Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 81


Siasat Lagi


“Oh ya! Hansen? Aku ingat, bagaimana kabarmu, apa kau sudah memiliki istri sekarang?” tanya Sari sambil menjabat tangan Hansen yang terulur padanya. Setelah itu ia menyusut air matanya yang masih menempel di pipi.


Hansen menolak untuk menjawab, tentang masalah pribadinya yang sangat riskan untuk dibicarakan dengan Sari. Ia lebih suka bertanya tentang Reina yang ada di ruang penanganan saat ini.


“Apa yang terjadi pada Reina apakah aku boleh tahu?” Hansen sangat terkejut kalau Raina hamil, itu artinya ia memiliki seorang pasangan hidup dan mereka pasti sudah menikah.


“Sepertinya dia keguguran tadi dia terjatuh di kamar mandi dan mengalami pendarahan!” kata Sari.


“Apa kau sudah memberitahu suaminya, seharusnya dia berada di sini, kan?” Hansen bertanya karena penasaran, selain ia memang ingin tahu siapa suami Raina, ia pun akan protes padanya karena di saat genting seperti ini, laki-laki itu tidak ada.


“Bukankah kau teman Harlan? Raina mengandung anaknya, kupikir kau tahu kalau anakku sudah menikah dengannya dan entah di mana laki-laki itu sekarang aku tidak tahu!” ucapan Sari, seolah-olah membuat nyala api yang kecil menjadi besar karena tersiram bensin.


Hansen terlihat sangat geram. Dendam yang beberapa bulan ini sempat hilang, mencuat kembali demi melihat apa yang terjadi pada Raina. Ia pikir Harlan tidak memiliki perikemanusiaan dan tidak mau bertanggung jawab pada istrinya sendiri.


Seandainya ia tahu Sejak awal bila Harlan menikahi Raina, maka mungkin ia akan menyuruh mantan bosnya itu, untuk tetap berdiri di sisi Raina sampai ia melahirkan. Kalau Harlan menjaga Reina dengan baik, maka wanita itu tidak akan mengalami kesakitan seperti sekarang.


“Baiklah kalau begitu, akan aku cari dia sekarang dan memintanya untuk bertanggung jawab akan apa yang dialami Reina ...! Aku tidak menyangka kalau dia begitu tega pada wanita yang sudah sangat mencintainya sedemikian rupa, aku benar, kan?” kata Hansan setelah itu.


“Ya. Kau benar ... pergilah cari dia, dan aku akan menunggu di sini! Oh iya, berikan nomor ponselmu, aku akan mengabarkan apa pun yang terjadi pada Reina padamu nanti,” kata Sari sambil mengeluarkan ponsel dari saku bajunya.


Hansen mengangguk.


Setelah selesai menyimpan nomor ponsel, Sari berkata lagi, “Aku bersyukur bertemu denganmu sekarang, Hansen, kau dan kebaikanmu tidak berubah sejak dulu!”


Hansen pergi mencari Harlan, sementara Raina masih dalam penanganan dokter. Belum ada yang tahu apa hasil dari keguguran bayinya, apakah masih bisa diselamatkan atau tidak.


Hansan menemui seorang pria yang bisa membantu dan beberapa orang yang dikenal serta mau mendukung rencananya. Ia kali ini ingin membuat Harlan mau bertanggung jawab dan membalas cinta Raina, kalau perlu memberi separuh dari kekayaannya. Itu tidak akan merugikan kalau melihat pengorbanan cintanya.


Namun, kalau Harlan kembali berbuat zalim pada wanita yang disukainya itu, ia tidak akan segan-segan membunuhnya walau harus mengorbankan nyawanya sendiri.


Lalu, Hansan menghubungi Andi, pamannya yang sudah tua dan pernah dekat Wendi. Mereka sangat akrab waktu sama-sama masih melajang. Sebuah momentum terjadi begitu tepat, saat ia mendapatkan kabar kalau Andi sakit keras.


Oleh karena itu ia menghubungi Wendi dengan suara yang di samarkan.


“Tante Wendi tentu kau masih ingat dengan paman Andi bukan?” Hansen bertanya setelah ia berhasil menghubungi nomor ponsel wanita itu yang ternyata tidak berubah sejak dahulu.


“Ya. Aku ingat, siapa ini yang bicara?” tanya Wendi dari ujung teleponnya.


“Tante Wendi, aku adalah salah satu keponakannya, aku dengar sekarang Paman Andi sakit keras, tapi tidak mau dirawat di rumah sakit, mungkin bujukan darimu bisa membantu kami sebagai keluarganya agar dia mau dirawat di sana ... keadaannya sungguh mengkhawatirkan! Maaf sebelumnya, apakah tidak merepotkan kalau kami meminta pertolongan kepadamu untuk membujuknya?” kata Hansen lagi sambil mengirimkan sebuah pesan kepada Harlan, menggunakan ponsel yang lain.


