya memilih menikmati makan siang bersama ke empat gadis di depannya itu.
Selesai makan, mereka kembali ke kelas karena ada mata kuliah terakhir. Hingga dua jam berlalu, baik Ratna dan ketiga gadis tadi keluar bersama menuju parkiran mobil. Sedang Ocha, pulang dengan mobilnya sendiri berpisah dengan teman-temannya di kampus.
"Terimakasih Ero, tumpangannya," ucap Devi tersenyum lalu turun dari mobil.
"Sama-sama, Dev." jawab Ero sambil mengangguk dan berlalu pergi dari sana setelah mengantar Devi pulang.
"Terimakasih Rat, hari ini aku lelah banget. Kapan-kapan saja main kesini lagi," ujar Ero.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Ro!" ucap Ratna dan Ero segera melajukan kendaraannya meninggalkan rumah Ratna dan kembali pulang ke rumahnya.
"Assallamualaikum," salam Ratna berucap masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Bu Yuli menatap wajah anaknya yang baru pulang dari kuliah dan memeluknya.
"Gimana Rat, kuliahmu hari ini?" tanya Bu Yuli duduk di sofa bersamaan dengan Ratna.
"Alhamdulillah Bu, hari ini cukup baik dan berjalan lancar," jawab Ratna bersandar di sofa.
"Kalau begitu, Ratna masuk kamar dulu, Bu," Ratna beranjak berdiri berjalan menuju kamarnya.
Bu Yuli menganggukkan kepala melihat Ratna melangkah pergi ke kamar. Lalu, melanjutkan menonton acara drakor kesayangannya.
Di kamar, Ratna langsung mandi membersihkan badannya yang lengket setelah seharian ber aktifitas di luar.
*
Di tempat berbeda, Gilang baru saja sampai di rumah setelah mengikuti mobil gadis yang bertengkar dengannya di kampus tadi.
Gilang masuk begitu saja ke rumah tanpa mengucap salam dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Gilang, tumben baru pulang?" tanya Bu Salma Bibi Gilang yang ramah tersenyum menyapa kepulangan keponakannya itu.
Gilang berhenti sejenak untuk menyapa Bibinya yang telah mengasuhnya selama di Jakarta.
"Iya, Bi. Hari ini hari yang sibuk, jadwal kuliah padat, tetapi juga melelahkan," jawab Gilang menatap wajah ayu Bibinya.
Bu Salma tersenyum dan meminta Gilang istirahat. "Ya sudah, istirahat dulu. Nanti malam kita makan keluar bersama Paman," ujar Bu Salma memberitahu Gilang dan sangat memanjakan keponakannya itu.
"Benarkah Bi?" tanya Gilang memastikan dan Bu Salma mengangguk mengiyakan pertanyaan Gilang.
"Lalu, dimana Paman, Bi?" Gilang bertanya lagi.
"Paman lagi di bengkel mengambil mobilnya," jawab Bu Salma.
"Oke Bi," Gilang ke kamar menaiki tangga ke lantai satu.
Sedang di bengkel, Pak Ahmad bergegas menuju bengkel setelah di beritahu oleh pegawai bengkel tersebut, bahwa mobil miliknya sudah selesai di perbaiki.
"Sore, Bintang. Gimana mobilku?" tanya Ahmad yang baru tiba di bengkel dengan naik taksi dari rumahnya.
"Sore, Pak Ahmad. Iya, mobil Pak Ahmad telah selesai dan makin kinclong seperti baru lagi. Mobil Bapak juga sudah kami cuci tadi," jawab Bintang tersenyum lebar memuaskan pelanggan setia di bengkelnya bekerja.
"Bagus, Bintang. Ini bonus untukmu. Kalau begitu, saya permisi dulu menuju kasir," kata Pak Ahmad menyerahkan uang dua lembar seratus ribu pada Bintang.
"Terimakasih, Pak Ahmad."
"Hmmm." Pak Ahmad lalu pergi menuju kasir cantik bernama Tami.
"Lumayan, dapat bonus dari Pak Ahmad. Beruntung aku bekerja disini dan mendapat pelanggan loyal sepertinya," ucap Bintang tersenyum puas dan kembali melanjutkan pekerjaannya agar cepat selesai karena sebentar lagi tutup.
"Sore, Neng Tami cantik?" sapa Pak Ahmad menatap wajah cantik itu.
"Sore juga Pak Ahmad," balas Tami menjawab sapaan dari pelanggan setianya itu.