Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 67


Dia Kurang Ajar Sekali


“Kalau bukan kau, lantas siapa yang membuatnya?” tanya Harlan.


“Anda menyukainya? Ini bagus bukan? Anda boleh mengambilnya.” Sahut Caca, jawabannya menunjukkan ciri khas anak kecil, yang memberikan mainan kepada sesama temannya.


“Kau pikir aku anak kecil? Kau ini kurang ajar sekali!”


Caca menunduk semakin dalam, ia masih berada dalam ketakutannya karena pertemuan ini belum usai.


“Jawab pertanyaanku siapa yang sudah membuatnya?”


“Maafkan saya, Pak! Saya tidak mengenal orangnya tapi dia seorang pembuat komik, saya juga tidak mengenal nama aslinya tetapi nama penanya adalah Mayhay!” Caca menjelaskan.


Harlan mengerutkan kening saat memikirkannya. Dalam otaknya berkecamuk berbagai macam dugaan terkait poster itu. Mengapa wajahnya sangat mirip dirinya. Dalam bentuk seorang pendekar berpakaian ala raja-raja kaisar zaman perang, yang membawa dua senjata pedang dan sebuah tombak, sedangkan di tangannya yang lain, memegang kipas berwarna merah dengan gambar bunga.


Apa-apaan ini? Ahk! Apa pembuatnya sengaja? Kalau memang ia sengaja, maka ini adalah perbuatan melanggar hukum, dan aku perlu mengajukan somasi, kurasa siapa pun tidak mau jika wajahnya dijadikan ejekan seperti ini! Sial!


Itu adalah poster tokoh komik yang sangat digemari, penjualan komik serta posternya mencapai ribuan eksemplar bulan ini. Dalam cerita itu ditunjukkan bahwa, sang tokoh adalah seorang yang sangat berkuasa dan sakti. Namun, tokoh itu bersikap semaunya serta egois. Namun, ia berjuang sekuat tenaga untuk menyelamatkan kekasih dan juga ibunya, dengan berbagai macam jurus dan ilmu yang ia miliki. Akhirnya ia menjadi seorang kaisar yang sesungguhnya, serta menguasai berbagai negara. Pada cerita selanjutnya, kehidupan bahagia bisa dimiliki.


Namun, sang pendekar memiliki banyak musuh, karena perangainya yang genit dan tidak tahu malu. Salah satu musuhnya adalah seorang iblis wanita dan dialah lawan terkuatnya. Lalu, sampai saat ini cerita itu masih berlangsung, karena si iblis wanita yang masih bersembunyi belum bisa dikalahkan. Meskipun begitu, sang pendekar sudah berhasil menguasai negaranya.


“Kau benar-benar tidak tahu siapa pembuat aslinya?” tanya Harlan pada Caca, seperti meyakinkan dirinya sendiri.


“Ya!”


“Kau menyukainya?” tanya Harlan lagi sambil mengambil poster itu dari tangan Caca.


“Ya!”


Begitu mendengar jawaban Cava, tangan Harlan bergerak untuk merobek poster hingga menjadi beberapa serpihan kecil. Lalu, ia melemparkan serpihannya di muka gadis remaja itu, sebelum akhirnya pergi.


Harlan ingin sekali menunjukkan pada Caca, bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang ia sukainya.


Namun, pikirannya kembali berkelana, saat melihat bentuk tanda tangan di ujung poster pendekar, yang diberi julukan—Sang Dewa Petualang—Horodoki Law. Pria itu pernah melihat bentuk tanda tangan yang sama, tapi ia tidak ingat pernah melihatnya di mana.


