
"Gimana kabar Neng Tami?" tanya Pak Ahmad menatap wajah cantik itu dengan mengerling.
Tami yang mendapat tatapan seperti itu hanya tersenyum canggung dan menunduk malu sebentar.
"Kabar Tami, alhamdulillah baik, Pak.
"Total semuanya 2 juta rupiah, Pak," kata Tami selaku kasir di bengkel itu.
Pak Ahmad mengeluarkan dompet dari saku celananya dan mengambil kartu atm lalu menyerahkan pada kasir itu untuk menggesek sebagai pembayaran biaya bengkel.
Setelah melakukan transaksi dan berhasil, Tami menyerahkan kembali kartu itu pada pemiliknya. "Terimakasih Pak Ahmad, selalu setia menjadi pelanggan kami di bengkel." kata Tami tersenyum manis.
"Sama-sama, Neng Tami," Pak Ahmad mengambil kartu atm miliknya dan kembali mengerling matanya menggoda kasir itu dengan tersenyum lebar.
"Baiklah, saya permisi," pamit Pak Ahmad.
"Hati-hati di jalan, Pak Ahmad."
Pak Ahmad berjalan menuju mobilnya dan masuk ke dalam untuk memanaskan mobil terlebih dahulu. Setelah beberapa saat, mobil melaju meninggalkan bengkel untuk pulang kerumah karena ingin berkencan dengan istri tercinta nanti malam.
"Semoga saja Gilang gak mengganggu acara kencanku malam ini," gumam Ahmad tiba-tiba dengan rencananya semoga berhasil.
Mobil masuk halaman rumah dan Ahmad membuka pintu mobil lalu menutupnya kembali. Masuk ke dalam dengan bersiul mengiringi langkah kakinya yang lebar, hingga sang istri melihat suaminya datang dengan wajah berbinar bahagia.
"Assallamualaikum, Ma," sapa Ahmad mengucap salam.
"Waallaikumsalam, Pa. Gimana mobilnya? Sudah beres 'kan?" Salma mencium punggung tangan dan duduk kembali bersama suaminya.
"Alhamdulillah, beres. Nanti malam jadi 'kan, Ma? Kita sudah lama tidak kencan berdua?" ucap Ahmad akan rencananya pergi bersama Salma.
"Iya, Pa. Nanti malam, Mama akan dandan yang cantik untuk Papa tercinta," sahut Salma bersandar di bahu suaminya.
"Gilang dimana? Apa dia sudah pulang?" Ahmad mencari sekeliling rumah, tetapi tidak melihat keberadaan keponakannya itu.
"Ada. Dia di kamar sedang tidur."
"Tumben-tumbenan, itu bocah sudah tidur jam segini!" heran Pak Ahmad pada Gilang.
"Biarin saja kenapa! Namanya juga anak muda," jawab Salma.
Salma pun pergi ke dapur membuatkan kopi untuk suami tercinta. Sedang, Ahmad duduk di sofa melihat acara berita kriminal yang sedang marak.
"Ckckck, maling sekarang kok makin pinter ya? Sudah kena jerat hukuman, tetapi kok ya mengulang lagi setelah keluar penjara," gumam Ahmad berbicara dengan televisi.
"Polisi sekarang, juga gak kalah keren. Jenius, ganteng-ganteng dan juga cantik. Apalagi polwannya? Bikin hati berbunga-bunga saja," celetuk Ahmad seraya menoleh ke belakang sebelum ocehannya ketahuan istri.
Tak lama Salma datang membawa secangkir kopi juga camilan sore, lalu meletakkan di meja.
"Diminum, Pa, kopinya?" pinta Salma duduk di samping suaminya.
"Makasih ya, Ma," Ahmad tersenyum menatap istri tercinta yang semakin cantik setiap hari.
*
Malam hari tiba, Gilang bangun dengan tergesa-gesa karena malam ini Paman dan bibinya akan pergi keluar. Dirinya, mandi dengan cepat. Keluar kamar mandi, Gilang mengambil satu kaos lengan panjang dan juga celana hitam untuk penampilannya yang maskulin. Tak lupa memberi parfum pada seluruh tubuhnya agar wangi.
Selesai menyisir rambutnya yang kelimis dan rapi, Gilang keluar kamar dengan bersiul ria berjalan menuruni tangga menemui kedua orang tua di bawah.
