Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 57


Proses Membuat Anak


Maisara diam sebentar, lalu ia menjawab dengan yakin, “Ya, tanyakan saja pada Ibu! Atau dokter yang melakukannya!”


“Siapa dokter itu?”


“Mana aku tahu!”


“Apa kamu suka anak-anak?” Intonasi suara Harlan berubah lembut saat berkata.


“Ya. Apa salahnya mereka? Lane ... seharusnya kamu tahu kelucuan anak-anak itu bisa jadi hiburan!”


Seketika Harlan mengerutkan alis, mendengar nama aneh itu kembali disebut. Ia menatap wanita yang sedang memalingkan muka, dan menghentikan memijat tangannya. Lalu, ia meraih dagu Maisara agar kembali menghadap ke wajahnya.


“Baiklah, aku akan membiarkan kamu melahirkan anak itu!” katanya tegas.


Hai! Itu anakmu juga, memangnya gimana perempuan bisa hamil tanpa benih laki-laki? Bayi muncul di bumi itu bukan karena jatuh dari langit!


“Ya iyalah, aku pasti melahirkan, tidak mungkin aku menahan mereka selamanya di dalam perut!”


“Ya, tapi kalau kamu sudah melahirkan, kita harus mengulangi prosesnya!”


“Apa? Eh, maksudmu proses apa?”


“Proses membuat anak, kamu ini bodoh apa?”


Ck! Beraninya mengataiku bodoh, memangnya dia pintar?


“Proses seperti itu sama saja kalau melakukannya ..., sudah melahirkan ataupun belum melahirkan!” Maisara berkilah, ia merasa ucapan Harlan tidak masuk akal.


“Oh seperti itu? Kalau begitu, ayo! Kita lakukan sekarang!” kata Harlan sambil berdiri dan melepaskan pakaiannya dengan cepat, sedangkan bibirnya tersenyum tipis.


“Lane, Harlane ini rumah sakit!” kata Maisara sambil mencengkeram kancing baju bagian atas. Ia baru sadar ternyata pria itu bukan cuma pintar tapi licik, menjebaknya hanya untuk melakukan apa yang ia inginkan.


“Apa salahnya?” kata Harlan, sambil menyelesaikan aktivitasnya.


“Kalau alasannya demi mendapatkan anak, kamu sudah punya anak, saat aku melahirkan nanti. Jadi, aku tidak mau langsung hamil! Kamu tidak bisa memaksaku untuk hal itu, karena perempuan harus memiliki jeda waktu, yaa ... setidaknya sampai anak pertamanya menjadi lebih besar.”


“Aku tidak mau menunggunya selama itu! Kau pikir ada laki-laki yang kuat untuk menahan sampai bertahun-tahun tidak melakukannya, setelah memiliki istri?”


Maisara tercengang dengan ucapan Harlan yang tidak mudah ia pahami.


Hai! Menjeda untuk tidak memiliki anak, bukan berati menjeda juga untuk melakukan hal itu! Apa dia tidak tahu obat anti kehamilan? Ahk! Yang benar saja!


Akhirnya ia mencoba mengalihkan perhatian Harlan yang sudah berhasil melepas semua pakaian kecuali, ****** ******** saja.


Wanita itu mengusap tangan yang bengkak, seraya berkata, “Lihat ... tanganku masih sakit, apa kamu tega melakukannya? Tadi ada orang yang sengaja mendorongku, kamu pasti tidak akan percaya kalau aku bilang siapa orangnya, kan?”


Harlan kembali mengerutkan kening saat mendengar ucapan Maisara, tentang seseorang yang telah menyakitinya. Tentu saja ia heran, karena tanpa sepengetahuan Maisara, ia memberi seorang pengawal untuk menjaga istrinya itu.


Ia mengabaikan pikirannya untuk sementara waktu, dan melangkah mendekati Maisara sambil mengepalkan tangannya, karena kesal. Kalau benar istrinya mendapatkan penganiayaan, ia pantas kecewa dengan pengawal yang dipercaya untuk menjaganya.


Harlan membawa Maisara ke tempat tidur pasien dan melepaskan pakaiannya. Wanita itu membantu melepaskan bajunya sendiri agar prosesnya segera selesai. Itu jauh lebih baik hingga ia bisa segera pergi, karena melawan pun percuma apalagi melarikan diri, itu lebih tidak mungkin lagi.


Namun, Harlan berpikir berbeda, ia menganggap Maisara senang melakukan hal itu bersamanya.


