Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 80


Raina Melahirkan


Maisara diam, ia tampak berpikir, tapi bagi Harlan, diamnya adalah jawaban ya.


Selama ini Sahida tidak berani mendekati Maisara, tapi karena dendam ia bertekad untuk menghancurkannya. Semua karena Nella sudah di usir pergi ke luar kota oleh Harlan.


Setelah selesai berpakaian, mereka makan siang bersama, dengan para pegawai dan juga pengawal dalam satu meja. Biasanya di mana pun berada, pria itu tidak pernah makan dalam satu meja dengan pegawai rendahan seperti karyawan Maisara. Mereka memiliki keuntungan bisa makan dengan Presdir Mahespati. Sungguh keuntungan yang tidak dimiliki pegawai lain di perusahaan Mahespati sendiri.


Setiap kali kedatangan Harlan, para pegawai akan memiliki tempat yang cukup besar. Mereka mengubah meja yang biasanya digunakan untuk menghamparkan lembaran kertas yang akan dipotong sesuai ukuran, menjadi tempat untuk makan bersama.


Dalam percakapan di meja makan, Harlan tahu kalau poster dirinya yang membawa bayi, jauh lebih diminati. Pria itu hanya tersenyum sinis, ia pikir bahwa, ide gambarnya adalah alasan Maisara agar bisa menundukkan hatinya demi seorang anak.


Mangkinkah aku harus mengasihani diriku sendiri? Seharusnya, memegang kipas jauh lebih baik bagi seorang pendekar, daripada bayi!


Sementara Maisara memikirkan bagaimana akhir yang bagus untuk komiknya, ia memiliki target yang benar. Expisode terakhir akan ia selesaikan sebelum satu bulan menjelang melahirkan.


$$$$$$$$$$


Tiga bulan setelah kejadian, di mana Hansen menyekap sepasang kekasih—Roni dan Nella di rumah sederhana, dengan bertujuan untuk memeras Harlan, ia tidak pernah bertemu lagi dengan pria itu. Namun, ia juga tidak menemukan Raina di seluruh penjuru kota. Gadis itu bagaikan hilang ditelan bumi.


Hansen tidak tahu kalau gadis itu pergi atas keinginan Harlan juga, yang meminta Raina untuk tidak menampakkan wajah di hadapannya.


Namun, hari itu di rumah sakit, Hansen tengah memeriksakan dirinya sendiri ke dokter spesialis di sana. Ia memang tidak pernah sehat sejak kejadian kecelakaan itu. Walaupun, ia selamat, tapi jantung dan paru-parunya bermasalah akibat menghirup asap pekat dari ledakan mobil Harlan waktu itu. Ada aroma dari zat kimia yang ia campurkan dalam mesin mobil itu, terhirup sendiri olehnya.


Hansen masih ingat saat ia sengaja membuat sebuah minuman untuk Harlan, yang bisa melemahkan urat syarafnya saat nanti mengemudi. Ia melihat reaksi akan terlihat beberapa jam setelah diminum. Namun, Harlan begitu kuat hingga tidak terlihat lemas walau sudah beberapa jam. Oleh karena itu ia merusak mesin mobilnya. Sekali lagi ia harus kecewa karena Harlan tetap hidup, tidak tewas seperti harapannya.


Kini, kesehatannya jauh semakin menurun, sejak saat itu. Ia datang ke kota sebenarnya atas dasar terpaksa, yaitu karena penyakitnya. Tidak ada yang rumah sakit yang memadai di semenanjung pesisir, ujung pulau di mana ia melarikan diri selama ini.


Mencari Raina adalah alasan sampingan saja, tapi kalau masih bisa memilikinya, ia pasti akan bahagia sebelum mati dengan tenang. Ia tidak menyangka kalau ternyata ada rumor beredar kalau Raina sudah menikah dengan Harlan. Ia pun semakin kecewa.


Hansen sudah memata-matai dua rumah pribadi Harlan, vilanya juga rumah keluarga Mahespati, tapi tidak pernah menemukan wanita pujaannya itu di sana.


“Raina?” gumam Hansen, saat ia melihat seorang pasien baru saja diturunkan dari ambulans itu, dan para petugas medis mendorong crack otomatis secara cepat, menuju ruang unit gawat darurat.


Hansen berlari mengikuti arah brankar dan berakhir di ruang penanganan pasien. Semua orang walau masih berhubungan dengan pasien, tidak boleh ikut masuk ke sana kecuali para dokter dan asisten mereka.


Benar, wanita itu adalah Raina, yang tak berdaya karena ia tiba-tiba saja terjatuh dan terpaksa melahirkan secara prematur dengan cara Cesare.


Hansen menoleh pada seseorang yang baru saja tiba.


Sari melangkah dengan cepat ke dekat pintu yang tertutup, wanita itu terlihat panik dan mondar-mandir di sana, sampai tidak memperhatikan Hansen yang duduk gelisah tak jauh darinya. Ia tadi ikut dalam ambulans yang membawa anaknya, tetapi ia langsung pergi ke ruang administrasi dan mendaftarkan Raina agar segera ditangani dengan sebaik-baiknya.


“Kau ibunya Raina, kan?” tanya Hansan setelah berdiri di samping Sari.


Sari menoleh dan menjatuhkan pandangan yang menelisik pada Hansen dari ujung rambut sampai ujung kaki. Lalu, dia mengangguk.


“Dan kau siapa?” tanyanya.


“Aku Hansen, apa kau ingat?”


Seketika Sari tertegun, ia lamat-lamat mengingat laki-laki yang dulu pernah menyukai anaknya itu. Namun, Raina mencampakkannya dan justru mengejar cinta Harlan yang sama sekali tidak tertarik. Begitu ia melihat kehadiran Hansan, tiba-tiba otak Sari menyala, ia memikirkan jika laki-laki itu bisa bertanggung jawab atas Raina dan bayinya.


Bukankah seorang laki-laki yang mencintai pasti mau melakukan apa pun, yang diinginkan orang yang dicintainya?


Ia hanya perlu bekerja keras untuk membujuk Raina kalau ingin mewujudkan rencananya. Biar bagaimanapun, memiliki seorang pendamping akan jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali.


“Oh ya! Aku ingat, bagaimana kabarmu, apa kau memiliki istri sekarang?”


❤️❤️❤️❤️