Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 97


Kabar Dari Sanaya


“Aku tidak tahu ... apa temanmu itu tahu atau tidak!”


“Baiklah, aku akan berkemas, tapi aku mau rapat sekarang!” kata Maisara sambil berdiri dan meninggalkan Harlan di ruangannya.


Setelah menyelesaikan urusan percetakan meisarah kembali ke kamarnya. Semua pegawai sudah setuju dengan keputusan yang diambilnya. Lana yang akan menjadi penanggung jawab untuk sementara waktu selama dirinya pergi. Beberapa hal yang biasa dikendalikan oleh Maisara, sudah diajarkan kepada Lana kecuali,.membuat sketsa.


Maisara memeriksa isi lemari di mana ia menyimpan ponsel lamanya di sana. Ia menyalakan benda itu dan seketika ia menemukan banyak sekali pesan dari beberapa orang yang mencarinya. Pesan serta panggilan yang terbanyak adalah dari Sanaya.


Namun, sahabatnya itu tidak pernah berhenti mengirim pesan. Sepertinya hadis itu yakin kalau suatu saat nanti pesannya akan terbaca. Pada setiap pesannya, Sanaya memberitahu perkembangan hubungannya, sejak beberapa bulan yang lalu, tepat di hari kepergiannya


Maisara menghubungi nomor itu dan ternyata masih aktif. Telepon langsung tersambung ketika terdengar satu kali nada panggilan saja.


“Maaaaiii! Kau kah itu?” tanya Sanaya dengan berteriak sangat keras di ujung telepon, sampai-sampai Maisara menjauhkan teleponnya dari telinga.


“Bukan! Aku hantunya!” jawab Maisara dengan tenang.


Namun, dari balik telepon justru terdengar suara tangisan keras Sanaya yang memilukan. Gadis itu menangis seperti bayi. Tiba-tiba suasana menjadi sangat emosional, Maisara pun ikut menitikkan air mata.


“Aku merindukanmu, Mai!” isaknya mengiba.


Sanaya sangat menyesali kepergian Maisara yang tanpa pesan, dan tidak diketahui di mana ia berada sekarang. Ia seperti mendendam pada sahabatnya itu. Setelah tangisan berhenti, barulah ceritanya mengalir seperti air sungai.


Sanaya tetap mencintai Sunni setelah tahu latar belakangnya, dan ia memang terlihat dengan Harlan, soal penjualan gedung Hansan Foundation waktu itu.


Sehari setelah kepergian Maisara dan ia tidak bisa menemukan sahabatnya di mana pun, ia menyalahkan Suni atas segalanya. Anehnya, karena begitu cinta pada Sanaya, Sunni pasrah walau disalahkan, atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Kepergian Maisara jelas tidak ada hubungannya sama sekali, dengan pria itu.


Bahkan, Suni diam saja saat Sanaya akan menangis tidak adanya setiap kali ingat Maisara, seperti anak kecil. Gadis itu menganggap bahwa ia telah membohongi Sanaya, sekaligus membuat masalah yang membuat sahabatnya pergi.


“Jadi, kau sekarang sudah siap punya anak, sampai kau menikahi Sunni?” tanya mesra begitu cerita dari Sanaya terhenti.


“Ya. Tentu saja, aku siap melahirkan berapa pun anak yang ia inginkan dariku!” kata Senayan sambil menghapus ingusnya, dan itu terdengar dari balik telepon


“Astaga kau ini bucin sekali!”


“Bagaimana denganmu, Mai? Kenapa kau tidak pernah menjawab komentarku? Padahal aku selalu mengirim komentar yang aku tulis khusus untukmu, waktu kau update komik?”


Sanaya tertawa, sebenarnya setiap kali ia menulis komentar dan melihat Maisara bisa update komik, itu sudah membuatnya bahagia. Walaupun Maihay tidak pernah menjawab, ia bisa mengetahui jika sahabatnya itu baik-baik saja. Ia hanya tidak tahu keberadaannya.


Maisara hanya menceritakan kepada Sanaya secara singkat tentang tempat tinggalnya yang sekarang dan juga percetakan yang ia buat di Kota Aspala. Namun, ia tidak menceritakan hubungannya dengan Harlan. Bahkan, sudah memiliki anak darinya, ia khawatir kalau sahabatnya itu akan syok.


“Jadi, sekarang kau sudah sukses dengan percetakan dan komikmu? Tapi kau sudah membuat tokoh Morodoki sangat mirip dengan Tuan Harlan. Apa kau tidak harus membayar kompensasi atau royalti padanya?”


“Ya. Aku membayarnya!”


“Berapa yang harus kau keluarkan untuk membayar orang seperti dia? Mai, kau sudah bermain-main dengan sesuatu yang seharusnya tidak dipermainkan!”


“Ya, sangat mahal! Karena dia bukan mainan!” Maisara tertawa terbahak-bahak setelah itu, dia hanya membayangkan jika Harlan benar-benar sebuah mainan, pasti lucu sekali boneka pria itu.


Ahk, seandainya boleh aku akan membuat bonekanya!


“Mai! Jadi kau pernah bertemu langsung dengannya? Apa kau juga bisa menjadi perantara kalau aku ingin bertemu dengannya?”


“Untuk apa? Dia bukan artis lagi pula, kita sudah tidak kuliah! Jadi, kita tidak memerlukan tanda tangannya, kan?”


Sanaya diam.


“Naya, kau bisa bertemu dengannya tapi tidak sekarang. Oh ya! Aku akan datang ke pesta pernikahanmu dan Sunni. Tunggulah, aku akan membuat kejutan untukmu, tapi aku harap kau tidak pingsan!”


“Apa karena tahu aku akan menikah kau baru meneleponku? Dasar kau ini, ya!”


“Haha! Maafkan aku!”


“Baiklah, aku akan menunggu kejutan itu di pestaku!”


Telepon ditutup setelah Maisara menyanggupi akan datang. Itu harus, sebab Sanaya sudah sangat rindu dan ingin bertemu dengan sahabatnya itu. Dalam pikirannya menganggap, mungkin kejutan Maisara adalah, dirinya sudah menikah dan punya bayi. Sanaya hanya tersenyum, ia tidak akan pingsan kalau hanya itu kejutannya.


Kisah seperti itu biasa terjadi, ketika seseorang pergi dan ketika kembali, ia sudah menikah dan memiliki anak.


❤️❤️❤️❤️