
Bertemu Raina
Tengkuk Maisara tiba-tiba merinding, matanya melotot, kedua tangan menutup mulutnya yang terbuka, karena terkejut. Tubuhnya pun gemetar saat melihatnya.
Namun, perutnya tiba-tiba terasa mual, hingga ia segera berlari keluar rumah, dengan sedikit berjingkat. Ia takut ketahuan setelah mengintip.
Sesampai di halaman parkir, Maisara segera memuntahkan isi perutnya. Rasa mual itu diakibatkan oleh ngidam juga karena ia melihat secara sengaja, adegan penuh dosa antara Nella dengan seorang laki-laki yang bukan suaminya.
Laki-laki itu bukan Roni? Apa artinya dia dikhianati? Itu bagus sekali! Aku tidak perlu repot-repot membalas sakit hati! Hubungan Nella dengan selingkuhannya, lebih cepat terbongkar akan lebih bagus.
Maisara masuk ke mobil, setelah sopir membuka pintunya. Lalu, ia meminta sopir untuk segera pulang ke villa Harlan, karena tiba-tiba kepalanya sakit dan ia ingin Hara memijatnya.
Sesampainya di Vila Harlan, Maisara turun dari mobil tanpa menunggu sopir membukakan pintunya. Ia bergegas masuk, tapi langkahnya terhenti karena secara bersamaan ia berpapasan dengan seorang wanita yang baru saja keluar dari sana.
“Kau baru pulang? Istri macam apa kau ini?” pekik Raina, ia sengaja datang ke Villa Harlan demi mencari Maisara dan sudah sejak tadi menunggu kedatangannya. Ia kesal karena gadis yang ditunggu baru muncul, setelah ia akan pulang.
Maisara begitu terkejut dengan kedatangan Raina, karena Ia tidak menyangka jika gadis itu sudah sehat dan berani muncul di vila, padahal suaminya tidak ada. Namun, Maisara sadar bahwa, dirinya hanyalah orang ketiga di antara hubungan mereka berdua. Harlan sangat mencintai gadis yang ada di hadapannya, sudah pasti akan melakukan apa pun juga.
Kehamilan Reina adalah sebuah kecelakaan yang diakibatkan oleh Herlan sendiri, kan? Ia begitu menjaga diri. Mungkin, kehormatan Raina adalah segalanya, tapi ia gagal karena laki-laki lain berhasil menggagahinya.
Jadi, wajar kan, kalau suamiku merasa bersalah pada gadis ini? Ah pasti suamiku itu sangat mencintainya!
Hal-hal itulah yang ada di benak Maisara.
Tiba-tiba ia teringat dengan kata-kata Sunni tentang Harlan, dan juga tentang jumlah uang pembelian dari gedungnya. Ia memang belum tahu apakah Suni memiliki hubungan dengan suaminya atau tidak, tapi ia membuat ide yang sedikit rumit dan nekat menggunakannya.
“Aku?” Maisara balik bertanya sambil menunjuk ke dadanya sendiri. “Aku ini istri sahnya jadi aku bebas berbuat apa saja, Harlan mencintaiku ... jadi dia tidak akan marah, walau aku pulang terlambat sekalipun!”
“Apa kau bilang? Harlan mencintaimu Jangan mimpi!”
“Kamu sudah sering bilang begitu, tapi buktinya dia tidak mau menceraikan aku!” Saat berkata seperti itu, Maisara pura-pura tidak tahu jika Harlan akan segera menikahi Raina.
“Apa kau bilang? Jangan terlalu percaya diri, dia akan segera melakukannya kalau sudah menikah dengan wanita yang lebih baik darimu!”
“Siapa wanita yang lebih baik dari aku di mata Harlan? Dia akan tetap mencintaiku walau, kau sendiri yang akan menjadi istrinya!”
Tentu saja Raina kesal dengan ucapan Maisara yang baginya terlalu percaya diri.
“Hah! Kita lihat saja nanti siapa yang lebih dia cintai ... aku atau kamu? Dasar gadis murahan! Kau sudah hamil sebelum menikah dengan Harlan, lalu kau menganggap bahwa dirimu berharga dan pantas dicintai olehnya? Ayolah jangan membuatku muak!”
Seketika Maisara tercengang dari mana Raina mendapatkan informasi seperti itu?
