Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 88


Apa Kamu Suka?


“Terima kasih!” kata Harlan begitu mereka sampai di dalam, ia meletakkan payung di lantai tanpa melepaskan belitan tangannya di pinggang Maisara.


“Apa kamu bilang?” Maisara bertanya karena ucapan Harlan sangat lirih, ia ingin mendengar lebih jelas, kalau-kalau ia salah jika dalam pendengarannya Harlan mengucapkan terima kasih.


Aku tidak salah dengar, kan?


Harlan tidak menjawab pertanyaan Maisara, ia justru melingkarkan satu tangan lain ke pinggang istrinya itu.


“Kau seperti bidadari tadi ...,” katanya, di dekat telinga Maisara. Pakaiannya ikut basah karena menempel pada baju Harlan.


“Masa? Tapi aku bukan bidadari!” sahut Maisara. Sebenarnya di dalam hatinya bergejolak, apakah ia harus menangis ataupun bahagia mendengar pengakuan Harlan. Siapa yang tidak senang jika dirinya dianggap bidadari, di mata seorang laki-laki yang ia cintai. Hanya saja Harlan terkadang berbeda, dari ucapan dan tindakannya, hingga membuat gadis itu tidak percaya.


Apakah Harlan mencintainya dengan tulus atau hanya ingin menindasnya saja. Pria itu sering memberinya harapan terlalu tinggi, tetapi kemudian dihempaskan lagi, seperti yang baru kemarin ia alami.


Maisara begitu senang ketika Harlan mengatakan jika rumah barunya yang ada di sekitar PT seribu Janji adalah milik mereka. Namun, setelah ia berbunga-bunga, Harlan justru meninggalkan tanpa kabar selama berbulan-bulan.


Bukankah itu menyakitkan? Setelah aku merasa bahagia dia justru menyakitiku dengan mudah!


“Bidadari itu tidak ada di sini!” katanya lagi.


“Oh! Jadi, ke mana perginya bidadari yang aku lihat tadi?” tanya Harlan.


“Entah! Kamu mungkin salah lihat, kamu saja aku kira hantu!” kata Maisara, sambil menyembunyikan tawanya.


Harlan berdecap keras, karena kesal. Baginya Maisara tidak peka dengan isyarat bahwa dirinya begitu senang bisa bertemu. Ia pun melepaskan pelukannya, kini tangannya beralih ke dagu istrinya dan kembali berkata, “Apa kamu tidak rindu sama aku?”


Maisara diam, ia berpikir apakah ia harus jujur atau tidak. Bohong kalau tidak rindu. Setelah ia melahirkan, ia menghabiskan waktu semalaman dengan menangis. Perbuatannya itu tidak diketahui oleh siapa pun, termasuk ibunya yang tidur di sofa kamar rawat inapnya waktu itu.


Ia begitu menginginkan laki-laki itu hadir di sampingnya. Walaupun, Harlan tidak pernah mengucapkan kata cinta atau menginginkan anaknya, tapi ia tetap merindukan sentuhan lembutnya.


Maisara tidak tahu apakah perasaan yang hadir di hatinya itu sama, dengan keinginan setiap istri yang akan melahirkan anak dari suaminya. Rasa ingin diberi semangat dan diberi sentuhan kekuatan begitu dominan. Namun, ia sangat sedih, karena orang yang telah membuatnya hamil itu tidak ada. Ia ingin pria itu pun merasakan juga, betapa sakitnya melahirkan seorang bayi ke dunia.


Maisara tertegun, hingga membuat Harlan gemas dan meluapkan perasaannya itu, dengan memberi ciuman kuat di bibir yang sedikit terbuka.


Tiba-tiba suasana ruang kosong dan setengah temaram karena tidak banyak lampu yang menyala itu, menjadi hangat. Pakaian yang basah tidak dipedulikan lagi. Seolah kering oleh kehangatan ciuman mereka.


Aktivitas menumpahkan rasa rindu yang tidak diakui itu terhenti, karena tangisan bayi dari kamar Maisara. Daina melihat tingkah mereka berdua dan tidak berani mengganggu. Namun, tangisan Mahes menyadarkan mereka agar melanjutkan cumbuan setelah berganti pakaian, serta di tempat yang benar, bukan di tempat mereka sekarang.


Aroma yang melingkupi dirinya sedikit berbeda, agak lembut dan terkesan romantis tapi memikat. Itu aroma yang terkesan ringan serta, menyenangkan dari aroma sebelumnya. Walaupun, wangi yang biasanya sangat maskulin dan menggoda, ia tetap suka wangi parfum baru yang dipakainya sekarang. Padahal, aroma lama itu begitu kuat menempel di hidungnya.


“Ya. Ini wangi yang baru dikeluarkan oleh mereka, apa kamu suka? Kalau tidak suka, aku akan menggantinya!”


Maisara tercengang, ia tidak tahu kapan awal mula pendapatnya, suka atau tidak, menjadi ukuran bagi Harlan untuk memutuskan sesuatu.


“Ya. Aku suka! Pakai saja!” kata Maisara sambil berjalan perlahan menuju kamar.


“Apa itu artinya mereka berhasil?” sahut Harlan mengikuti di belakang, sambil melepaskan mantelnya yang basah.


“Apa maksudmu?”


“Dulu mereka bertanya, bagaimana perasaanku sebelum mereka menciptakan sebuah aroma. Aku katakan saja apa yang aku rasakan dan mereka berhasil membuat parfum yang dulu sering aku pakai, dan aku menyukainya!”


Maisara tidak berkomentar, hingga Harlan melanjutkan bicara.


“Dan saat mereka mau mengeluarkan parfum baru lagi, mereka pun mewawancaraiku dan aku katakan saja bagaimana perasaan aku sama kamu, dan wangi inilah yang mereka ciptakan!”


Lagi-lagi Maisara tercengang, bagaimana seseorang menciptakan wangi parfum hanya berdasarkan perasaan Harlan. Apakah ia pemiliknya? Ah yang benar saja!


Maisara tersenyum kecil lalu bergema, “Oh! Aku terharu.”


Dua orang itu tiba di kamar Maisara yang kosong, karena Daina membawa bayi Mahes ke kamarnya. Tidak terdengar lagi suara tangisan bayi kemungkinan ia sudah tidur.


“Aku mau menginap di sini!” tanya Harlan sambil membuka pakaiannya yang basah.


“Tidak ada tempat buat kamu malam ini!” kata Maisara sambil menyiapkan pakaian Harlan yang ada di lemarinya.


“Apa kau tega mengusirku?” Harlan berkata, sambil menghentikan membuka ikat pinggang.


“Kenapa tidak? Tempat tidur ini sudah penuh untukku dan Mahes, kalau kamu mau menginap ... tidur saja di luar!”


❤️❤️❤️❤️


Bersambung dulu ya, jangan lupa like! 👍❤️🥰