
Istri Pemilik Perusahaan
Seketika Raina berpikir jika Maisara adalah orang yang bodoh, jelas-jelas ia berada di sini sebagai pegawai yang memang diharuskan hadir setiap hari. Jadi, tidak perlu membandingkan dengan dirinya sendiri.
“Wajar aku datang setiap hari kan aku pegawai di sini?”
“Kau memang pegawai ... tetapi aku, istri pemilik perusahaan di mana kamu jadi pegawai! Jadi, kira-kira siapa yang lebih berhak berada di sini setiap hari? Kamu tidak harus bertanya kenapa aku di sini ... aku seharusnya yang bertanya kenapa kamu ada di sini, kerja sana!”
Setelah berkata demikian, Maisara memasuki mobilnya tanpa menoleh pada Raina yang terlihat kesal, ia pergi sambil mengentakkan kakinya.
Maisara memejamkan mata selama di perjalanan, ia lelah hari ini secara bertubi-tubi dipertemukan dengan orang-orang yang menyebalkan.
Sesampainya di rumah, Maisara menghabiskan waktu dengan berbaring dan menelepon Sanaya di tempat tidur dalam kamarnya.
“Berapa harga sewa bajumu?” tanya Maisara begitu telepon tersambung.
“Tiga ratus ribu!” jawab Sanaya dari seberang sana.
“Apa kau mau memarasku, mana ada sewa baju semahal itu, apa itu baju Elvis Presley?”
“Tidak! Itu memang harganya!”
“Mahal sekali, aku bukan orang kaya, kau tahu itu, apa bisa di bayar bulan depan, waktu aku gajian?”
“Kau sudah tiga lebih dari tiga hari tidak update, mana bisa gajian seperti biasa?”
“Aku punya pembaca setia, jadi aku punya banyak uang bulan depan, jangan kuatir!”
Seandainya saja bisa minta uang sewa baju pada Harlan sialan itu!
“Tapi, pemilik baju sudah menagihnya hari ini!” suara Sanaya terdengar panik.
“Baiklah kalau begitu, aku besok akan ke rumahmu! Aku akan membayarnya lunas!”
Maisara tertidur setelah itu, dengan terpaksa ia akan memakai uang bela sungkawa yang diberikan Harlan beberapa hari yang lalu, untuk membayar sewa baju.
Keesokan harinya, ia sangat senang karena tidak harus bertemu Harlan lagi. Ia bisa pergi dan pulang dengan bebas. Bahkan, suaminya itu tidak marah walau ia pergi ke kantornya. Tidak mungkin anak buah tidak mengatakan pada sang Bos bahwa, ia datang berkunjung ke sana hari itu.
Namun, hari ini seperti kemarin, saat ia turun untuk sarapan, Hara melarangnya pergi atas permintaan Harlan.
“Kapan Harlan sarapan, ini masih pagi, Bi!”
Maisara berpikir kalau Harlan tidak mungkin pergi lebih pagi dari dirinya.
“Tuan tidak sarapan, tapi membawa bekal dari rumah tadi,” ucapan Hara membuat tanda tanya besar dihati Maisara.
Untuk apa?
Namun, sekeras apa pun Hara melarang, Maisara tetap pergi juga dan wanita paruh baya itu pun hanya bisa pasrah. Ia mengangkat bahu merasa tidak berdaya dan hanya melaporkan keadaan yang sebenarnya pada Harlan, tanpa mengurangi atau menambahnya.
Maisara menemui Sanaya, di sebuah taman kota yang dulu sering mereka datangi saat masih kuliah.
“Hai, Mai! Apa kabar?” tanya Sanaya dan seorang laki-laki sebaya pada Maisara. Gadis itu terkejut dan balik menyapa Putra, salah satu temannya, sesama aktivis kampus.
“Kau lama sekali!” kata Sanaya kesal.
“Jadi, kalian sudah lama di sini?” tanya Maisara mengabaikan Sanaya dan hanya Fokus pada Putra, sebab mengherankan saja setahu Maisara, laki-laki itu tidak berada di negara ini dia melakukan bisnis perjalanan di luar negeri.