“Aku hamil diluar nikah? Yang benar saja! Eh, dengar! Kau boleh bertanya pada Harlan kalau tidak percaya! Aku ini masih perawan saat dia melakukannya!”
Semula Raina berniat untuk menekan Maisara, setelah ia mengetahui kabar tentang kehamilan gadis itu, dari sang ibu. Meski kehamilan dengan proses bayi tabung, ia tetap saja iri.
Apalagi semua atas keinginan Wendy, yang sangat mengharapkan cucu dari Harlan. Raina begitu sakit hati karena wanita itu lebih memilih Maisara yang baru dikenal untuk mengandung cucunya, daripada dirinya yang sudah mengenal Harlan jauh lebih lama. Hubungan keluarga mereka pun termasuk sangat dekat.
Untuk sementara waktu, ia tidak bisa menanyakannya pada calon ibu mertua. Ia diberi peringatan oleh kedua orang tuanya jika Wendy tidak menyetujui pernikahannya dengan Harlan. Oleh karena itu ia tidak boleh membuat masalah dan harus hati-hati dalam bersikap.
Maisara kembali ke kamarnya setelah kepergian Raina, dari Hara ia tahu bahwa, perempuan itu menunggunya begitu lama.
“Kasihan sekali, tapi aku tidak salah, kan? Dia tidak menghubungiku kalau mau bertemu!” kata Maisara sambil melepas pakaian bagian atas. Ia sudah meminta agar Hara memijat punggungnya.
“Ya. Nyonya tidak salah!” sahut Hara singkat. Ia tidak ingin menambah masalah.
“Maaf Bibi, aku merepotkanmu, aku pusing sekali!” kata Maisara, saat ia sudah berbaring di tempat tidur dan Hara mengoleskan minyak kayu putih di sekujur punggungnya.
Tak lama, Maisara sudah memejamkan mata, ia menjalani hari yang melelahkan. Bebannya terasa begitu berat, sedangkan ia harus melihat orang-orang yang menyebalkan sepanjang sore.
Hara tetap melakukan aktivitasnya, meskipun Maisara sudah terlihat tidur begitu nyenyak. Ia baru berhenti setelah mendengar suara seseorang memasuki kamar. Ia segera berdiri dan menoleh, lalu terkejut melihat Harlan yang sudah berdiri sambil berkacak pinggang di depan pintu yang terbuka.
“Apa yang kau lakukan, kenapa dia?” tanya laki-laki itu dengan alis yang bertaut.
“Sepertinya Nyonya masuk angin Tuan?” kata Hara, sambil menunjukkan botol minyak kayu putih yang ada di tangannya.
Tanpa bicara, Harlan mengambil benda itu dari tangan Hara. Wanita itu mengerti dan segera meninggalkan Harlan di sana, ia keluar setelah menutup pintu kamar Maisara dengan perlahan agar tidak membangunkan Nonyanya.
Harlan meneruskan apa yang dilakukan Hara, memijat punggung istrinya dengan lembut, tiba-tiba hasratnya timbul hanya dengan melihat dan menyentuh punggung Maisara.
Sial! Sebenarnya apa yang kau miliki, kenapa kau selalu bisa membuatku seperti ini?
Ia menggerutu karena tidak suka menggauli wanita dalam keadaan tidur atau tidak sadar. Ia terus menahan sesuatu yang selama ini sulit ia kendalikan, saat berdekatan dengan Maisara. Lalu, pria itu mengalihkan tangan istrinya yang menutupi tubuh bagian depan sedikit, agar ia bisa mencumbui bagian itu sampai puas. Namun, wanita yang menjadi sasarannya tidak terusik sama sekali.
Kalau saja Maisara bangun, Harlan pasti sudah melakukannya sesuka hati.
Harlan memutuskan untuk pergi, tak lama setelah beberapa tanda berhasil ia buat di dada iatrinya. Ia menutupi tubuh Maisara dengan selimut, lalu, pergi ke kamarnya sendiri dengan menahan hasratnya sekuat yang ia bisa.
Maisara begitu terkejut saat bangun keesokan hari, ia tidak mendapatkan Harlan di tempat tidur, tapi aroma pria itu sangat kuat tercium oleh Indra penciumannya.
Ia lebih terkejut lagi saat melihat ada beberapa tanda di bagian dada, hingga ia bertanya-tanya, apa laki-laki itu berada di kamarnya semalam.
Apa ini?
❤️❤️❤️❤️