
"Apa ku bilang! Jatuh 'kan? Orang tua kalau ngomong di dengerin Rat!" gerutu Devi menepuk-nepuk badannya yang sedikit kotor karena terjatuh dari motor.
"Dev, kamu gak apa-apa 'kan?" tanya Ratna panik saat terjatuh.
"Iya, aku baik-baik saja Rat," jawab Devi berdiri dan membantu Ratna mengangkat motornya.
"Tapi, sikutmu luka Rat!" cemas Devi melihat luka di tangan Ratna.
"Sudah gak apa-apa? Hanya luka kecil saja," ujar Ratna menatap lukanya tapi terasa perih kalau tidak segera di obati.
"Aduuh! Mobilku baru saja ku cuci udah lecet! Gila nih cewek, belok gak lihat jalan pula!" kesal Gilang keluar mobil berniat menghampiri cewek tersebut.
Saat berjalan, Gilang terkejut karena cewek yang menabrak mobilnya adalah cewek yang tadi pagi berada di kampusnya. Gilang mendapat ide brilian untuk mengerjai kedua cewek itu.
"Heh, kalau mengendarai motor lihat-lihat jalan napa! Mobil segini gedenya, kok bisa nabrak sih!" bentak Gilang berdiri di hadapan Ratna dan Devi dengan tangan melipat di dadanya.
"Loh, kamu!" Ratna dan Devi berucap bersamaan saat mendapati yang ditabrak adalah mobil Gilang.
Keduanya tak menyangka, bahwa mobil yang ditabrak adalah mobil Kakak senior di kampusnya.
"Rat, gawat! Bisa gila aku kalau dia ngomel-ngomel gak jelas gini!" bisik Devi di telinga Ratna.
"Apa bisik-bisik! Kaget ya? Lihat mobil orang ganteng?" Gilang berkata penuh percaya diri di hadapan keduanya.
"Apa kamu bilang? Ganteng? Hueeekk…!" Ratna mempraktekkan gaya orang yang sedang mual dan Devi hanya tertawa cekikikan melihat aksinya itu.
"Gak mau tahu! Pokoknya ganti rugi. Kamu sudah merusak cat mobilku!" cecar Gilang menunjuk ke bamper yang lecet di sebabkan oleh kedua gadis itu.
"Ogah ganti rugi! Mobil kamu aja yang nabrak aku tadi!" ketus Ratna membalas perkataan Gilang tak terima.
Sedang Devi hanya diam menyimak obrolan mereka berdua dan disaksikan banyak orang yang lalu lalang.
"Pokoknya ganti rugi titik! Kalau tidak mau bayar, akan kubawa ke jalur hukum!" ancam Gilang pada Ratna dan Devi.
"Jangan dong! Iya-iya aku bayar. Berapa sih uang ganti rugi nya?" sahut Devi yang merasa takut bila berurusan dengan hukum walau pun sebenarnya dirinya tak bersalah.
Sedang Ratna hanya menyimak omongan lelaki itu yang banyak bicara dan pintar memanipulasi bila terjadi seperti ini.
"Lima juta rupiah." Gilang menjawab dengan enteng dan membuat kedua gadis itu membelalak mendengar nominal yang disebut.
"Lima juta!"
"Kenapa! Gak mau bayar?" Gilang menatap mereka dengan senyum remeh.
"Bukan gak mau bayar, tetapi aku mana ada uang sebanyak itu? Kita 'kan saling kenal dan satu kampus. Please ringanin ya?" Devi memelas pada Gilang yang notabene suka seenaknya ngerjain cewek yang baru di kenalnya di kampus.
"Gak bisa. Lima juta atau mau ku tambahin kalau masih protes." Gilang semakin gencar ngerjain cewek itu dan tertawa terbahak-bahak dalam hati.
"Enak aja mau tambahin nominal nya. Baru lecet sedikit aja mau nodong minta uang 5 juta. Sudah Dev, jangan ladenin omongan lelaki ini. Lebih baik kita pergi dari sini dan mengantarmu pulang." Ratna segera naik motor diikuti Devi dan melaju meninggalkan Gilang begitu saja dengan segala ocehannya.
"Eh…eh…! Mau kemana kalian! Urusan kita belum selesai. Awas ya kamu! Ku catat nomer motor kamu." Gilang segera memotret nomor plat motor Ratna yang belum menjauh dengan senyum smirk.