Dasar munafik! Buktinya kau bersemangat sekali! Haha!


Harlan tertawa dalam hati. Ia bersemangat lebih besar untuk menguji kemampuan lututnya kali ini. Kalau kakinya bisa lebih baik, pasti lututnya pun begitu.


Para pengawal di luar sampai mengantuk, saat tidak lagi mendengar suara gaduh pertengkaran suami istri dari dalam kamar, meskipun pintu tidak terkunci, mereka tidak berani melihat apa yang terjadi.


Beberapa kali mata mereka hampir terpejam, sampai akhirnya pintu terbuka secara perlahan, membuat para pengawal itu tercengang. Salah satu dari mereka melihat jam di pergelangan tangan.


Maisara keluar sambil menyisir rambutnya dengan jari-jari tangan. Ini salahnya, karena kebiasaan tidak pernah membawa alat kecantikan saat bepergian. Alhasil ia terpaksa merapikannya dengan cara demikian. Ia khawatir orang akan bertanya-tanya karena melihat rambutnya yang acak-acakan.


Wajahnya tampak merona merah karena malu, dan gadis itu pun masih merasakan hangat di pipinya, karena tingkah laki-laki yang kini tertidur di atas bangsal pasien. Tiba-tiba ia merasa kalau Harlan adalah pria yang tidak berperasaan. Biar apa pun alasannya, seharusnya ia menjadi anak yang toleran pada Ibunya yang sedang sakit di sana. Namun, ia justru berbuat semaunya.


Maisara menerima panggilan pada ponselnya yang tiba-tiba berdering. Ia sudah mengirim pesan pada Putra beberapa saat sebelum ia pergi ke rumah sakit, dan sekarang pria itu menghubunginya secara langsung.


“Hai, Putra! Apa kabar?” Gadis itu sengaja berbicara dengan suara yang cukup keras agar pengawal mendengarnya.


Setelah itu Maisara diam, untuk mendengar temannya saat kuliah itu bicara. Ia meminta bantuan Putra untuk merekomendasikan tempat yang bagus untuk tempat percetakan serta toko yang akan digunakannya untuk bisnis.


“Apa kau butuh tempat itu sekarang juga?” kata Putra di ujung telepon.


“Tidak sekarang, tapi lebih cepat lebih baik!”


“Baiklah, aku akan mengirim lokasinya, itu tempat temanku dan sesuai permintaanmu, ia ada di distrik Barat, cukup jauh bukan? Itu area yang berlawanan dengan tempat tinggalmu sekarang.”


“Oke, aku akan melihatnya. Kapan kau tiba?”


“Mungkin dua atau tiga hari lagi, jangan khawatir, aku akan mengajarimu kalau sudah membeli tiket, ingat! Kau harus menjemputku!”


“Kau pikir aku punya kendaraan apa sampai kau minta jemput?”


“Aku tahu beritanya! Kau bisa membeli mobil dengan uang sebanyak itu, setelah membereskan semua masalah, kan?”


“Baiklah, aku akan menerima saranmu, itu artinya aku harus menghitung uangnya!”


Putra terdengar tertawa, ia tahu kalau Maisara adalah wanita yang pandai berhemat, meski pernah kaya raya, ia akan berpikir ulang untuk membeli sebuah barang jika diperlukan atau tidak.


Pria itu pun mendengar rumor tentang siapa yang membeli gedung Maisara, dengan harga yang fantastis. Orang itu seperti sengaja memberi dan tidak berniat untuk mengadakan transaksi jual beli, tanpa memikirkan untung rugi. Namun, ada yang aneh dari identitas pembeli itu yang hanya seorang dosen di luar negeri. Kalau pun ia kaya raya, tapi tidak masuk akal untuk membeli gedung di negara lainnya, sebab ia bukan pebisnis.


Telepon di tutup setelah itu dan Maisara kembali ke apartemen ibunya, untuk membereskan barang-barangnya. Mereka akan pindah, ke tempat yang akan ditawarkan oleh Putra.


“Itu tempat yang jauh, apa kau sungguh-sungguh akan pergi dari sini dan meninggalkan semuanya?”


“Ya, Bu. Aku tidak mau berhubungan lagi dengan Harlan, tapi dia tidak mau bercerai, sudah pasti dia akan selalu menggangguku kalau tetap berada di sini!”


“Jadi, kau kabur darinya dan meninggalkan Wendi?”


❤️❤️❤️❤️