
Memaafkan Walaupun Sulit
“Pak Harlan?” Ucap ibu dan anak itu hampir bersamaan.
Maisara menoleh dan ekspresi wajahnya seketika berubah rumit. Ia tidak tahu kalau suaminya mengikuti dan berdiri di belakang mobil. Walaupun, ia tidak tahu maksud Harlan menguntitnya tapi ia yakin kalau pria itu tidak percaya padanya. Padahal, ia meminta pria itu tetap di sana agar tidak ada yang harus tersinggung atau tidak menambah masalahnya.
Harlan muncul dari balik mobil dengan wajah datar tanpa ekspresi, demi Maisara ia seperti rela kehilangan harga diri.
Shasi—Ibu Caca yang hanya bisa duduk di kursi penumpang belakang, menggeser duduknya dan melihat ke arah Harlan dengan mata yang berkaca-kaca.
Wanita itu tersenyum dan berkata, “Tuan, nasib baik saya bisa bertemu Anda di sini! Maaf saya tidak bisa mendekat karena saya tidak memakai kursi roda!”
Harlan terpaku di tempatnya dan melihat ke arah kaki Shasi—bu Caca.
“Sungguh Tuan, buah jatuh tak jauh dari tangkainya, Anda adalah titisan Tuan Mahespati yang sesungguhnya. Saya tahu, apa pun yang saya katakan dan saya lakukan tidak akan membawa kembali beliau ke dunia. Tapi, saya hanya akan mengatakan jika bukan karena beliau, mungkin Caca tidak akan menjadi seperti sekarang.”
Ucapan Shasi tidak akan pernah mengubah apa pun, tapi hal itulah yang ingin ia sampaikan pada Harlan bila bertemu dengannya suatu saat nanti. Ketika bertemu saat ini, maka ia tidak menyia-nyiakan kesempatan, dan menyampaikannya.
Baik Caca maupun Shasi, tidak mengharapkan jawaban apa pun, mengingat betapa tidak berharganya diri mereka di hadapan Harlan. Pria itu bagai bintang di langit, sedangkan mereka hanyalah seonggok tanah.
“Ya. Aku tahu!” kata Harlan.
Ucapan yang singkat itu jelas mencerminkan bahwa, pria itu sudah melapangkan dadanya atas apa yang menimpa ayahnya.
Maisara sangat terkejut dalam hati, ia tak menyangka jika suaminya akan menanggapinya. Ucapan itu sangat mengharukan.
Sejak mendengar ucapan Maisara saat mereka membicarakan soal Caca waktu itu, Harlan banyak memikirkan ulang tentang keputusannya dalam menyikapi kematian ayahnya. Ia kemudian menjadi berubah dalam mengambil kesimpulan. Apalagi tadi Maisara mengatakan tentang keadaan ibu dari anak kecil yang ia benci.
Caca sudah tumbuh lebih besar dan menjadi gadis yang sangat menawan. Wajahnya yang sendu itu seolah menolak untuk di benci, tapi menuntut untuk dicintai banyak orang.
Kalau ia menjadi ayahnya waktu itu dan melihat tangisan gadis itu dalam kobaran api, pasti akan bersikap sama.
“Ayo!” kata Harlan sambil menggamit tangan Maisara. Perempuan itu bagai di hipnotis hingga ia pun menurut tanpa berpamitan dengan Caca dan Shasi.
“Urusanmu sudah selesai, kan?” tanya Harlan saat mereka sudah sampai di mobil.
Maisara seketika sadar dan menoleh, seraya berkata, “Ya.”
Ia memberikan kunci mobil pada Harlan. Lalu, ia duduk tenang sambil mengirim pesan pada Lana. Ia berpesan jika ia pulang dengan Harlan, dan menyuruhnya untuk mencari taksi saja.
Lalu, ia menuliskan pesan lagi untuk Caca dan berpamitan padanya. Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih, melalui pesan itu.
“Tidak masalah, Mai! Kau tidak perlu minta maaf, sebab aku sudah melihat bahwa Pak Harlan sudah memaafkan aku!” balas Caca pada pesannya.
Kesimpulan yang diambil Caca dalam menanggapi ucapan Harlan adalah sebuah keniscayaan karena hatinya pun gembira. Walaupun, Harlan tidak sungguh-sungguh atau hanya sekedarnya saja karena istrinya, itu sudah cukup.
“Besok kita pulang!” Harlan berkata sambil mengendarai mobil Maisara.
“Ka mana?” tanya perempuan itu seraya menoleh pada suaminya dari samping. Mereka duduk berdampingan di kursi depan.
“Ke vilaku!” sahut Harlan.
“Beli saja buat dia rumah baru!”
“Baiklah, tapi aku ingin, Mahes dirawat oleh Ibu, dia sudah terbiasa!”
“Baiklah! Terserah kau saja.”
“Tapi aku tidak bisa lama-lama di sana!”
“Kenapa?” Harlan bertanya sambil menoleh pada Maisara sekilas.
Maisara mengatakan tentang usahanya yang belum lama ia rintis, bagaimana jika ia meninggalkan para karyawan cukup lama.
“Kalau begitu, serahkan perusahaan itu pada Lana!” usul Harlan.
Jawaban Harlan membuat Maisara kesal, sebab jawaban itu hanya asal-asalan saja menurutnya.
Mana bisa seperti itu?
Kalau memang permintaan Harlan tidak bisa ditunda, maka ia dan pegawainya harus membuat rapat terlebih dahulu, untuk mengambil keputusan bagaimana jika perusahaan ia tinggalkan.
“Mereka tidak akan mati kalau kamu tinggalkan!”
“Memang, tapi tetap saja tidak bisa aku abaikan begitu saja!”
“Kamu harus belajar menjadi pemimpin perusahaan yang sebenarnya. Lalu, cari asisten.”
“Ya, aku tahu!”
“Kamu seharusnya bersyukur menjadi istriku!”
Harlan menceritakan bagaimana pengalamannya saat ia memimpin perusahaan untuk pertama kalinya, begitu ditinggalkan oleh sang ayah secara tiba-tiba.
Waktu berlalu tidak terasa, jalan yang mereka lewati sudah dekat ke arah rumah, dan Maisara merasakan kehangatan luar biasa, karena selama mobil berjalan, ia mendengar ceramah Harlan soal bisnis. Ini seperti kuliah gratis.
“Ayo! Kita makan baso dulu, aku pikir kau pasti capek sudah memberiku kuliah sepanjang jalan!” kata Maisara, perutnya tiba-tiba lapar karena panitia tidak menyediakan makan siang. Apalagi, Harlan sudah mengajaknya pulang. Padahal, makan baso adalah rencananya dan Lana kalau sudah selesai acara.
“Baso itu makanan apa?”
“Ya, makananku!”
“Tidak usah beli, bikin saja sendiri lebih sehat!”
“Tapi, yang di pinggir jalan lebih enak!”
Harlan tiba-tiba menghentikan mobilnya. Maisara seketika membuka jendela dan menoleh ke kiri-kanan jalan.
“Kenapa berhenti di sini? Tidak ada warung basonya!”
❤️❤️❤️❤️❤️