
Di rumah Ratna.
"Ayah, kita belanja kebutuhan yuk? Sekalian jalan-jalan," pinta Bu Yuli pada suaminya dengan manja.
"Ayo, kita sudah lama tidak jalan bareng sama anak-anak," sahut Adam mengusap pucuk kepala istri tercinta.
"Beneran ini, Yah?"
"Iya. Panggil anak-anak untuk bersiap-siap."
"Terimakasih, Papa," Bu Yuli langsung mencium pipi suaminya dan membuat empunya terkejut mendapat serangan dadakan dengan memegang pipinya lalu tersenyum.
Bu Yuli segera beranjak berdiri menemui kedua anaknya di kamar mereka. Sedang, Pak Adam menuju kamar untuk mengganti pakaian juga mengambil dompet di kamarnya.
Bu Yuli membuka pintu seraya berucap, "Anak-anak! Kalian, siap-siap ganti pakaian? Kita jalan-jalan malam ini," pinta Yuli sekaligus mengajak keduanya untuk bersenang-senang.
"Yeeyy, tos! Oke, Bu!" teriak kedua anaknya melompat kegirangan di kasur dan melakukan gerakan tos di tangan mereka.
Bu Yuli hanya menggelengkan kepala pelan dengan senyum mengembang di kedua sudut bibirnya dan menutup pintu kamar untuk kembali ke kamarnya.
Ratna dan Frida membuka lemari masing-masing. Mereka memilih beberapa baju dan melemparnya ke kasur bila dirasa tidak cocok. Beberapa menit mereka masih saling mencocokkan baju yang pas di badan. Hingga, Frida menemukan baju sesuai seleranya.
Sedang, Ratna masih bingung memilih baju yang mana sesuai keinginannya. Padahal ini hanya jalan-jalan biasa bukan ke acara pesta. Tetapi, Ratna sangat detail bila tidak sesuai keinginannya. Frida melihat kakaknya belum menemukan baju yang pas hanya menoleh sekilas tanpa mau membantunya.
"Sudah Mbak, pilih yang mana saja. Orang cuma jalan-jalan, kok ribet amat kayak mau lamaran saja," celetuk Frida yang sedang memoles bedak di wajahnya.
"Mbak, bingung Frida. Soalnya, baju bagus semua dan mau pilih yang mana?" Ratna bingung setelah menemukan 3 baju, tetapi warnanya juga suka. Dirinya bingung memilih di antara warna krem, navy atau black.
"Mbak, pakai baju apa saja tetap cantik kok?" ucap Frida yang sudah selesai make up.
Dengan ragu, Ratna akhirnya memilih warna krem dan segera memakainya karena tak ingin Ayah dan ibunya lama menunggu.
Di ruang tamu, Pak Adam dan Bu Yuli sudah selesai berdandan, hanya duduk menunggu kedua anaknya keluar kamar. Tetapi hingga 10 menit mereka belum keluar kamar.
"Kenapa mereka lama sekali, Yah?" ucap Bu Yuli menoleh ke belakang menatap kamar anaknya.
"Sebentar lagi mereka juga keluar. Sabar saja dulu," ujar Pak Adam menatap layar ponselnya.
Baru juga dibicarakan, pintu kamar terbuka. Ratna dan Firda keluar kamar saling menyenggol karena berdandan sangat lama.
Pak Adam dan Bu Yuli menoleh saat mendengar suara kegaduhan di antara mereka.
"Kamu sih, Mbak lama banget dandannya. Ayah sama Ibu jadi lama menunggu!" kesal Frida berucap saat turun dari tangga menghampiri orang tuanya.
"Kamu juga, kenapa gak bantuin Mbak tadi milih baju. Malah berdandan duluan!" balas Ratna tak kalah kesal sama adiknya saat berdiri di depan kedua orang tuanya.
"Ini, ada apa? Kenapa kalian ribut sendiri? Ayo, jalan! Keburu malam," pinta Pak Adam berjalan keluar ke depan menuju mobil. Keduanya terdiam dan mengikuti dari belakang lalu masuk ke mobil.
Kembali ke keluarga Gilang.
"Tau begini, Gilang ngajak cewek dah! Biar gak dikira jadi obat nyamuk!" gerutu Gilang dengan wajah cemberut. Akan tetapi, tetap melangkah mengikuti kedua orang tua itu memasuki Mall.
