Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 75


Mengukir Kenangan Indah Bersama


Saat waktu istirahat sebelumn


ya, semua pegawai menikmati dengan makan siang yang dipesan oleh Harlan, begitu juga dengan Maisara. Beberapa jenis makanan dipesan dari tempat yang tidak diketahui asalnya. Namun, mereka sangat puas dengan pelayanan itu. Mereka semua mendapatkan jamuan istimewa, lengkap dengan minuman buah segar, serta desert mewah berupa es krim dari merek ternama.


Anehnya semua makanan itu adalah kesukaan Maisara di masa kecilnya, dan di jaman sekarang sangat susah mendapatkan makanan seperti itu. Bahkan, beberapa di antaranya hanya ada di distrik Timur, di mana ia pernah tinggal sebelumnya.


Daina lebih senang lagi, karena ia tidak harus memasak hari itu. Waktu memasaknya habis untuk mengobrol dengan Harlan sementara anaknya melukis. Ia merasa akrab, sekaligus canggung saat memikirkan jika pria itu tidak menyukai bayi dan anak-anak. Padahal Maisara sebentar lagi melahirkan. Harapannya adalah rumah tangga mereka tetap baik, jauh dari masalah walaupun, akan hadir seorang anak di antara mereka kelak.


Maisara sebenarnya ingin bertanya bagaimana Harlan mendapatkan semua makanannya, tapi ia menyatakan perang dingin sejak kemunculan pria itu di ruang produksinya tadi. Ia kesal setengah mati, karena suaminya sengaja menunjukkan siapa dirinya di hadapan semua pegawai.


Harlan merasa menyesal setelah ia muncul dan mengacaukan suasana di antara anak buah istrinya tadi. Setelah ia mengatakan tentang ending dari cerita yang ia inginkan, Maisara cemberut dan tidak mau bicara sepatah kata pun padanya.


Semua pegawai melihat reaksi bos mereka, hingga pada saat Harlan bicara tentang keinginannya, yang tidak masuk akal tentang cerita, mereka diam saja.


Sekarang mereka tahu seperti apa situasi Maisara dan pria tampan yang kini sedang berada di sekitarnya. Walaupun, beberapa di antaranya belum jelas, tapi keadaan perut buncit dan cara sang bos menutupi masalah pribadinya, bisa dipastikan jika pria itu adalah suaminya.


Walaupun, keinginan Harlan adalah sesuatu yang tidak menyatu dengan alur, tetap tidak ada yang berani protes. Pria itu mengatakan jika Morodoki pada akhirnya akan menjadi orang biasa saja dan menjauh dari dunia persilatan. Itu akhir cerita yang menyimpang, sedangkan mereka tidak menyukainya.


Bagaimana mungkin cerita akan berakhir seperti itu, kalau tidak ingin mengecewakan pembaca yang setia.


Mereka pasti sudah berkorban banyak waktu, uang dan kuota, untuk membaca kisahnya. Namun, mereka akan kecewa bila cerita berakhir buruk. Apalagi kalau tidak masuk akal seperti yang dikatakan Harlan.


Malam harinya, Maisara tidak ikut makan malam dan memilih tidur lebih dulu. Ia tidak peduli Harlan akan tidur di mana, lalu menguasai tempat tidur untuk dirinya sendiri. Ia pun ikut kesal dengan ibunya yang menunjukkan kamar dan memberi suaminya bantal agar bisa tidur di samping anak perempuannya. Namun, lagi-lagi ia tidak mungkin memarahi Daina.


“Kenapa Ibu tidak memarahinya saja, atau mengusir dia pergi, Bu? Apa ibu lupa dia punya istri lain di sana?”


“Ya, aku tahu, tapi anehnya dia seperti orang yang cuma punya kamu di sisinya?”


“Gimana ibu bisa tahu?”


“Dari caranya bertanya tentang dirimu, dia sangat senang mendengar aku bercerita bagaimana kamu sekolah dulu!”


“Ibu? Kenapa Ibu ceritakan juga, sih? Ahk ...!” Maisara mengacak rambutnya sendiri. Lalu, tidur menelungkup sambil menutupi tubuh dengan selimut.


