
Penggemar Yang Kecewa
“Mai, sebenarnya Putra ke kantormu, aku bilang saja terus terang padanya kalau kau melahirkan, aku pikir dia memang sudah tahu semua masalahmu dan dia sangat kecewa padamu!” kata Lana sambil mengambil tas dari tangan Daina.
Sementara itu, Daina pergi menggendong cucunya dan Maisara sudah turun dari tempat tidur.
“Kapan?” tanya Maisara sambil melangkah keluar dengan tenang.
“Kemarin!” sahut Lana.
Ketiga orang itu berjalan perlahan secara beriringan menyusuri koridor, menuju pintu keluar dari lobby gedung rumah sakit.
Semua urusan administrasi dan biaya persalinan sudah dibereskan oleh Lana, atas permintaan Maisara menggunakan kartu debit miliknya. Saat itu Lana berpikir, apabila semua aktivitas penjemputan itu dilakukan oleh suami dari Maisara. Tentu akan jauh lebih pantas daripada dilakukan oleh seorang pegawai biasa seperti dirinya. Ia hanya membantu semampunya.
Alangkah kasihannya Maisara, pikiran Lana berkelana—walaupun suaminya adalah pria yang lebih tampan tapi Putra, tapi jika dijadikan suami, maka ia akan jauh lebih baik dari Harlan.
“Aku punya alasan untuk tidak mengatakannya kepada putra, karena aku berpikir tidak ada hubungannya dengan dia!” sahut Maisara.
Mereka bercakap-cakap setelah di dalam mobil. Lana yang mengemudikan mobil Maisara dengan kecepatan sedang.
“Tapi, kau tahu kan dia menyukaimu sejak dulu?” Lana berkata sambil menoleh pada Maisara sekilas lalu kembali fokus ke jalanan.
“Aku tidak percaya karena dia tidak pernah mengatakannya secara langsung padaku!”
“Ya. Kurasa itu masalahnya ... dia terlalu tertutup atau mungkin merasa kurang percaya diri, untuk bilang kalau dia mencintaimu, Mai!”
“Jadi, aku tidak salah kan kalau aku juga tertutup pada Putra?”
Kali ini Lana tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena apa yang dikatakan Maisara benar. Seandainya ia menjadi temannya itu, mungkin ia akan melakukan hal yang sama.
Lalu, Maisara bercerita secara singkat tentang bagaimana pernikahannya dengan Harlan. Ia percaya pada Lana, oleh karena itu ia berani menceritakan sedikit tentang masa lalunya. Apalagi Lana sudah mengetahui banyak hal dan kejadian tentang dirinya dan Harlan, baik ketika masih berada di gedung Hansen ataupun saat berada di kediaman pribadi pria itu.
Ibaratnya seakan Maisara sekarang memiliki dua rumah, salah satunya adalah tempat yang dijadikan produksi Hansan foundation. Ada satu lagi rumah yang ia tempati bersama Harlan, yaitu vila yang berdekatan dengan PT Seribu Janji. Sebuah perusahaan yang kini menjadi milik suaminya itu.
Ia hanya mendengar sekilas tentang perusahaan, yang sebelumnya akan dikuasai oleh Sahida dari Harlan. Namun, untuk kebenaran berita itu, ia tidak tahu pasti.
Pernah suatu kali ia bertemu dengan Sahida saat berbelanja, tetapi untungnya mereka tidak berdekatan, sehingga mereka tidak harus bertegur sapa. Apabila hal itu terjadi, Maisara tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada wanita itu.
Sahida memang terlihat jauh berbeda dari penampilan sebelumnya, ia terlihat lebih muda dari usia sebenarnya dan tentunya lebih cantik. Wanita itu menyesuaikan diri, dengan pria muda yang dinikahinya.
Oh! Apa dia operasi plastik? Pikirnya.
Sampai sekarang ia masih penasaran dengan Sahida, yang akan menghancurkannya seperti kata Harlan. Namun, ia hanya berharap kalau wanita itu tidak akan berbuat jahat. Biar bagaimanapun juga, sekarang ia memiliki seorang bayi yang akan menyita perhatian lebih banyak. Bukan hanya ibu dan dirinya sendiri yang harus ia lindungi. Jika wanita itu membuat masalah, itu artinya ia harus bekerja lebih banyak.
Setelah sampai di kediaman pribadinya, semua pegawai menyambut dengan gembira, kedatangan bayi Morodoki law—demikian mereka menyebut seperti ucapan Lana. Gadis tomboi itu sudah menyebarkan hasil swa fotonya, ke dalam grup chat mereka.
Maisara belum putus asa untuk menghubungi Harlan, sementara bayinya tertidur dan Daina memintanya untuk kembali beristirahat. Ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi pria itu jika mengetahui anaknya sudah lahir ke dunia, dan siap memanggilnya ayah.
Namun, nomor ponselnya tidak pernah aktif dan mulai hari itu, ia memilih untuk mengabaikannya.
