
Bayaran Royalti Dari Sketsa Wajah
“Siapa yang mau balas budi sih?” tanya Maisara, seraya menyipitkan mata, ia membiarkan tangannya tetap digenggam.
“Oh! Jadi, kamu juga tidak mau balas budi,” jawab Halan terdengar sedikit kecewa. Padahal ia ingin memanfaatkan wanita di depannya itu demi keinginannya sendiri.
Maisara mengangguk. Ia tidak mungkin mengakui perasaannya secara terus terang. Bagaimanapun ia tidak ingin tertangkap basah kalau merasa berhutang budi. Ia terlanjur bersikap tegar selama ini.
“Ini murni transaksi bisnis, percetakanku berkembang sangat bagus, jadi aku membutuhkan mesin sebanyak itu!” katanya penuh percaya diri.
“Ya, ya, aku percaya, kalau begitu—“ Harlan memutuskan kalimatnya sendiri. Ia melirik poster yang hampir selesai dan sketsa wajah yang masih belum rampung dikerjakan.
Itu adalah poster dengan gaya baru dari Modoroki.
“Kalau begitu apa?” tanya Maisara penasaran, ia mengikuti arah tatapan Harlan. Seketika ia malu, dan tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya.
“Selesaikan sketsa wajahku itu! Tapi jangan membawa kipas merah, aku tidak suka!”
Maisara kembali dalam dilema, apakah ia harus menangis atau tertawa. Bagaimana mungkin pria itu dengan tepat menebak jika yang baru ia buat sketsa adalah wajahnya. Namun, soal Harlan suka atau tidak suka, bukan urusannya.
Astaga! Kenapa ada orang yang begitu terus terang seperti dia? Tidak tahu malu!
“Itu bukan wajahmu, kenapa kau percaya diri sekali, sih?” tanya Maisara canggung.
“Masih mau mengelak?” tanya Harlan, nada bicaranya mulai meninggi.
Sepertinya akan terjadi pertengkaran lagi.
“Apa aku harus membeberkan semua manipulasimu padaku? Kau harus membayar kompensasi untuk itu!” Harlan kembali berkata sambil menunjuk ke arah poster Morodoki Law.
“Aku tidak mengelak! Buat apa? Aku melukis poster Morodoki! Bukan kamu!”
“Tapi yang kamu lukis itu wajahku! Kamu pikir aku tidak tahu? Dan, kamu kasih nama itu? Jelek sekali.”
“Terus, kamu mau apa? Kalau aku bilang bukan, ya bukan!”
“Kau sudah sukses ... Aku minta royalti dari penjualan gambar wajahku!” Harlan berkata dengan memasang wajah cemberut.
“Apa?” Maisara hampir putus asa, ia tidak pernah memikirkan istilah kompensasi atau royalti untuk hak seseorang yang merasa diambil gambarnya tanpa izin.
“Cepat! Hitung sekarang dari awal kamu menjual lukisanku!” kata Harlan serius tapi tatapan matanya lembut pada Maisara.
“Itu lukisanku!”
“Tapi, yang kamu lukis itu wajahku!” Harlan berkata sambil melangkahkan kakinya memutari meja dan mendekati Maisara.
“Bukan!”
“Baiklah, kalau kamu tidak percaya soal lukisan itu adalah wajahku, kita buat polling pendapat dan sebar di internet, minta para audiens untuk menilai!” Kali ini Harlan kembali memeluk tubuh istrinya.
“Cukup Lane! Jangan macam-macam!” kata Maisara sambil meronta, tapi dekapan tangan Harlan lebih kuat darinya.
“Kamu yang macam-macam denganku!” kata Harlan sambil mencium pipi kanan dan kiri.
Seketika Maisara tersadar, ia tidak seharusnya berurusan dengan Harlan. Sepertinya, kalau ia menyewa sepuluh pengacara juga, tetap akan kalah darinya. Saat itu hatinya mengajak berdamai, dengan keadaan yang sekarang ia hadapi. Jika ia ingin tidak bertengkar atau bertemu dengan Harlan lagi, maka ia harus menyelesaikannya sekarang juga dengan lemah lembut. Pria itu tidak mudah untuk ditangani.
“Baiklah, baiklah, aku mengaku kalau Morodoki memang mirip sama kamu, ayo! Kita hitung berapa royalti untukmu!” kata Maisara sambil mengulurkan tangan untuk meraih ponsel, tapi Harlan mencegah dengan memeganginya.
“Aku tidak ingin royalti uang!” katanya, sambil mencium punggung tangan Maisara.
“Terus, royalti apa? Logam mulia?” kata Maisara, hampir putus asa menghadapi suaminya dan ia mulai kesal.
Royalti macam apa itu?
Maisara tidak berdaya dan tidak mungkin menolak keinginan Harlan yang baginya, sangat modus dan tidak masuk akal. Belum sempat ia menyadari lebih lanjut tentang maksud Harlan, bibirnya sudah dibalut dengan daging merah dan hangat milik pria itu.
Tidak ada waktu menolak, tidak ada waktu bicara kecuali, menyerahkan dirinya untuk membuat keringat bersama di kantornya saat itu juga.