Pak Ahmad menatap Gilang dari atas sampai bawah akan penampilannya yang lebih keren daripada dirinya.
"Ganteng apanya! Pakaianmu serba hitam kayak malaikat maut saja! Ganti!" cibir Pak Ahmad pada Gilang.
"Tunggu-tunggu! Ini, kamu mau kemana? Kenapa terlihat rapi?" bingung Pak Ahmad menanyakan pakaian Gilang.
"Gilang mau ikut Paman dan Bibi jalan-jalan. Bukannya, tadi Bibi yang bilang begitu kalau kalian berdua mau keluar malam ini," ujar Gilang enteng.
Seketika Pak Ahmad menoleh pada istrinya dengan tatapan tajam dan Salma langsung melihat ke arah lain berpura-pura tak melihat suaminya.
"Kenapa, malah diajak sih! Gagal kencan dong, kalau ada pengganggu!" ucap Pak Ahmad dalam hati, tetapi menjawab dengan sorot matanya.
Salma hanya menahan tawa melihat wajah suaminya yang memelas menatap ke arahnya. "Gilang, ganti pakaiannmu dengan yang cerah. Benar, apa kata pamanmu, kamu seperti malaikat pencabut nyawa," terang Salma tersenyum.
Gilang pun langsung menuruti perkataan bibinya berlari menaiki tangga menuju kamar dan menggantinya dengan kemeja warna merah.
"Ma, kenapa ngajak Gilang sih! Gagal kencan romantis kalau ada dia, Ma!" protes Pak Ahmad terhadap istrinya.
"Sudah, Mama juga terlanjur bilang ke Gilang kalau malam ini mau keluar," jawab Bu Salma mengusap pelan bahu suaminya agar jangan marah lagi.
"Lain kali, jangan ngajak dia lagi!" tegas Pak Ahmad pada istrinya dan wanita itu mengangguk menuruti permintaan suami.
Setelah mengganti kemeja, Gilang keluar kamar kembali menemui Paman dan Bibi yang telah menunggunya di ruang tamu.
"Ayo, kita berangkat Paman!" seru Gilang menghampiri keduanya.
"Ayo."
Mereka bertiga, berjalan keluar dan Salma menutup pintu lalu menguncinya. Pak Ahmad masuk mobil bersamaan dengan Gilang.
"Ngapain kamu di depan! Sana, pindah ke belakang!" bentak Pak Ahmad, Gilang menurut dan keluar membuka pintu lalu beralih ke kursi tengah duduk di belakang kemudi.
Salma masuk dan duduk di samping suaminya. Mobil melaju meninggalkan halaman rumah menuju taman yang telah dijanjikan Ahmad pada istrinya.
Di dalam mobil, Gilang sibuk berselancar memainkan sosmed di ponsel. Dirinya sedang membalas pesan pada seorang wanita di sosmed yang baru saja komen terhadap fotonya yang tadi diunggahnya saat akan naik mobil.
"Kamu mau kemana Gilang? Kok, gak ajak-ajak aku?" tanya wanita itu yang terpesona akan ketampanan Gilang di foto sosmed.
"Aku mau jalan-jalan," balas Gilang.
"Ya ampun, ganteng banget sih, anak orang." ucap wanita itu dengan stiker mata berbinar.
Gilang hanya tersenyum menampakkan deretan giginya duduk di belakang kemudi. Pak Ahmad sedang fokus menyetir karena ini adalah acara makan malam keluarga.
Bu Salma menoleh ke samping dimana Gilang tersenyum menatap layar ponselnya terus menerus. Betapa, keponakannya itu bisa dibilang sebelas dua belas dengan sikap suaminya.
"Dasar, anak muda sekarang narsis banget ya, Pa?" tiba-tiba Bu Salma bertanya menatap jalanan di depan.
"Narsis wajar, Ma. Memang hanya anak muda saja yang bisa begitu. Kita juga bisa narsis nanti foto berdua di taman," ujar Pak Ahmad mengedipkan mata sebelah menggoda istrinya.
"Apaan sih, Papa! Sudah tua juga, ngapain ikutan narsis!" sahut Bu Salma merasa malu dengan perkataan suaminya itu.
Gilang yang dari tadi sibuk bermain ponsel tak sengaja mendengar apa yang dikatakan pamannya.
"Paman, jangan terlalu narsis. Ingat umur! Sudah tua, nanti pinggang encok kalau kebanyakan gaya." ledek Gilang pada pamannya.