Sampai akhirnya tak terasa waktu sudah lewat dari dua bulan, sejak kelahiran bayi kecil Maisara, yang dipanggil oleh semua orang dengan Mahes. Namun, tidak ada seorang pun yang berani bertanya tentang di mana ayah sang bayi berada.
Apa Pak Harlan tidak penasaran betapa tampannya anak pertamanya? Kenapa dia tidak datang juga? Ini sudah lebih dari tiga bulan! Tanya sebagian orang di Hansan Foundation.
Para pegawai Maisara adalah penggemar setia Harlan, sebagai tokoh asli Morodoki, tapi para penggemar itu harus kecewa.
Para pegawai dan juga Daina sebagai ibu, tentunya merasakan kecewa sekaligus penasaran tentang Harlan. Namun, mereka bisa membayangkan bagaimana perasaan Maisara pasti jauh lebih sakit dari mereka.
Maisara baru menyelesaikan satu gambar, ketika ia mendengar ada seseorang yang datang.
Ia terpaksa beranjak dari duduknya, setelah mematikan komputer yang ia gunakan untuk membuat desain. Ia menggunakan salah satu aplikasi desain grafis untuk mempermudah pekerjaan.
Ia juga kebetulan merasa jenuh dan ingin keluar sekedar meregangkan otot punggungnya. Namun, seseorang yang datang itu adalah wanita yang membuat Maisara tidak bisa rileks.
“Oh! Ternyata kau Maisara orang yang sama? Aku kira bukan kau, dan hanya kebetulan saja memiliki nama yang sama!” kata Sahida. Ia berdiri dengan angkuh, di depan galeri poster Maisara. Ada seorang pria yang cukup manis berdiri di sisinya. Pria itu menatap Maisara dengan tatapan mata yang rumit.
Seketika Maisara mengerutkan alis, ia merasa pernah melihat pria itu ada di gedung Hansan Foundation yang lama. Ia mirip salah satu pegawai ayahnya.
Apa pria itu yang diakui oleh Sahida sebagai saudara atau adiknya? Lalu, Ayah akhirnya mau memperkerjakannya? Apa aku yang salah ingat?
“Apa maksudmu? Kau berharap aku Maisara yang berbeda? Baguslah kalau kau tidak menduganya!” sahut Maisara.
“Aku akan membeli gedungmu ini berapa pun yang kau mau asal kau pergi dari sini!” kata Sahida terkesan ketus dan arogan.
Percakapan kini hanya antara dua wanita yang sama-sama punya masa lalu tidak menyenangkan. Maisara sebenarnya sudah tidak peduli, tapi Sahida justru merasa jika apa yang terjadi pada Nella adalah akibat perbuatannya.
“Apa hakmu mengusirku? Setiap orang bebas tinggal di sini!”
“Karena aku tidak ingin melihatmu di kota ini lagi!”
“Kenapa bukan kau yang pergi dari kota ini?”
“Aku pikir kau tidak ada di sini!”
“Nah, apa pun alasannya, kau tidak berhak mengusirku!”
“Kalau begitu kau harus menunjukkan di mana anakku berada sekarang, kalau kau ingin tetap aman!” kata Sahida.
“Aku tidak tahu, di mana dia berada aku tidak pernah berurusan lagi dengannya!”
Mendengar ucapan Maisara, Sahida akhirnya bercerita secara singkat tentang bagaimana Nella bisa pindah ke pesisir dan perbatasan, hanya karena takut akan ancaman Harlan. Ia sengaja mendatangi Maisara sebagai bentuk kompensasi sekaligus menunjukkan kekayaannya yang sekarang jauh melampaui anak tirinya itu, dengan demikian maka Maisara tidak akan macam-macam dengannya.
“Jadi kau menuduhku sebagai orang yang bersalah atas apa yang dikatakan Nella dan kau percaya begitu saja? Kenapa tidak tanya saja padanya di mana dia tinggal?” kata Maisara kesal. Ia merasakan percakapan mereka tidak ada gunanya.
“Aku tidak bisa menghubunginya lagi sampai sekarang karena hp-nya jadi tidak aktif!” keluh Sahida membuat Maisara tertawa.
“Jadi, hanya soal itu dan kau menyalahkan aku? Lalu, aku pula yang harus mencarinya? Apa kamu waras?” kata Maisara sambil melenggang pergi ke dalam ruangannya lagi.
“Maisara! Kau boleh pilih! Kalau kau ingin tetap aman di sini maka kau harus mencari Nella, dan bawa dia padaku, tapi kalau tidak mau, segera pergi dari sini!”
Maksud Sahida adalah jika Maisara yang membawa Nella kembali, maka Harlan tidak akan melakukan apa pun pada mereka, sebab Maisara yang akan bertanggung jawab sepenuhnya.
“Aku tidak peduli!” ketus Maisara bicara.
“Apa kau masih tetap tidak peduli kalau kau melihat ini?” kata Sahida sambil menunjukkan sebuah foto pada ponselnya.
❤️❤️❤️❤️
Bersambung dulu ya?
Jangan lupa Like! 👍❤️😊