Harlan tertidur di sofa setelah puas menerima royalti ala kesenangannya dari istrinya.
Sementara Maisara meneruskan membuat sketsa wajah yang harus di cetak besok. Ia menggoreskan pensil gambar sambil sesekali melihat Harlan yang tertidur dengan pulas di sofa, dekat meja kantornya. Tiba-tiba terbetik di otaknya untuk mengganti kipas merah, yang tidak disukai pria itu dengan sesuatu yang lain.
Biasanya kipas merah selalu ada di tangan kanan Morodoki, sebagai salah satu senjata andalannya. Namun, kini ia ingin mengganti menjadi seorang bayi yang lucu dengan pakaian congsam warna merah. Ia sendiri heran dengan ide yang terkesan lucu, muncul begitu saja, tapi akan ia coba, dari pada poster selalu dalam gaya yang sama.
Setelah selesai membuat sketsa, Maisara keluar dengan perlahan, karena khawatir membangunkan Harlan. Namun, ia baru sadar kalau ternyata laki-laki itu sudah tidak ada di sana. Kapan pria itu keluar ruangan, pun ia tidak tahu.
Mungkin aku terlalu asyik membuat gambar bayi sampai aku tidak mendengar dia keluar.
Maisara langsung pergi ke ruang produksi yang masih menunggu tugas selanjutnya, hari itu tidak terlalu banyak pesanan, hingga para pegawai sedikit santai. Begitu mereka melihat sketsanya, semua tercengang dan berdecak kagum dengan buatan bos mereka.
Ternyata gambar bayi baru adalah hasil setelah sekian jam bos cantik itu tidak keluar dari ruangannya. Para pegawai tidak menyadari bahwa tamu yang sejak tadi pagi pun masih ada di gedung merdeka.
“Apa itu anak Leyu Wen?” tanya Lana.
Leyu Wen adalah seorang wanita dalam tokoh komik yang jatuh cinta dengan Morodoki, sampai rela mengorbankan kuda perang terkuatnya.
“Bukan, aku tidak setuju Morodoki menikah dengan dia, aku lebih suka dengan Run Wi Mei! Kemampuannya lebih bagus!” kata pegawai lainnya.
“Ya! Aku setuju! Run We menolong Moroduki saat akan menolong ibunya, kan?”
Tentu saja mereka semua hafal naskah dan semua cerita yang dibuat oleh Maisara. Jadi, wajar kalau mereka punya pendapat sendiri dalam alur cerita.
“Apa kalian bercanda, sebenarnya Morodoki sudah menyukai sang ratu sejak lama!” kata pegawai lainnya sambil mencampur warna pada cetakan, sesuai dengan warna yang ada pada sketsa. Semua proses dilakukan setelah sketsa discanning. Kini tinggal di masukkan dalam mesin printer besar yang ada di ruangan produksi itu.
“Dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu, bukankah ratu sudah memiliki sang raja?” tanya Lana, ia seperti protes keras pada temannya itu.
“Lihat di episode 127, saat dia menolong ratu bukankah merodoki ingin sekali menciumnya? Tapi keburu rombongan raja datang, dia sudah mengenal ratu sejak kecil hanya saja waktu itu ratu sudah dilamar oleh sang raja, apa kalian lupa alurnya?”
“Itu tidak masuk akal! Ratu wanita lemah, yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa!” kata Lana sambil menoleh Maisara, gadis itu sedang melihat-lihat hasil poster yang masih basah.
“Mai! Apa kau akan membuat Morodoki menikah dengan ratu? Aku tidak setuju, jangan sampai kalau kau membuat ratu bercerai dengan raja!”
“Memangnya kenapa, kalau Morodoki mau jadi rajanya?” kata Maisara dengan tenang, tanpa melirik pada para pegawainya sedikit pun.
Tiba-tiba seorang pria datang mendekat ke arah mereka yang masih sibuk hendak mencetak poster.
“Biar aku saja yang menentukan endingnya!” suara itu terdengar keras membelah ruangan, serta menarik perhatian semua orang. Secara serentak mereka menoleh ke arah orang yang berbicara, dan seketika mulut mereka pun terbuka.
Maisara kesal karena ia melihat Harlan tidak menutupi wajahnya.
Sementara para pegawai kini tahu bahwa, laki-laki yang sejak tadi berada di ruangan bos mereka adalah tokoh asli dari Morodoki Law!
Apa-apaan sih, dia?
Harlan berada di sana, sampai malam tiba dan Daina menyiapkan tempat tidur untuk pria itu di kamar anaknya. Laki-laki itu sangat senang karena ibu mertuanya menerima dengan baik kedatangannya.
Ia menyelinap keluar ruangan Maisara saat wanita itu asyik melukis wajahnya. Ia menggunakan kesempatan itu, untuk mengorek informasi dari Daina tentang segala sesuatu tentang Maisara, dari makanan kesukaan, warna favorit, kebiasaan jelek serta beberapa hal lucu di masa kecilnya.
Daina dengan polosnya menceritakan semuanya tanpa berpikir buruk sedikit pun pada menantunya. Padahal ia tidak tahu apa yang akan Harlan lakukan pada anak gadisnya itu.
❤️❤️❤️❤️