Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Ch 8. Makan Bersama Keluarga


Keduanya tak menyadari bahwa ada lelaki berdiri di sampingnya menatap dengan kagum pada sosok Ratna.


Lalu, Ratna dan Frida pergi berlalu dari sana untuk membayar ke kasir dengan membawa baju yang telah mereka pilih. Sedang Gilang, mengamati keduanya yang pergi begitu saja.


Gilang pun memilih kembali menemui Paman dan bibinya setelah melihat gadis itu.


"Darimana saja sih, kok di toilet lama sekali?" protes Pak Ahmad bertanya pada keponakannya yang baru saja datang karena menunggu di depan toko sudah setengah jam lamanya.


"Maaf, Paman, Bi. Toiletnya antri tadi," jawab Gilang beralasan.


"Hmmm."


Mereka pun melanjutkan makan malam di sebuah restoran di mall karena satu jam berjalan kaki membuat kaki Bu Salma pegal.


"Kita istirahat dulu Ma disini. Sekalian makan dan minum," ajak Pak Ahmad menarik kursi untuk istri tercinta lalu setelah itu dirinya duduk.


"Gilang kok gak di tarik kursinya, Paman?" rengek Gilang menatap pamannya.


"Tarik sendiri! Sudah besar juga, kok kayak anak kecil. Manja banget!" ketus Pak Ahmad menjawab.


Gilang pun menarik kursinya sendiri dan duduk di depan pamannya yang juga menatap ke arahnya.


"Apa lihat-lihat! Kok malah bengong? Sana pesan makanan dan minuman!" titah Pak Ahmad menatap tajam Gilang.


Lagi dan lagi, pamannya suka memerintah pada Gilang yang akhirnya kembali berdiri menuju stand makanan.


Baru beberapa langkah, Gilang kembali menuju mejanya. "Apa lagi!" tanya Pak Ahmad melihat Gilang berdiri di sampingnya.


"Mau pesan makanan dan minuman apa? Biar Gilang tidak bolak-balik?" tanya Gilang.


"Mama mau pesan apa?"


"Pizza saja, Pa. Yang jumbo! Soal rasa terserah Gilang. Untuk minuman, Mama mau jus alpukat," ucap Bu Salma.


"Nah, Gilang, untuk Paman jus jeruk saja," kata Pak Ahmad memberitahu dan Gilang mengangguk paham. Lalu, pergi menuju stand makanan.


"Mas, pesan pizza ukuran jumbo rasa blackpaper, minuman 3 dengan rasa yang berbeda. Jus Alpukat, jus jeruk dan jus melon," kata Gilang memesan pada pegawai tersebut yang langsung mencatat di komputer.


"Baik. Total semuanya tiga ratus lima puluh ribu rupiah," ucap pegawai tersebut.


"Astaga! Uangku kurang, Mas. Nanti, Mas kesana? Serahkan nota itu pada orang tua yang duduk disana," tunjuk Gilang ke arah sisi kanan, pegawai tersebut mengikuti arah telunjuk itu dan mengangguk paham.


"Baiklah, ini nomor mejanya," ucap pegawai tersebut menyerahkan nomor untuk tanda sebagai pesanan.


"Terimakasih Mas."


Gilang kembali dimana Paman dan bibinya duduk tidak jauh dari Gilang berdiri tadi.


"Ini nomor mejanya." Gilang meletakkan nomor tersebut di meja begitu saja dan melihat sekeliling berharap bertemu dengan gadis tadi.


"Mudah-mudahan dia lewat sini?" ucap Gilang dalam hati seraya matanya menatap awas orang yang berlalu lalang.


Pak Ahmad menatap gerak-gerik Gilang yang terus melihat ke arah toko itu berkali-kali hingga dirinya geram dan ikut menatap ke toko itu.


"Nungguin siapa, Lang. Dari tadi Paman lihat, kamu mencari-cari seseorang! Pacar kamu ya?" tanya Pak Ahmad penasaran dengan keponakannya itu.


"Eng-Enggak kok, Paman! Bukan cari siapa-siapa? Sambil nunggu makanannya datang, lihatin cewek lewat apakah salah?" jawab Gilang menutupi rasa gugupnya.


"Gak salah, Lang. Yang salah itu matamu gak berhenti menatap ke arah sana terus. Kamu kira, pamanmu ini bisa dibohongi?" ketus Pak Ahmad menjawab perkataan Gilang.


