Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Ch 3. Bengkel


Gilang merebahkan tubuhnya di sofa dengan mata terpejam.


"Baru pulang Lang?" tanya Pak Ahmad berjalan menghampiri keponakannya, lalu duduk di hadapan Gilang.


"Iya Paman, Gilang hari ini sial sekaligus kesal dengan cewek itu. Dia gak mau membayar ganti rugi setelah menabrak mobil," ujar Gilang keceplosan setelah menceritakan bahwa mobil milik pamannya di tabrak oleh seorang gadis.


"Apa kamu bilang! Mobilku ditabrak seorang gadis! Lalu, kamu diam saja setelah apa yang terjadi!" teriak Pak Ahmad dengan reaksi terkejutnya dan berjalan keluar menuju halaman rumahnya.


"Maaf Paman, Gilang kira cewek itu akan menurut setelah ku ancam. Tetapi, Gilang salah mengira. Ternyata cewek itu sedikit bar-bar, Paman!" terang Gilang berjalan mengikuti pamannya keluar rumah seraya menceritakan perdebatannya dengan gadis itu.


"Harusnya kamu laporin saja ke kantor polisi biar dia jera," sahut Pak Ahmad seraya meraba mobilnya yang sedikit lecet.


"Terus, kamu gak ikutin cewek itu kemana perginya?" timpal Pak Ahmad lagi.


"Enggak, Paman."


"Dasar bodoh! Lihat cewek cantik diam saja kamu," Pak Ahmad menggelengkan kepalanya pelan akan sikap keponakannya yang playboy itu.


"Hehehehe," Gilang hanya cengengesan menampakkan deretan giginya yang putih.


Pak Ahmad segera masuk kembali kerumah dengan santai dan mengambil tas di kamarnya. Lalu, keluar kamar berjalan ke depan.


"Ayo, ikut Paman," ajak Pak Ahmad pada Gilang yang diam berdiri di samping mobil.


"Kemana Paman?"


"Ke kafe, lihat cewek cantik," ujar Pak Ahmad masuk ke mobil begitu saja.


"Wah, beneran Paman. Bolehlah kalau yang begini. Apa nanti Bibi gak akan marah kalau ketahuan pergi ke kafe mencuci mata, Paman!" sahut Gilang masuk ke mobil duduk di samping pamannya.


Pak Ahmad hanya diam saja dan melajukan kendaraannya keluar rumah membelah jalanan menuju bengkel.


Satu jam perjalanan di tempuh, mobil Ahmad sampai di depan bengkel langganannya.


"Loh, Paman! Kok, ke bengkel? Katanya ke kafe?" Gilang mendongak menatap bengkel di depannya dan baru menyadari kalau dirinya sudah di bohongi oleh pamannya sendiri.


"Siapa yang bilang ke kafe?" kilah Pak Ahmad keluar mobil menghindari Gilang yang banyak bertanya.


"Paman sendiri yang bilang," seru Gilang ikut turun dari mobil menyusul pamannya bertemu dengan pegawai bengkel.


"Bintang, tolong benerin cat mobilku yang lecet ya?" pinta Ahmad pada pegawai itu.


"Siap, Pak Ahmad. Beres!" sahut Bintang tersenyum lebar pada langganan tetapnya itu.


"Baiklah, kalau begitu aku tinggal pulang. Kalau sudah selesai hubungi aku Bin," ucap Pak Ahmad kepada Bintang pegawai yang selalu menyelesaikan pekerjaannya dengan teliti dan cepat itu.


"Siap, Pak Ahmad."


Sedang Gilang hanya mengekor kemana pamannya itu melangkah.


"Kamu ngapain di belakang Paman, Lang?" heran Pak Ahmad melihat keponakannya itu berjalan keluar mencari taksi.


"Lah, 'kan Paman yang ngajak Gilang! Gimana sih?" Gilang menggarukkan kepalanya yang tidak gatal dengan bingung dan mengikuti pamannya keluar bengkel.


Setelah mendapat taksi, Ahmad memberitahukan alamatnya kepada sang sopir dan melajukan kendaraan menuju rumah istananya.


*


Ratna telah sampai di rumah beberapa saat yang lalu.


"Mbak Rat, kenapa dengan sikutmu?" tanya Frida kaget melihat tangan kakaknya yang di balut plester lalu duduk di sebelahnya.


"Hanya luka kecil, tadi tidak sengaja jatuh terpeleset di rumah Devi saat akan pulang," ujar Ratna berbohong pada adiknya agar tidak khawatir.


"Oh, syukurlah," sahut Frida kembali menonton televisi.


Sedang Bu Yuli mengikuti pengajian di rumah temannya bersama suaminya Adam.


"Mbak ke kamar dulu ya Frid, mau ganti baju," Ratna beranjak berdiri meninggalkan adiknya sendiri di ruang tamu.