“Aku kembali untukmu, Mai! Aku dengar semuanya dari Sanaya tentang perusahaan Ayahmu!” kata Putra, dengan penuh penekanan.
Maisara menatap Sanaya secara bergantian dengan Putra. Ia merasa dua sahabatnya itu menyembunyikan sesuatu.
Merasa dicurigai, akhirnya Sanaya pun bercerita jika awalnya ia salah menekan nomor telepon hingga tersambung kepada Putra, karena merasa tidak ada topik yang harus dibicarakan dengan pria itu akhirnya Sanaya menceritakan tentang keadaan Maisara dan warisan sang ayah yang bermasalah.
Sanaya sendiri tidak menyangka jika keesokan harinya Putra datang ke rumah. Lalu, ia mengadakan perjanjian hari ini untuk bertemu beetiga dengan Maisara. Setelah sahabatnya menghubungi tadi malam, ketika membicarakan tentang pembayaran sewa baju.
Putra berniat membantu Maisara dengan menanamkan modal di perusahaannya. Dia mengaku jika tidak memiliki pengalaman dalam hal apa pun tentang bangunan dan konstruksi, karena yang ia lakukan selama ini adalah, bisnis travelling. Namun, karena ia prihatin pada wanita yang ia sukai dan kebetulan memiliki modal yang diperkirakan cukup. Ia pun memberanikan diri, untuk menopang permodalan di perusahaan Hansan. Selain itu, membantu teman, membuatnya terpacu untuk mencoba mengembangkan usaha.
Maisara begitu bahagia mendengarnya, tapi ia harus mengkalkulasi kembali semua kebutuhan biaya dari total kerugian yang ditanggung perusahaan ayahnya.
“Jadi, ini tidak akan sebentar untuk membuat totalkan biayannya, kapan kita bisa ketemu lagi? Kalau besok rasanya tidak mungkin aku ada acara di tempat lain!” kata Maisara kepada Sanaya dan Putra. Maksudnya pergi ke tempat lain adalah, jadwal untuk mendatangi dokternya.
“Baiklah, ayo kita bertemu lagi, lusa!” kata Putra, “aku tidak punya banyak waktu di sini, mungkin selebihnya komunikasi kita hanya bisa melalui video atau telepon, bagaimana menurutmu?”
“Tidak masalah!” sahut Maisara yang dipanggil Sanaya.
Setelah itu, ketiga teman sesama aktivis itu pergi menuju restoran, yang tidak jauh dari taman. Mereka makan siang bersama dan menghabiskan banyak waktu, untuk bercerita mengulas masa lalu dan pengalaman sebagai aktivis di kampus mereka.
Mereka berpisah di halaman parkir restoran, Putra pergi lebih dulu karena Maisara menolak di antar pulang. Sedang ia pun menolak di antar Sanaya.
Namun, karena curiga, Sanaya mengikuti langkah Maisara secara diam-diam, sebab ia heran mengapa belakangan sahabatnya itu selalu menolak untuk di antar pulang. Di mana kediamannya sekarang pun ia tidak tahu.
Sanaya terkejut begitu sampai di taman tempat awal mereka bertemu, sopir langsung membukakan pintu mobil mewah begitu Maisara terlihat di hadapannya.
“Mai! Siapa pria tua itu?” tanya Sanaya saat Maisara hampir memasuki mobilnya.
Maisara terkejut melihat Sanaya dan ia pun mengarang cerita jika pria tua itu, hanya ingin membalas jasa, karena ia merasa berhutang Budi atas kebaikannya di masa lalu.
Meskipun, terdengar janggal, Sanaya begitu mempercayai cerita sahabatnya hingga ia pun pergi meninggalkan Maisara dengan sopir, tanpa bertanya lebih jauh lagi.
Sore hari, Maisara baru tiba di vila Harlan. Ia yakin tidak akan bertemu lagi dengan Harlan. Sudah beberapa hari ini ia tidak melihat pria itu dan ia merasa senang.
Namun, sesampai di rumah ....
“Dari mana saja kamu?”
❤️❤️❤️❤️