Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Ch 1. Masa Orientasi


"Untung saja masa orientasi selesai. Kita di kerjain habis-habisan sama Kakak senior," keluh Devi berjalan beriringan dengan Ratna menuju kelasnya.


"Halah, baru juga begitu sudah ngeluh Dev," sahut Ratna yang mengibaskan tangan untuk rasa gerahnya setelah berada di halaman kampus selama satu jam lebih.


Saat berjalan, Ratna bertemu dengan salah satu Kakak senior yang berjalan melewatinya dengan wajah sederhana juga tampan, postur tubuh tinggi body atletis menyapa tersenyum padanya.


Ratna pun mengangguk saat melewati orang itu bersama Devi.


"Eh Rat, lihat! Kakak itu tersenyum pada kita!" seru Devi kegirangan memeluk Ratna erat dan menoleh ke belakang melihat wajah tampan lelaki itu.


"Aduh Dev! Biasa aja kenapa, kayak gak pernah lihat cowok cakep aja!" sahut Ratna masuk ke dalam kelas.


"Siapa dia ya? Cantik sekali?" ucap Gilang dalam hati tersenyum lalu menoleh ke belakang pada wanita itu.


Gilang Pratama, seorang pemuda berusia 24 tahun ini terkenal playboy, urakan dan juga kaya raya. Banyak para mahasiswi memuja ketampanan Gilang, akan tetapi tak banyak juga yang memuja Gilang yang playboy itu.


Namun, Gilang tak memperdulikan apa yang dikatakan orang-orang. Dirinya hanya menikmati hidupnya sebagai mahasiswa dan bergerak sesuai keinginannya sendiri.


Masuk kelas, Gilang duduk di dekat salah satu cewek yang lumayan cantik.


"Gilang, nanti siang aku nebeng ya pulangnya?" Novi dengan gaya gemulainya melirik Gilang sesekali.


Gilang menoleh sekilas, "Ah, maaf Novi. Aku sudah ada janji dengan teman," jawab Gilang enteng menolak gadis itu tanpa melihat ekspresi wajah genit itu sedikit kesal.


"Oh! Sudah ada janji to!" ketus Novi menjawab lalu mencoret-coret sesuatu di bukunya.


Gilang berdiri dan mengambil jaket di kursi lalu memakainya seraya berpamitan pada beberapa teman-temannya. "Oke aku duluan ya semua?"


"Oke bro."


Novi menatap punggung Gilang dengan kesal di hatinya.


"Untung saja kamu tampan. Kalau tidak, nggak mungkin aku bisa sekesal ini sama kamu Gilang," Novi berucap dalam hatinya.


Selama ini Novi betah menjomblo. Dirinya berharap mencari lelaki yang sesuai kriterianya dan bisa menemukan cinta untuk mengisi kekosongan di hatinya. Namun, sejak mengenal Gilang 2 tahun yang lalu, Novi mulai menyukai Gilang dan berharap menjadi pacarnya.


Akan tetapi, sampai detik ini Gilang selalu memberi harapan dan tak pernah merespon apa yang dilakukannya bahwa dirinya memang mencintai Gilang Pratama.


Siang ini, para mahasiswa diperbolehkan pulang karena hanya melakukan kegiatan masa orientasi yang terakhir.


Begitu pula Ratna dan Devi mereka juga pulang dengan riang gembira. Keduanya adalah teman sejak SMA dan selalu bersama kemana pun mereka jalan. Kedekatan mereka sudah seperti saudara kandung, mulai dari hal-hal kecil mereka selalu berdebat satu sama lain.


Walau pun begitu, mereka tetap saling mengasihi dan menyayangi.


"Pulang ke rumahmu ya Rat? Bosen aku di rumah sendiri?" keluh Devi bila pulang ke rumah selalu keadaan sepi tiada kawan.


"Ayoklah kalau begitu."


Keduanya berjalan beriringan menuju gerbang kampus untuk mencari angkotan yang mengantar mereka ke rumah.


Setelah mendapatkan angkotan, Ratna dan Devi naik lalu mobil kembali melajukan kendaraan roda empatnya ke jalanan.


*


Ratna telah sampai di rumah bersama Devi. Lalu keduanya mengucap salam saat tiba di depan teras.


"Gimana Rat, kuliahnya seru nggak?" tanya Bu Yuli tersenyum saat melihat putrinya baru datang bersama Devi.


"Alhamdulillah Bu, seru juga melelahkan," jawab Ratna melepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu.


