
Maisara Melahirkan
Asisten agak ragu untuk meninggalkan tempat itu, ia melihat nanar pada pengawal dan curamnya tebing secara bergantian. Lalu, pada akhirnya ia setuju pada permintaan pengawal Harlan dengan berseru, “Baiklah!”
Asisten pergi dengan mobil. Sementara pengawal terus merangkak turun ke bawah, dengan ponsel yang menyala di saku baju safari hitamnya. Setelah ia turun cukup dalam, akhirnya ia bisa melihat Harlan tergeletak di dekat tubuh Hansen yang berlumuran darah.
Ia segera mempercepat merangkak dalam kegelapan itu, hingga bisa menggapai tubuh majikannya yang tampak pingsan. Ia membalikkan tubuhnya dengan hati-hati, dan hatinya cukup lega saat meraba denyut nadi Harlan, yang masih berfungsi. Itu artinya ia masih hidup.
Air laut pasang mungkin akan terjadi sebentar lagi. Ia hanya berharap bantuan segera datang. Kalau mereka terlambat untuk menjemput Harlan, mungkin dirinya pun tidak akan selamat. Mereka bertiga bisa terseret arus deras dari gelombang laut.
Harlan masih dalam kondisi tak berdaya, tubuhnya dipangku oleh pengawal dengan posisi kepala berada di pundak pengawalnya. Pria itu kuat untuk menggendong tubuh Harlan di punggungnya kalau Medan yang harus ia lalui tidak curam. Dalam diam pengawal berpikir agar bisa keluar dari sana dengan selamat, tapi ia tak menemukan jalannya. Di sekelilingnya terdiri dari berbatuan curam yang siap memakan korban jiwa.
Kurang dari satu jam, akhirnya bantuan datang juga. Pengawal masih kuat menyangga hingga sebuah tali diturunkan padanya. Sebuah tangga tali juga ikut tergantung di sana dan seseorang turun dengan membawa sebuah kantung pengaman yang biasa digunakan untuk penyelamatan korban bencana. Dua orang itu segera memasukkan tubuh Harlan ke dalamnya, dan mengikatnya dengan kuat. Lalu, orang lain menarik kembali ke atas, setelah memastikannya aman. Sementara pengawal dan pria lainnya naik ke helikopter secara bergantian.
Mereka membawa Harlan ke rumah sakit, dan membiarkan tubuh Hansen yang sudah tak bernyawa. Asisten hanya memberitahu pada pihak keamanan setempat, tentang seseorang yang nekat berdiri dan terjatuh dari tebing sekitar satu jam yang lalu.
$$$$$$$$$
Sementara itu di rumah sakit besar Kota Aspala, seorang wanita tengah berjuang antara hidup dan mati. Sudah tiba waktunya bagi Maisara untuk melahirkan bayinya. Pada hari itu, usia kandungannya sudah genap sembilan bulan.
Sebelum masuk ruang bersalin, ia selalu bertanya pada ibunya tentang pertanyaan yang sama.
“Bu, apa Harlan sudah datang?”
Daina selalu menjawab dengan jawaban yang sama juga, “Belum, jangan khawatir... aku sudah menghubunginya. Konsentrasikan untuk melahirkan saja.”
Sejak pagi hari saat Maisara merasakan mulas yang hebat di perutnya, ia sudah mengirimkan pesan pada Harlan kalau dirinya mungkin akan segera melahirkan.
Sudah hampir sebulan mereka tidak bersua, sebab Harlan pergi untuk mengurus Mahespati yang sudah lama ia tinggalkan.
Maisara seperti biasanya, ia akan selalu bersikap acuh tak acuh pada suaminya itu. Terserah ia akan pergi ke mana.
Namun, hari itu, baik Maisara maupun Daina mengirimkan pesan dan juga melakukan panggilan pada nomor Harlan, secara berulang. Namun, keduanya tidak mendapatkan jawaban.
Sayangnya Maisara tidak bisa menanyakan pada siapa pun yang bisa membantunya untuk, mengabarkan tentang kelahiran bayinya di rumah sakit. Saat ia menghubungi nomor rumah yang biasa di pakai Hara, atau saat ia menghubungi Wendi, telepon kedua wanita itu tidak bisa dihubungi, hanya suara mesin yang menjawab bila si pemilik nomor sedang sibuk.
Pada akhirnya, Maisara pergi di antar oleh Lana ke rumah sakit, ditemani ibunya. Kebetulan ia masih berada di Hansan Foundation saat tanda-tanda melahirkan itu muncul. Ia memang akan berada di sana setiap kali Harlan tidak ada.
Dikarenakan ancaman Harlan waktu itu, Maisara tinggal serumah dengannya. Ia baru akan tinggal di Hansan Foundation jika Harlan pergi mengurus bisnisnya ke Kota Askanawa.
