
TAMAT
Pada saat pernikahan Sunni dan Sanaya, Harlan membuat kehebohan dengan hadir di sana, bersama Maisara.
Sanaya tahu kalau suaminya dekat dengan pria itu, tapi ia tidak mengundang bos perusahaan besar yang menjadi sahabat Sunni sejak dulu.
Begitu pula dengan Sunni, ia berada antara senang dan tidak enak karena pihak keluarga Sanaya tidak berkenan mengundangnya. Mereka merasa tidak pantas untuk mengundang salah satu keturunan dari Mahespati Prawira. Apalagi ia dengar kalau Harlan sakit setelah mengalami insiden yang membahayakan nyawanya.
Namun kehadirannya bersama Maisara, itu adalah sebuah peristiwa luar biasa.
Sanaya yang melihat kemunculan pria itu dan sahabatnya, pun sempat syok, jantungnya hampir kehilangan satu detakan.
Setelah acara peresmian hubungan mereka, ada jeda waktu untuk mengganti pakaian pengantin, sebelum memasuki area pesta dan kedua mempelai duduk di pelaminan.
Sanaya menarik tangan Maisara yang saat itu terlihat bagai peri tak bersayap, ia menyaingi kecantikan sang pengantin. Harlan pun, bak raja yang muncul secara tiba-tiba, pesonanya mengalahkan mempelai pria.
Mereka berada dalam ruangan yang berada di samping panggung, di sana tempat pengantin berganti baju.
“Ceritakan padaku, bagaimana kau bisa muncul dengan laki-laki itu?” tanya Sanaya sambil memegang pergelangan tangan Maisara.
“Ceritanya panjang!” saat itu Maisara tersenyum masam, ia sama sekali tidak ingin mengungkit peristiwa awal mula pernikahannya. Sangat pahit untuk diceritakan pada Sanaya, di hari bahagianya itu.
“Aku punya waktu!” tukas Sanaya sangat penasaran.
“Tidak sekarang, lain kali saja, aku tidak ingin merusak suasana pestamu!”
“Jangan bilang kau sudah punya anak juga!”
“Ya! Aku punya!”
Sanaya tercengang, kalau Maisara dan Harlan sudah punya bayi, itu artinya pernikahannya sudah terjadi sebelum sahabatnya itu pergi.
“Apa karena dia kau pergi waktu itu?” tanyanya lagi.
“Ya! Maafkan aku!”
“Mai! Kau menghianati kepercayaanku! Aku sebagai sahabat, apa tidak bisa berbagi beban denganmu nanti kalau aku punya masalah dengan Sunni?’
“Bagaimana bisa begitu, katakan saja kalau aku bisa membantu!”
“Tapi, kau juga memikul masalahmu sendiri!”
“Aku mempertimbangkannya, apakah aku akan berbagi beban denganmu, tapi masalahku menyangkut orang seperti Harlan, aku tidak bisa membukanya sembarangan!”
“Kalau begitu, kau berhutang cerita padaku ... oh ya! Dan hadiahnya harus dobel, oke?”
“Tentu, aku membelikan ini untukmu!” kata Maisarah sambil mengeluarkan bingkisan kecil dari dalam tasnya itu adalah sepasang cincin dan gelang dari mutiara Lombok yang terkenal itu.
“Mai! Ini bagus sekali terima kasih!”
“Itu tidak seberapa dibandingkan persahabatan kita!”
“Aku tahu! Kau pantas memiliki dan menikah dengan idolaku!”
Maisara tersenyum, ia tahu bahwa Harlan adalah, salah satu idola dari Sanaya. Sungguh, mengidolakan seseorang bukan berarti tidak mencintai suaminya, kan? Hal itu biasa terjadi pada kebanyakan wanita yang mencintai para artis pria, tapi bukan berarti tidak mencintai suami mereka.
“Ya. Terima kasih juga, aku akan membuat cerita pernikahanku, khusus untukmu aku akan mengirimkannya nanti melalui pesan jangan penasaran, ya!”