"Emang kelihatan ya, Paman?" Gilang bertanya ragu pada pamannya itu.


"Kelihatan banget."


Saat sedang asik mengobrol, pegawai datang membawa pizza jumbo dan 3 minuman jus. Lalu meletakkan di meja seraya tersenyum dan menyerahkan nota tersebut kepada orang yang dimaksud Gilang tadi.


"Silahkan dinikmati dan ini nota pembayarannya," ucap pegawai tersebut menyerahkan pada Pak Ahmad.


Pak Ahmad melihat nota itu dan langsung mengambil dompet di saku celana, lalu menyerahkan empat lembar uang ratusan ribu kepada pegawai itu.


"Kembaliannya kamu ambil saja," kata Pak Ahmad pada pegawai itu dan menerimanya dengan senang hati. "Terimakasih, Pak." Lalu, pegawai itu pun berlalu pergi dari sana untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Selamat makan!" ucap Pak Ahmad mengambil potongan pizza diikuti istri tercinta lalu Gilang.


Di sisi lain, Bu Yuli dan Pak Adam telah selesai berbelanja. Kini, keduanya berjalan keluar ke supermarket di mall itu untuk menghubungi salah satu kedua anaknya.


"Halo, Ratna? Kamu dimana Sayang?" tanya Pak Adam di telepon.


"Halo, Ayah! Ratna dan Frida sudah berada di restoran seafood," ujar Ratna memberitahu ayahnya.


"Baiklah. Kami segera kesana," jawab Pak Adam menutup teleponnya dan berjalan beriringan dengan istrinya.


"Mereka dimana, Ayah?" tanya Bu Yuli membawa barang belanjaan.


"Mereka berdua ada di restoran seafood."


"Kebetulan sekali, Ibu sudah sangat lapar dan haus, Yah?" sahut Bu Yuli tersenyum menanggapi apa yang dikatakan suaminya.


Beberapa menit mencari, Bu Yuli melihat kedua anaknya berdiri di depan restoran itu seraya menunggu kedatangan orang tuanya.


"Kalian belanja apa saja? Banyak banget!" Bu Yuli melihat tas belanjaan yang ada di tangan keduanya.


"Hehehe. Biasa Bu, kebutuhan seorang wanita banyak banget," kata Frida.


"Baiklah. Ayo, kita ke dalam? Ibu sudah sangat ingin makan," ajak Bu Yuli berjalan ke depan terlebih dahulu.


Mereka berempat duduk di pojok dan pegawai datang dengan membawa buku menu. "Selamat malam, silahkan dipilih menu nya."


Ratna dan Frida mengambil buku menu itu, lalu melihat beberapa makanan yang menggugah selera.


"Aku pilih Gurame bakar saja, Mbak. Lalu, untuk minuman Es jeruk," ucap Frida pada pegawai itu dan mencatat di kertas.


Sedang Ratna, sibuk memilih makanan yang sekiranya cocok di lidahnya.


"Sudah, samakan saja dengan Frida, Rat. Untuk minumannya, Ayah dan Ibu pilih es teh saja." kata Pak Adam.


"Gak mau, Yah! Ratna pilih es lemon tea."


Pak Adam kemudian memberitahu pada pegawai itu seraya mencatat pesanan mereka.


"Baik, Pak. Silahkan ditunggu."


Pegawai itu berlalu pergi setelah mencatat menu makanan dan berjalan menuju dapur.


Beberapa menit menunggu, pesanan gurame bakar, empat piring nasi, sambal dan minuman tersedia di meja mereka. Lalu, pegawai tersebut kembali bekerja untuk melayani pembeli yang datang.


"Hmmm. Baunya, bikin cacing di perutku meronta minta diisi," ucap Ratna yang sudah tidak tahan ingin makan dengan mencium aroma ikan bakar tersebut.


"Berdoa dulu sebelum makan," pinta Bu Yuli pada keduanya.


"Iya, Bu."


Selesai berdoa, mereka semua menyantap ikan dengan lahap dan tak lupa Ratna sebelum makan menyempatkan memotret makanan itu untuk dipasang di sosial media. Begitu pula dengan Frida yang meminta kakaknya untuk memotret dirinya sedang makan ikan gurame bakar dengan caption, "Menu Ikan Gurame Bakar, Yummy. Selamat makan semuanya."