"Lihat saja besok kalau ketemu. Habis kamu."
Sedang Devi menoleh ke belakang, melihat apa yang dilakukan kakak seniornya itu.
"Rat, Rat! Lihat deh, ngapain tuk cowok motret kita. Jangan-jangan dia rencanain sesuatu," ucap Devi pada Ratna.
Ratna pun melihat dari spion motornya dan benar apa yang dikatakan Devi, bahwa cowok itu merencanakan sesuatu pada dirinya dan juga Devi.
Sampai di depan rumah, Devi turun dan mengajak Ratna masuk untuk mengobati luka di lengannya
"Ayo masuk dulu Rat! Lukamu itu harus di beri obat agar tidak terjadi infeksi," ajak Devi pada Ratna.
"Tapi Dev-! Beneran gak usah Dev, hari sudah semakin sore. Sudah ditungguin Ibu ini," tolak Ratna halus yang masih duduk di motor.
"Gak ada tapi-tapi an! Ayo masuk! Kalau gak mau, kuseret nih! Keras kepala juga nih anak," omel Devi memegang lengan Ratna yang berniat kabur sebelum di obati.
Dengan terpaksa Ratna turun dari motor dan masuk ke rumah Devi.
"Assallamualaikum," sapa Devi dan Ratna bersamaan.
"Waallaikumsallam," sahut orang di dalam dan ternyata Mama Devi beneran sudah pulang.
"Astaga Devi, jam segini baru pulang? Eh, Ratna juga datang. Loh ini kenapa dengan lenganmu Rat?" tanya Bu Yuli dengan cemas.
"Hehehe, maaf Ma. Tadi ada kejadian tidak terduga," jawab Devi cengengesan memperlihatkan giginya yang putih.
"Hanya luka kecil, Tan. Tadi keserempet motor di jalan, untung tidak terjadi apa-apa," ucap Ratna beralasan agar tidak membuat cemas pada orang tua Devi.
"Oh, lain kali hati-hati di jalan. Sekarang banyak pengendara naik motor suka ngebut gak jelas. Ayo masuk dulu, lukamu tetap harus di obati," tutur Bu Yuli mempersilahkan duduk Ratna di sofa.
"Iya Bu."
Devi menuju kamar untuk mengambil kotak P3K dan kembali menemui Ratna di ruang tamu.
"Sini, mana lenganmu?" Devi menarik dengan pelan lengan Ratna.
"Ya ampun, lukanya hampir mengering. Sebentar, ku ambil air dulu untuk membersihkan lukanya." Devi mengambil kapas dan berdiri menuju dapur membasahi kapas.
Kembali dari dapur, Devi membersihkan luka Ratna lalu mengobati dengan obat merah dan memberi plester biar cepet sembuh.
"Nah, sudah selesai. Sekarang, silahkan pulang!" ucap Devi pada Ratna.
"Dih, giliran begini main usir. Dasar teman gak ada akhlak," cibir Ratna dengan mulut komat kamit.
"Lah, katanya sudah ditunggu ibumu. Ya, sudah sana pergi? ''Kan sudah di obati?" ujar Devi seraya mendorong Ratna pelan.
"Iya-iya, aku pergi dulu. Tan, Ratna permisi pulang, salam buat Om Adam ya?" pamit Ratna pada mamanya Devi dan mencium punggung tangannya.
"Iya, nanti disampaikan. Hati-hati di jalan ya?" ucap Bu Yuli tersenyum.
Devi mengantar Ratna sampai di depan. "Makasih ya Dev, sudah di obati?" ucap Ratna tersenyum seraya naik motor.
"Iya, sama-sama. Salam buat Adik dan juga ibumu," kata Devi.
"Oke, aku pulang ya?" pamit Ratna dan Devi menganggukkan kepala tersenyum.
Ratna melajukan kendaraan roda duanya membelah jalanan menuju rumahnya.
Sedang Gilang telah sampai di rumah pamannya dengan menggerutu kesal terhadap dua gadis tadi.
"Sial bener ketemu cewek keras kepala!" kesal Gilang masuk kerumah dengan wajah di tekuk.
Hujan-hujan gini enaknya makan bakso atau mie ayam nih. Bab 2 udah up ya, tinggalkan jejak kaki kalian di sini. Happy reading 😘