
Poster Mirip Sang Pembenci
Sementara itu, satu tangan Caca secara perlahan bergerak ke dalam tasnya berusaha untuk menekan layar ponsel. Ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan padahal layar ponsel itu pun tidak bisa dilihatnya.
Saat mobil yang dikendarainya berhenti, Caca mendapatkan dirinya baik-baik saja hingga ia merasa sedikit lega, karena para pengawal ataupun Harlan, tidak melakukan kekerasan secara fisik pada dirinya.
Ia pun mengikuti para pengawal yang sudah membukakan pintu untuknya. Mereka berjalan beriringan menuju sebuah bangunan lama dan terus menuju lorong panjang, semua gerakan rombongan kecil itu mengikuti Harlan.
Sampai di ujung lorong, terdapat sebuah kursi kayu dan Harlan menunjuk dengan jari agar gadis itu duduk di sana.
“Duduk!” suara Harlan keras dan ketus saat bicara, karena melihat Caca yang tidak juga menuruti perintahnya. Gadis itu hanya bergeming dengan kaki yang gemetar, sambil menatap kursi di hadapannya penuh ketakutan.
Wajah khas anak remaja itu seketika sepucat mayat, keringat tampak membasahi rambut dan kulitnya. Semua orang yang ada di sana bisa melihat tubuh gadis itu bergetar hebat dikuasai oleh rasa takut.
“Apa kau takut?” tanya Harlan sedikit menunduk agar sejajar, untuk melihat ke wajah gadis itu.
Begitu polosnya Caca, hingga ia mengangguk.
“Bagaimana kalau sekarang posisimu digantikan oleh ayahmu, apa Kau rela?”
Caca menggelengkan kepalanya.
Semua anak buah yang ada di sana sebenarnya tidak mengerti mengapa Harlan bersikap demikian pada Caca. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti keinginan majikan mereka.
Caca kembali berlutut di hadapan Harlan, ia sangat lemas dan kembali menangis. Ia memohon ampunan, sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada. Semua barang yang dibawanya tadi, ia biarkan tergeletak di lantai yang kotor.
“Maafkan saya, Pak!” katanya.
“Memangnya apa salahmu sampai kau mau minta maaf?”
“Karena aku ayahmu tiada, aku tidak bisa mengambil nyawanya dan aku pun tidak memintanya untuk menolongku waktu itu!” ucap Caca dengan suara penuh penyesalan. Ia benar, semua takdir yang terjadi atas dirinya dan Harlan, sama sekali bukanlah keinginannya.
Jadi, kini semua orang akhirnya tahu mengapa Harlan harus menghentikan mobil demi gadis itu, tapi mereka yang ada di sana juga tahu kalau takdir tentang kematian tidak akan ada yang mampu mengubahnya.
Harlan tahu soal itu tanpa dijelaskan oleh Caca, tapi ia marah bukan karena masalah itu saja melainkan gadis itu seperti penguntit baginya. Ia sudah lama membiarkan gadis itu bersikap seperti mata-mata. Namun, begitu ia mengetahui jika Caca adalah anak kecil yang dulu ditolong oleh ayahnya, sehingga sang ayah meninggal dunia, maka ia ingin sekali menyudahinya.
“Dengar! Sampai kapan pun aku akan tetap membencimu dan tidak akan bisa memaafkanmu ...! Kau pikir mudah kehilangan ayah? Bayangkan kalau itu kau! Karena ayahku pergi, aku jadi menanggung beban seberat dan menanggung semuanya sendiri! Semua itu karena kau!”
Harlan berteriak besar ia meninju dinding di samping karena pikirannya masih waras ia tidak mungkin memukul anak-anak. Kalau saja yang ada di hadapannya itu seorang laki-laki dewasa, mungkin kepalan tangan yang kuat itu akan menghantamnya.
“Jadi apa yang harus aku lakukan, agar aku bisa menebus kesalahan itu dan juga menghilangkan kebencianmu padaku, Pak?”
“Tidak ada!” Harlan memalingkan muka sambil mendengus kesal.
“Kau hanya perlu pergi dari kehidupanku, jangan lagi menguntitku atau menyelidiki ke mana aku pergi, atau apa pun yang kau lakukan selama ini, berhentilah! Jangan berharap untuk mendapatkan maaf dariku karena itu tidak akan pernah terjadi!”
Harlan mengambil napas berat lalu, kembali berkata, “Ingat! Aku akan membencimu seumur hidup dan pergi yang jauh, Jangan menampakkan diri di hadapanku, apa kau mengerti?”
Harlan ingin pergi setelah berkata, tapi secara tidak sengaja, ia melihat selintas sebuah poster tokoh kartun yang dibawa Caca. Seketika ia membelalakkan matanya, sebab ia seperti melihat lukisan wajahnya di sana.
Harlan menggeser poster itu dengan ujung sepatunya yang mengilat agar ia bisa melihatnya lebih jelas.
“Apa itu lukisanmu?” tanya Harlan dengan wajah sedikit serius. Ia biasanya abai akan hal-hal kecil seperti itu, tetapi ia penasaran kenapa ada poster tokoh kartun yang wajahnya benar-benar seperti dirinya.
Caca diam, ia melirik pada poster dan wajah Harlan secara bergantian. Kemudian tersadar jika poster itu memang berwajah mirip sekali dengan pria yang membencinya. Degup jantung yang semula belum mereda, kini berdetak lebih cepat lagi. Gadis itu khawatir gambarnya akan membuat kemarahan yang lebih besar.
“Bukan!” jawabnya tegas, Caca berkata jujur.
Benda itu adalah sebuah poster yang ia beli untuk dijadikan contoh lukisannya hari ini. Sebuah hasil karya penulis idola dan komik kesukaannya. Salah satu karyanya yang sangat terkenal. Bahkan, posternya yang bertuliskan nama dan tanda tangan dengan tinta emas sang pembuat komik, harganya sangat mahal. Ia sudah memilikinya dan gambar dalam ukuran paling besar ia tempel memenuhi salah satu bagian dinding di kamarnya.
“Kalau bukan kau, lantas siapa yang membuatnya?” tanya Harlan.
❤️❤️❤️❤️