Setelah melihat Harlan pergi, Caca mengambil ponsel dalam tas. Ia menghubungi seorang temannya, untuk menjemput di lokasi yang ia bagikan melalui aplikasi pesan singkat. Meskipun sedih dan takut dengan peristiwa yang baru saja ia hadapi, Caca tidak akan menceritakan kejadian hari ini kepada siapa pun juga. Termasuk pada kedua orang tuanya, karena ia tidak ingin kedua orang tuanya cemas akan keselamatannya. Pada akhirnya ia tahu jika Harlan tidak seperti yang ia pikirkan. Walaupun, pria itu membencinya, tetapi tidak berbuat sesuatu yang membahayakan. Ia laki-laki yang menjaga martabat dan kehormatan dirinya dengan baik, serta sangat berpikir logis.


Setelah tiba di rumah, Caca mulai memikirkan dan membuat alasan cukup jelas, untuk pergi dari tempat tinggalnya sekarang, demi memenuhi keinginan Harlan. Ia meminta pada kedua orang tuanya ingin pindah sekolah. Demi cita-cita dan hal kesukaannya ia harus mendapatkan suasana yang baru. Ditambah lagi ia ingin mencari pembuat komik idolanya, yang dikabarkan tinggal di kota dan distrik yang berbeda. Ia mencari informasi itu dengan sangat gigih.


Kedua orang tua Caca yang sangat menyayangi anaknya, mau tidak mau menyetujui permintaannya. Walaupun, mereka sedikit keberatan karena artinya mereka akan berjauhan. Namun, karena Caca bersikeras dan meyakinkan, maka mereka pun mengizinkan. Pada saat itu Caca berjanji bahwa, ia akan bersungguh-sungguh dalam belajar dan menjaga diri.


Sebagai orang tua yang baik, mereka tidak serta merta membiarkan Caca begitu saja. Mereka mengizinkannya tinggal di distrik Barat, dengan syarat gadis remaja itu mau menempati apartemen yang sudah mereka tentukan, serta memiliki asisten dan pengawal yang siap menjadi mata-mata, dengan apa pun yang akan ia lakukan di sana.


Demi menuruti keinginan Harlan dan pergi dari kota, ia pun mengikuti semua permintaan kedua orang tuanya. Toh, keputusan kedua orang tuanya, untuk kebaikan dirinya juga. Namun, kepergian Caca tidak bisa dilaksanakan dalam waktu dekat, mengingat kedua orang tuanya harus mengurus semua secara maksimal. Oleh karena itu, rencana kepindahan baru bisa dilakukan sepekan kemudian.


Sementara itu, di Mahespati Industries, Harlan hanya muncul sebentar. Setelah itu ia pergi menemui dokter untuk konsultasi dan menanyakan sesuatu.


Namun, begitu ia pergi, Fedi menerima stafnya di ruang pribadi. Mereka membicarakan pemasaran mesin cetak terbaru yang baru mereka rilis sehari, setelah selesai pembuatannya. Mesin tercanggih yang pernah diluncurkan di industri Mahespati. Benda itu terlihat sederhana, tapi memiliki modifikasi paling radikal di kelasnya.


“Kau bawa laporannya? Sudah ada pesanan masuk?” tanya Fedi pada pihak kepala pemasaran. Mereka duduk saling berseberangan di sofa.


“Yaa ...! Ini, mereka memesan 50 buah sekaligus! Ini luar biasa, kan? Dan, itu baru satu penerbit saja, belum beberapa penerbit lainnya. Padahal kita baru merilisnya kemarin!”


“Kau sudah membicarakannya dengan Tuan Harlan, apa pihak produksi kita sanggup menangani ini? Ini sedikit tidak masuk akal!”


“Hai Fed? Apa kepercayaan dirimu sudah luntur dengan Industri Mahespati?”


“Tidak juga, biar bagaimanapun ini perkembangan bagus, jadi kita perlu memberikan kabar besar ini pada Tuan Harlan!”


“Tentu!”


“Tunjukkan datanya, percetakan dari penerbit mana sampai memesan mesin sebanyak itu? Kau tahu, kan? Percetakan biasa tidak memakai banyak mesin kita, pemasaran mesin produksi Mahespati hanya untuk kalangan atas!”


“Sebentar aku lihat catatannya ... eum ... ini, Hansan Foundation!”


“Apa?”


❤️❤️❤️❤️