Sementara Maisara duduk sambil menikmati makanan yang di ambilkan oleh Harlan untuk dirinya. Pria itu mengambil dalam jumlah banyak dengan alasan, ia harus membagi makanannya dengan Mahes.
Maisara membuat rangkuman kisah pernikahannya dengan Harlan, berupa file word, dan ia kirimkan melalui pesan. Ia berharap, cerita yang ia tulis lebih mudah di pahami oleh Sanaya dan tidak memakan banyak waktu juga.
“Apa itu bayimu?” tanya Lepi dan Taupan hampir bersamaan. Fedi juga ada di sana.
Saat itu mereka duduk dalam satu meja, para sahabat saling bertemu dan menyapa, sedangkan Harlan menunjukkan foto Mahes dan Maisara di galeri ponselnya. Mereka sudah menghabiskan makanan dan hanya segelas jus di tangan mereka masing-masing.
“Ya!” sahut Harlan antusias, “Bayiku tampan, kan?”
“Kalau itu memang bayimu, dari mana kau mengeluarkannya?” tanya Lepi yang disetujui Taupan. Fedi pun mengangguk.
“Apa kalian benar-benar ingin tahu?” tanya Harlan sambil mengerutkan keningnya dan memasukkan ponsel ke saku bagian dalam jasnya.
“Ya!”
“Bawa sarung tinju kalian besok, kalian bertanding melawanku satu persatu, baru aku akan memberitahukannya, dari mana bayi itu keluar!”
Tentu saja Lepi, Taupan dan Fedi, sama-sama tersenyum masam, tantangan itu seperti sudah jelas siapa pemenangnya. Ya, dengan kata lain, mereka tidak akan mendapatkan jawabannya.
Padahal, Lepi hanya mengetes sahabatnya saja. Ia pikir Harlan akan menjawab, dengan kelakar pula jika bayinya ia keluarkan dari lututnya.
Kalau Harlan berkata seperti itu, artinya mereka bisa dengan bebas bercanda di hadapannya.
“Kapan akan kau bawa Mahes ke kantor dan kita akan mengajari dia bisnis sejak kecil!” kata Fedi.
“Nanti! Belum saatnya anak itu di sentuh tangan kalian, aku tidak mau dia terserang penyakit!”
“Harlan! Kami bukan kuman!” ketus Fedi berkata. Namun, ia tahu dan semua sahabat itu tahu kalau Harlan tidak membenci anaknya, meskipun ia tidak menyukai anak-anak. Akhirnya ketakutan mereka jika Maisara melahirkan, tidak benar. Hal itu membuat mereka lega dan wanita itu akan baik-baik saja.
Setelah acara ramah-tamah itu selesai, saatnya para sahabat memberi ucapan selamat pada kedua mempelai.
Mereka adalah pengantin yang mendapatkan hadiah besar, dengan kehadiran Harlan dan istrinya. Itu sebuah kejutan besar bagi media.
Harlan adalah pria yang pertama berjalan mendekati Sunni di susul dengan Lepi, Taupan dan Fedi, masing-masing dengan pasangannya.
Setelah itu mereka berfoto bersama.
“Ayo! Katakan cees!” seru juru foto, dan disambut dengan semangat tapi elegan oleh para pria itu.
“Cees ...!” sahur mereka bersamaan seraya menggunakan ekspresi dan gaya terbaik.
“Semoga kalian bahagia!” kata Maisara saat menyalami Sanaya.
“Kau juga, Mai!” ucap Sanaya lalu, mereka berpelukan.
“Ya. Kebahagiaan adalah milik kita!”
TAMAT
TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA CERITAKU, SEMOGA TERHIBUR, SAMPAI BERTEMU DICERITA BERIKUTNYA. JANGAN LUPA TERSENYUM DAN BAHAGIA!
Salam dariku El Geisha Tin
❤️❤️❤️❤️