"Ya sudah, sana ganti baju dulu. Habis ini bantu Ibu membuat kue. Ada pesanan kue untuk acara pengajian di rumah Bu Rosa."


"Permisi tante Yuli," Devi menganggukkan kepala sopan pada ibunya Ratna.


Ratna berlalu meninggalkan ibunya yang sedang menata tanaman di halaman menuju kamarnya.


Membuka pintu kamar, Ratna menyampirkan tas di kursi. Sedang Devi merebahkan tubuhnya di kasur. "Aku mandi dulu Dev, gerah nih?" ucap Ratna menuju kamar mandi dan ditanggapi Devi menganggukkan kepala.


Selang 15 menit, Ratna keluar dengan badan segar dan rambut yang basah. "Gak mandi sekalian Dev?" tanya Ratna mengusap rambut dengan handuk agar cepat kering.


"Boleh juga Rat. Nanti pinjam bajunya ya?" ucap Devi mengambil handuk di tangan Ratna dengan cepat.


"Ooiii Dev, belum selesai ngeringin rambut nih!" teriak Ratna pada sahabatnya itu yang masuk ke kamar mandi.


Ratna membuka lemari mengambil dua kaos lengan panjang, rok dan celana panjang untuk Devi. Setelah mengganti pakaian, Ratna menyisir rambut depan cermin dan menguncirnya kuda agar terlihat rapi.


Keluar kamar, Ratna berjalan ke dapur dan melihat adiknya sudah menyiapkan bahan-bahan kue dan beberapa cetakan di meja.


"Mana Ibu, Frida?" tanya Ratna celingukan karena ibunya belum ada di dapur.


"Masih di depan kayaknya Mbak," jawab Frida sambil menata mentega dan soda kue.


"Ya sudah, Mbak bantu sambil menunggu Ibu datang," sahut Ratna mulai membantu Iin.


Di kamar Ratna, Devi keluar kamar mandi dan melihat Ratna tidak ada di kamar.


"Loh, kemana tuh anak? Malah ditinggal aku?" gerutu Devi sambil memakai baju yang telah dipilih Ratna tergeletak di kasur.


Selesai memakai baju dan menyisir rambutnya, Devi keluar kamar menemui Ratna yang tertawa lebar bersenda gurau dengan adik dan juga ibunya di dapur.


"Eh Dev, sini gabung bantu bikin kue. Maaf ya, tadi ku tinggal begitu saja?" kata Ratna meminta maaf.


"Udah biasa Rat," ujar Devi santai duduk membantu keluarga Ratna.


Mereka saling bahu membahu membuat kue pesanan Ibu Ratna hingga beberapa jam kue tersebut jadi. Ratna, Devi dan Frida menata kue bolu, kue bunga dan lemper ke dalam kotak.


Akhirnya, selesai juga. "Astaga, ternyata hari sudah sore Rat! Aku harus pulang, pasti mama dan papa ngomel-ngomel kalau aku belum pulang!" celetuk Devi melihat jam di tangannya terkejut.


"Ya sudah, ayo aku antar kamu pulang duluan!" pinta Ratna berdiri melepas celemek di tubuhnya begitu juga Devi.


"Tan, Devi pamit pulang dulu ya?" Devi mencium punggung tangan Bu Yuli sopan. Lalu, Devi kembali ke kamar Ratna untuk mengambil tas nya.


"Ya sudah, hati-hati di jalan Rat. Jangan ngebut ya?" tutur Bu Yuli tersenyum.


"Baik, Bu."


Frida dan Bu Yuli mengantar Devi sampai depan rumah dan melambaikan tangan pada keduanya.


Ratna mengendarai motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.


"Duh Rat, santai aja bawa motornya! Gak usah ngebut! Ingat pesan ibumu, selow aja. Tahu 'kan selow?" teriak Devi di dekat telinga Ratna agar mendengar suaranya.


Ratna yang sedang fokus melajukan kendaraannya tidak menyadari ada sebuah mobil yang dari arah kanan juga melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata- rata.


Braaak


Terjadilah tabrakan yang tidak bisa di hindari di antara kedua kendaraan itu. Ratna dan Devi jatuh disebelah motor, sedang Gilang menatap tak percaya dengan apa yang terjadi barusan.


Hai semua, ini karya author yang ke 6 ya. Semoga suka dengan karya baruku 🤭. Bila ada typo atau kesalahan dalam menulis, jangan sungkan untuk kritik dan sarannya 😊.


Happy reading.