Saat ketiganya berjalan melihat suasana Mall, keluarga Ratna baru saja sampai di Mall dan memarkirkan mobil.
Mereka semua keluar mobil bersamaan, lalu masuk ke Mall bergandengan tangan menuju tempat menjual semua bahan dapur dan lainnya.
"Ayah, Ibu. Ratna dan Frida, jalan-jalan dulu mau beli baju. Nanti, ketemuan di restoran saja ya?" ucap Ratna tiba-tiba pada orang tuanya.
"Oke. Nanti, kalau sudah selesai hubungi Ayah," ujar Pak Adam.
Ratna dan Frida mengangguk kompak dan berlalu pergi setelah berpamitan untuk menuju toko pakaian. Pak Adam dan Bu Yuli memiliki kesempatan untuk berduaan.
"Gak nyangka ya, Ayah. Kita jadi kencan berdua lagi seperti waktu muda dulu?" kata Bu Yuli mengingat masa mudanya dulu pacaran dengan Adam.
"Ya, Bu. Tetapi, Ayah makin heran? Wajah Ibu ini semakin hari kok semakin muda dan cantik ya? Rahasianya apa sih, Bu?" puji Pak Adam seraya tertawa ingin merayu istri tercinta.
"Ayah, ini bisa saja kalau merayu!"
Di tempat lain, Gilang merasa bosan karena seperti satpam menjaga pasangan di depannya itu tanpa memikirkan perasaan keponakannya.
Sedang, kedua pasangan orang tua labil itu hanya sibuk mengobrol berdua tanpa mengajak bicara keponakannya yang ganteng ini.
"Paman, Bibi. Kalau begini, Gilang jadi nyesal ikut kalian berdua! Dari tadi dicuekin terus!" protes Gilang melihat keromantisan Paman dan bibinya.
"Salah sendiri ikut. Paman, sengaja membuat kamu iri dan merasa panas melihat keromantisan kita berdua," sahut Pak Ahmad menjawab seadanya membuat Gilang menangis pilu dalam hati meratapi kesendiriannya saat ini.
"Bibi! Paman jahat sama Gilang!" rengek Gilang dengan menghentakkan kaki karena pamannya selalu saja menjahilinya disetiap kesempatan.
"Pa, sudah dong menggoda Gilang, kasihan anak orang kamu buat menangis terus," pinta Bu Salma pada suaminya agar jangan menggoda keponakannya itu.
Pak Ahmad pun hanya mencebikkan bibir menatap Gilang dan Bu Salma mengusap bahu keponakannya agar jangan termakan kata-kata suaminya. Mereke pun melanjutkan perjalanan untuk berbelanja di toko satu ke toko yang lainnya.
Saat sedang berjalan, Gilang tak sengaja melihat wanita yang dikenalnya juga berada di Mall ini.
"Pucuk Dicinta Ulam pun Tiba. Ternyata, dia disini juga? Lalu, siapa gadis di sampingnya itu?" ucap Gilang melihat gadis itu.
Akhirnya, Gilang berpamitan kepada kedua orang tua tersebut dengan alasan pergi ke toilet. Padahal, dirinya mengikuti kedua gadis itu dari belakang karena penasaran dengan gadis bernama Ratna yang telah membuatnya kalang kabut selama pertemuan yang kedua kalinya.
Sekarang, ini adalah yang ketiga kali pertemuannya dengan gadis itu. "Apakah ini yang dinamakan berjodoh ya?" gumam Gilang masuk ke toko pakaian dan berdiri agak jauh dari kedua gadis itu dengan berpura-pura melihat baju di depannya.
"Mbak Rat, ini kayaknya bagus deh?" ucap Frida menempelkan baju lengan panjang ke punggung Ratna.
"Iya, itu bagus. Kalau kamu suka, ambil saja," ujar Ratna yang masih memilih baju yang cocok dengan keinginannya.
Gilang berjalan agak mendekat dan bersebelahan dimana kedua gadis itu berdiri. Dirinya hanya menyimak obrolan keduanya dan melirik ke kanan yang akhirnya semakin membuat seorang Gilang terpesona dengan Ratna. Sebab, malam ini Ratna tampil begitu cantik dan elegan dimatanya.
"Ckckck. Bidadari darimana ini? Kok, cantik sekali."