Di kamar, Ratna merebahkan tubuhnya yang lelah setelah berdebat panjang dengan lelaki tadi, ditambah lengannya yang sakit berdenyut nyeri.


"Duh, sakit banget! Ini gara-gara lelaki itu, males banget kalau ketemu di kampus besok," gumam Ratna berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci tangan dan kaki.


Keluar kamar mandi, Ratna segera mengganti bajunya dengan pakaian tidur kesayangannya.


Setelahnya, Ratna keluar kamar untuk makan malam bersama Frida.


"Frida, Ayah sudah pulang belum?" tanya Ratna mengunyah nasi ke mulutnya.


"Sudah Mbak, Ayah sampai di rumah saat Mbak Ratna keluar mengantar Mbak Devi tadi," jawab Frida dan Ratna hanya menanggapinya dengan ber Oh ria.


Selesai makan malam, Ratna dan Frida duduk berdua di ruang tamu seraya menunggu kedua orang tuanya pulang.


Ratna pun tak lama pergi meninggalkan Frida yang kembali menonton televisi acara drama sinetron kekinian untuk duduk di teras rumah karena ingin menghubungi sahabatnya.


"Assalamualaikum Ero," sapa Ratna duduk bersila di kursi panjang.


"Waallaikumsalam Ratna, sahabatku yang cantik, imut nan bawel," balas Ero terkekeh di seberang ponsel.


"Astaga, nggak bawel aku, tetapi cerewet," sahut Ratna ikut tertawa setelah berucap.


"Ada apa nih? Tumben telepon! Pasti mau curhat ya?" tanya Ero yang seakan tahu kalau sahabatnya ini menghubunginya di saat lagi galau.


"Kok tahu sih Ro! Kamu dukun ya?" protes Ratna pada Ero.


"Jadi, beneran mau curhat!" Ero tak menyangka kalau tebakannya benar.


"Iya nih? Tadi ada cowok ngeselin di jalan plus resek," ujar Ratna yang mulai menceritakan kejadian tadi sore pada Ero.


"Apa! Jadi, dia Kakak senior di kampus kita? Kamu gak tahu namanya? Seperti apa dia?" Ero bertanya terkejut setelah mendengar cerita dari Ratna.


"Belum tahu Ro! Tetapi aku tahu wajahnya. Setelah berdebat panjang, aku pergi mengantar Devi pulang meninggalkan lelaki itu begitu saja," jawab Ratna masih begitu kesal dengan kejadian yang menimpanya.


"Baiklah, besok aku jemput jam 8 pagi sekalian berangkat bareng ke kampus," titah Ero yang penasaran dengan sosok lelaki itu.


"Oke, besok aku tunggu. Ya sudah, aku tutup teleponnya. Mau belajar yang rajin. Assalamualaikum," kata Ratna menyudahi obrolan mereka.


"Waallaikumsalam."


Ratna pun masuk ke rumah dan melihat adiknya tetap fokus menonton televisi sambil berderai air mata.


"Ngapain kamu nangis Frid?" heran Ratna melihat adiknya.


"Itu Mbak Rat, suaminya selingkuh tepat di depan mata istrinya dengan tersenyum licik," kata Frida mengusap air matanya dengan tisu.


"Halah, lebay amat sih, Frid! Sinetron kok dianggap serius, sampai nangis-nangis pula," ujar Ratna menggelengkan kepala, lalu berjalan menuju kamarnya.


"Eh, Mbak Ratna jangan salah. Dunia nyata juga banyak kali sepasang suami istri selingkuh," teriak Frida menyahut perkataan kakaknya.


Ratna tak menghiraukan ocehan adiknya itu, dirinya hanya ingin segera tidur agar besok bangun lebih segar.


Tak lama, kedua orang tua Ratna dan Frida sampai di rumah setelah mengikuti acara pengajian. 


"Assalamualaikum," sapa Bu Yuli membuka pintu rumahnya diikuti Adam dari belakang membawa bingkisan.


"Waallaikumsalam," sahut Frida berdiri menghampiri ibunya.


"Sendirian saja, Nak?" tanya Bu Yuli duduk di sofa di samping Frida.


"Iya, Bu. Mbak Ratna ada di kamarnya sedang belajar," jawab Frida melihat bingkisan yang diletakkan oleh ayahnya.


"Kamu sendiri gak belajar Frid, malah lihat sinetron," timpal Pak Adam menyahut perkataan anaknya itu.


"Hehehe. Gak Ayah, besok 'kan ujian kelas 3. Jadi, kelas 1 dan 2 libur," kata Frida dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya.


Ketiganya mengobrol bercanda tawa tanpa Ratna yang sedang tidur di kamarnya hingga larut malam.