Beberapa jam sudah Maisara berjuang dengan segenap kemampuan, tenaga, darah, keringat dan air mata untuk melahirkan seorang manusia kecil tak berdaya ke dunia. Ia anak laki-laki yang manis dan sangat mirip dengan Harlan, berkulit putih dan montok.
Rambutnya lebat dan kulitnya bersih, suaranya sangat keras saat menangis, begitu ia menghirup udara yang berbeda dengan udara dalam rahim ibunya.
“Akan kau beri nama siapa bayi ini, Nyonya?” tanya seorang perawat yang akan memberi nama bayinya dalam boxs.
Maisara tidak pernah memeriksakan kandungan bersama Harlan. Bahkan, saat ia membicarakan tentang nama, pun pria itu tidak pernah menanggapinya dengan serius.
Akhirnya Maisara hanya memikirkan sebuah nama yang terlintas dalam benaknya.
“Nama yang bagus, cocok dengan nama Ayahnya!”
“Terima kasih.”
Daina bernapas lega, ketika melihat anaknya sudah dipindahkan ke kamar perawatan pasien biasa. Walaupun, itu kamar nomor satu, tetapi bukan kamar VIP seperti yang pernah ditempatinya bersama Harlan, saat ia diculik waktu itu.
Maisara masih terbaring lemah, karena itu ia harus istirahat total demi pemulihan pasca melahirkan. Boxs bayi ada di sebelah tempat tidurnya. Sementara Diana terus duduk di samping bayi dan tak bosan memandang wajah suci tak berdosanya.
Bagaimana mungkin bayi yang hanya melalui proses asimilasi bisa begitu mirip dengan ayah biologisnya?
Di alam bawah sadarnya, Maisara memupuskan harapan, ia tak akan mungkin lagi bersama Harlan. Pria itu tidak datang di saat ia akan melahirkan, menandakan jika dirinya tak peduli.
Pesannya terkirim tapi pria itu memilih untuk tidak menjawab. Ia menelepon—melakukan sesuatu yang jarang ia lakukan, tapi sekali lagi Harlan memilih mengabaikan. Jadi, mereka akan sulit bersama, apalagi sekarang Maisara punya anak kecil yang tidak diharapkan.
Maisara tidak bisa membayangkan akan seperti apa pernikahannya jika tetap berada dalam satu atap seperti sebelumnya. Tentunya mereka akan lebih sering bertengkar, karena ada anak kecil yang tak diinginkan kelahirannya.
Walaupun, Maisara selalu taat melayani Harlan jika mereka sedang bersama, semua atas dasar kesepakatan royalty dan kompensasi bisnis. Ia tidak merasakan Harlan perduli dengan perutnya yang semakin membesar. Mereka hanya bersikap seperlunya saja, walau tinggal dalam satu rumah sejak Harlan pindah ke sana.
Namun, pada akhirnya ia tetap mengharapkan kehadiran pria itu, di saat ia membutuhkan kekuatan dan dorongan antar pasangan. Ia merasakan betapa sakitnya pengorbanan untuk melahirkan satu nyawa manusia. Namun, di mana Harlan kini berada, ia tidak tahu.
Mungkin dia sengaja pergi ke Mahespati dengan alasan melihat bisnis perusahaan itu, padahal ia tahu aku akan segera melahirkan! Dia tidak menginginkan bayiku.
Saat terbangun, keesokan harinya, Maisara meminta Daina menghubungi Lana, ia ingin segera pulang dan merawat bayinya di rumah. Ia merasakan tubuhnya sudah lumayan segar dan bayinya pun sehat.
Lana tiba lebih cepat dari dugaannya. Lalu, gadis itu mendekati bayi mungil yang lucu. Ia mengeluarkan ponsel dan berniat untuk mengambil gambar
“Hai! Bayi Morodoki Law! Aku harus berswafoto, untuk pamer, kalau si Law Mori Can sudah lahir ke bumi! Astaga ... dia mirip sekali dengan ayahnya!” katanya penuh keceriaan.
Maisara sudah bersiap rapi dan Daina masih memberikan beberapa perlengkapan Maisara.
“Kau ini!” sahut Maisara sambil tersenyum. Ia masih duduk di sisi tempat tidur.
“Haha! Oh ya, pulang ke mana kita sekarang, Mai?” tanya Lana.
“Pulang ke Hansan saja!”
“Oh ya! Ada salam dari Putra. Apa kau tidak pernah bilang padanya kalau kau hamil dan sudah menikah?”
“Tidak! Dia tidak perlu tahu urusan pribadiku!”
“Mai, sebenarnya dia kemari, dan dia sangat kecewa padamu!”
“Kapan?”
❤️❤️❤️❤️
Jangan lupa like👍😊