“Oh! Kalau begitu, berikan padaku di mana dia tinggal sekarang! Kirimkan lokasinya!”


“Baiklah!”


Hansen berhasil mengirimkan lokasi di mana ia berada saat ini dan di saat yang sama, pesannya telah tersampaikan kepada Harlan.


“Harlan, Ibu pikir kau tidak lupa dengan Paman Andi, tadi keponakannya bilang kalau dia sakit keras. Ibu akan datang menengoknya! Kalau kamu punya waktu, datanglah ke sana! Mungkin kedatangan kita bisa menghibur.”


“Kirimkan padaku di mana lokasi rumahnya, kalau Ibu ingin aku ke sana!”


Lokasi terkirim, Wendi dan Harlan berangkat di jam yang berbeda dari arah yang berbeda. Wendi tiba lebih dulu, sedangkan Harlan masih menyelesaikan rapat sedikit lagi.


Begitu rapat selesai, ia berkata pada asistennya, “Kirimkan padaku notulen rapat tadi lewat email, aku ingin memeriksanya di jalan nanti!”


“Baik, Tuan!”


Harlan pergi ke lokasi yang di kirimkan Wendi melalui pesan singkat yang dikirimkan padanya.


Sementara itu, sekitar satu jam setelah mendapatkan panggilan, Wendi tiba di sebuah rumah dengan dinding kayu yang cukup elegan. Sebuah hunian yang didesain dengan unik dan bahan kayu tua yang harganya tentu sangat mahal. Tempat penuh dengan bentuk ukiran yang unik dan karya seni tinggi. Seorang arsitek ternama di kota.


“Kau ini sakit apa?” tanya Wendi saat sudah duduk di sisi pembaringan seorang yang sudah lebih tua beberapa tahun darinya.


“Sakitku hanya sakit tua, kau sendiri bagaimana? Apa kau mengalami sakit penghantar kematian juga?” kata Andi sambil berusaha untuk duduk, seorang pelayan membantunya.


“Aku kadang sakit, tapi hari ini aku sehat ... kalau tidak ada yang mengusik ketenanganku, aku tidak akan sakit!”


“Tinggallah di sini kalau kau ingin tenang! Kau pasti sehat sampai ajalmu nanti.”


“Jangan bicara soal ajal, sebab kadang orang tua seperti kita lebih panjang umur! Lagi pula aku tidak akan bisa tinggal di sini, anak-anak pasti akan cemburu dengan kebahagiaan kita kalau kita bersama.”


“Omong kosong apa itu? Oh ya, kau tahu dari mana aku tinggal di sini?”


“Keponakanmu!”


“Oh! Aku pikir mereka tidak ada yang peduli! Apa kau sudah memiliki cucu seperti keinginanmu? Harlan sudah lebih dari 30 tahun, mana aku percaya kalau dia belum menikah.”


“Dia sudah menikah, tapi istrinya belum melahirkan. Aku memintanya menengokmu ke sini, mungkin sore atau malam dia baru datang.”


“Tidak perlu repot, aku tahu dia sibuk.”


“Tidak juga kalau aku yang meminta, tunggu saja!”


Andi tersenyum menanggapi ucapan Wendi yang begitu yakin akan kedatangan anaknya. Padahal dalam hati Andi pesimis, ia tidak begitu berharap pria sesibuk Harlan akan datang menengok dirinya, yang bukan apa-apa bagi keluarga Mahespati Prawira.


Namun, Andi tetap menunggu sampai malam tiba, dan orang yang dijanjikan Wendi akan mengunjunginya itu, tidak pernah sampai di sana.


Harlan menghentikan mobil tepat di lokasi yang di kirimkan ibunya, tapi yang ia lihat adalah tebing perbatasan antara darat dan lautan yang cukup curam. Ia turun dengan hati berdebar, apalagi ia melihat sebuah sapu tangan yang pernah di pakai ibunya ada di dekat tebing.


Ia menelepon sang ibu tapi sinyal di sana buruk, pengawal dan asisten pun mendapati keadaan yang sama. Sinyal ponsel seolah belum ditemukan di tempat itu. Hari mulai gelap dan mereka menggunakan lampu mobil sebagai penerangan. Rasanya tidak mungkin kalau Wendi mengirim alamat yang salah dan Wendi pergi ke tempat seperti itu.


Untuk apa Ibu ke sana!


Harlan frustrasi dan menyusuri tebing sapi lampu mobil tidak bisa menjangkau.


“Apa kau mencari ibumu?” tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul di antara deburan ombak dan angin malam yang menderu. Ini pantai yang curam, angin yang memantul dari tebing pasti akan sangat besar hempasannya di sekitarnya.


❤️❤️❤️❤️


Jangan Lupa Like 😊