Daina pergi setelah meletakkan segelas air putih di meja rias dan memastikan kalau Maisara baik-baik saja, walau sedikit marah padanya. Ia tahu gadis yang tertidur dengan selimut itu kecewa, dengan apa yang sudah diceritakannya pada Harlan. Semua karena ia tidak tahu apa keinginan anak perempuannya.


Sementara Harlan masih berbincang dengan asisten dan pengawal. Ia juga berbincang dengan beberapa orang melalui telepon. Mereka berada di ruang yang biasa digunakan untuk memajang barang yang sudah berhasil di cetak. Asisten memberikan beberapa baju ganti untuk bos mereka, dan juga beberapa kotak hadiah untuk Maisara sesuai pesanannya.


“Persiapkan jadwalnya, aku akan mengunjungi dan menginap di tempat ini setiap akhir pekan,” kata Harlan tegas.


“Baik, Tuan!”


“Apa ada alasan khusus Anda kemari setiap pekan, Tuan?”


“Tidak ada! Atau ... aku bisa lihat PT. Seribu Janji yang ada di pinggir kota, siapkan untuk akuisisinya!”


“Oh! Untuk soal PT itu, aku punya sesuatu yang mengejutkan, ini berita yang baru terbit beberapa jam yang lalu, Tuan!”


Asisten menunjukkan ponselnya, ada sebuah akun media sosial yang mengabarkan kedatangan Sahida dengan seorang lelaki muda. Mereka adalah orang yang tidak dikenali oleh Harlan. Dua orang itu adalah pasangan suami istri yang kemarin dikabarkan menikah dan akan membeli PT Seribu Janji dan kini mereka tinggal di Kota Aspala.


Perusahaan yang bergerak di bidang kayu lapis itu, hampir gulung tikar karena adanya pemborosan anggaran dalam produksi. Pemilik perusahaan berniat menjual dan, semua pelaku bisnis di kota itu sudah mengetahuinya. Bahkan, sudah ada satu orang yang berniat melakukan kepemilikan atas gedung dan seluruh aset.


Harlan berniat membeli agar ia punya alasan kuat untuk berada dekat dengan Maisara. Toh urusan Mahespati Industries, sudah ditangani oleh para sahabat yang semuanya bisa di percaya. Jadi, soal mudah kalau hanya mengurus satu usaha kecil itu saja.


“Tapi, Tuan, PT Seribu Janji tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan Mahespati, ia bergerak di bidang yang bukan Industri kita!”


“Aku yang akan mengembangkan Bisnisku sendiri di luar dari Mahespati!” Harlan berkata sambil mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja.


“Baiklah, sepertinya kita akan bersaing dengan pasangan baru itu!”


Harlan mengangguk dengan tatapan menerawang ke jauh ke depan.


“Apa maksud perempuan itu membeli perusahaan kayu lapis? Apa ia hanya ingin menyaingi istriku?” katanya.


Asisten dan pengawal tidak berani menjawab, sebab apa yang dikatakan Harlan adalah, urusan pribadi, dan mereka tidak berhak ikut campur.


“Awasi mereka!” perintah Harlan.


“Baik, Tuan!”


Setelah membicarakan semua urusan bisnisnya, Harlan pergi ke kamar Maisara dan pengawal serta asistennya kembali ke hotel untuk istirahat.


Mengetahui sang istri sudah tertidur, Harlan hanya mendekat dan memeluk tubuh yang berbalut selimut itu dengan erat, sambil mengecup bibir yang sedikit terbuka beberapa kali.


Lalu, ia duduk kembali sambil membuka kotak yang akan ia hadiahkan untuk Maisara, dan mengambil isinya. Itu sebuah gantungan kunci berbentuk beruang kecil dengan warna biru muda, terbuat dari bulu angsa yang lembut.


Harlan memasang gantungan itu di kunci pintu.


Mana ada beruang warna biru muda, untung aku bisa menemukannya!


❤️❤️❤️❤️