
Siapa Yang Tidak Sopan
Akhh, mereka tampak serasi sekali! Oh, ternyata dia baik-baik saja, aku pikir dia sekarat waktu itu.
Maisara menelisik pada Roni yang sedikit berubah baik gaya rambut dan pakaiannya yang tampak lebih dewasa.
Mungkin dia sudah insyaf dan hendak move on!
“Oh! Kau masih di sini, Nela? Aku pikir kau pergi dengan ibumu itu ke luar negeri dan menghabiskan yang Ayahku dengan laki-laki itu?”
Maisara mendengar informasi terakhir kali kalau ibu tirinya pergi tepat sepekan setelah ayahnya dikuburkan, untuk menyusul laki-laki yang diakuinya sebagai adik, ke luar negeri. Tiba-tiba ia menyesal, mengapa dulu sang ayah mau menikahi perempuan yang ternyata, hanya seorang penipu dan meninggalkan ibunya.
“Tutup mulutmu! Siapa yang kau maksud dengan Ibu? Aku anak yatim piatu!” kata Nella kembali bersikap kasar.
“Jangan pura-pura, aku mendengar sendiri kau memanggil Sahida dengan Ibu di belakang rumah!”
“Kau tidak sopan sekali, aku menyesal menjadi saudaramu, Mai!”
Nella menunjukkan kepura-puraan lagi dengan menangis sedih, saat Maisara membuka kebohongannya selama ini, ia khawatir kalau masa lalu keluarganya yang kelam itu diketahui Roni.
“Siapa yang tidak sopan, aku atau kau? Hah! Siapa juga yang mau punya saudara seperti kamu?” Maisara kembali bicara kasar sambil berdecak kesal.
“Kenapa kau jadi seperti ini, Mai? Kau kesal ... Apa kau marah, karena Roni memilihku?”
“Apa?” Maisara berkata sambil melirik Roni dan menggelengkan kepalanya.
Cih! Maisara membuang muka sambil tersenyum mengejek.
“Mai! Jangan salahkan aku ... dia yang lebih memilihku dari pada dirimu!” Nella berkata dengan wajah dan suara memelas.
“Ah! Ya. Ambil saja, dia bekasku!”
“Kau!” Nella berkata sambil melayangkan tangan hendak menampar pipi Maisara, tapi Roni secepat kilat menahannya. Nella membanting tangannya sendiri ke bawah dan melihat Roni dengan tatapan kecewa.
“Kenapa kau membelanya? Apa kau masih mencintainya, Ron? Katakan padaku!” tanya Nella gelisah.
Roni sudah mengalami hal buruk, karena Maisara, dan ia tidak ingin membuat semuanya semakin rumit. Biar bagaimanapun, Harlan sudah sembuh dan ia bukanlah tandingannya. Ia bisa hancur dalam sekejap kalau menyakiti mantan kekasihnya itu.
Ia tidak tahu apakah Harlan mencintai Maisara atau tidak, karena mereka baru dipertemukan setelah menikah. Namun, sikapnya yang mendukung sang istri hingga mematahkan beberapa tulang ditubuhnya, itu menunjukkan keberpihakan yang tak terbantahkan.
“Tidak, aku tidak membelanya. Jangan berurusan lagi dengannya, ayo! Kita pergi dari sini!” kata Roni kemudian sambil menarik tangan Nella memasuki lift, ia sempat melirik Maisara sekilas tapi yang dilirik tidak melihatnya sedikit pun.
Dalam pikiran Maisara menduga jika kedua orang itu hendak memeriksakan kandungan Nella. Mungkin saja sepupunya itu hamil buah cinta mereka.
Setelah keluar dari rumah sakit, tanpa diberi tahu, sopir sudah menjalankan mobil ke Gedung Mahespati Industries, sedangkan Maisara menarik nafas berat. Ia tidak tahu apa tujuannya ke tempat itu, dan ia lebih memilih diam di mobil dalam waktu yang cukup lama.
Sopir sudah berulang kali menanyakan sikapnya yang aneh, karena khawatir sang Bos menunggu istrinya di dalam sana. Maisara pura-pura menelepon seolah-olah membatalkan janji. Namun, baru saja ia hendak meminta sopir untuk kembali. Seorang pria mendekat dan mengetuk kaca jendela mobil beberapa kali.
Ia adalah Taupan, pria yang pernah dilihat Maisara saat pesta malam di vila Harlan, di mana ia mengenal Raina untuk pertama kali. Pria itu baru saja keluar kantor dan saat melihat mobil yang membawa Maisara berhenti di depan pintu lobby. Tentunya ia curiga.
Taupan mengenali plat mobil milik keluarga Harlan, dan melihat jelas wajah sopir hingga ia menduga jika Maisara ada di dalamnya. Ternyata tebakannya benar. Meski ia tidak tahu atas dasar apa Maisara berada di kandang singa, tapi keingintahuannya jauh lebih besar dari pada kemarahan Harlan.
Kaca mobil turun secara perlahan dan Taupan menyalami Maisara, yang disambut dengan hangat.
“Turunlah, Nyonya Haya!” kebetulan Tuan tidak ada di kantor, kau bisa bebas di sana!” kata Taupan ramah. Namun, Maisara justru canggung.
Taupan membukakan pintu untuk Maisara dan pria itu berjalan lebih dulu menuju kantor, ia hendak menemui seseorang tadi, tapi karena melihat Maisara, ia pun mengurungkan niatnya.
Setelah pesta malam itu, Fhedi menceritakan semua kejadian pada sahabatnya, kini ia paham bagaimana posisi Maisara di sisi Bos-nya.
Maisara hanya melihat-lihat dan Taupan menemani serta menjelaskan semua bagian yang ada di gedung dengan sabar. Ia tidak merasa perlu untuk bertanya keperluan Maisara berada di sana, karena dia adalah Nyonya Harlan, ia memiliki hak juga, meski suaminya belum tentu berpikir sama.
Perjalanan mereka berakhir di dalam kantor Harlan yang luas dengan fasilitas lengkap di dalamnya. Segala kemewahan tersaji di dalamnya.
“Nyonya, lebih baik makan siang dulu sebelum pulang,” seru Taupan menawarkan makan siang dan berharap Maisara menerima tawarannya. Ia gadis yang manis serta berwibawa, ada aura ceria mengelilingi hingga siapa pun yang bersamanya seolah terbawa kehangatan.
“Terima kasih, Taupan. Kau sudah memberiku banyak informasi hari ini, rasanya aku jadi berharap Hansan Foundation akan sebesar Mahespati!”
“Tentu saja bisa, ada Tuan Harlan di sisi Nyonya, dia ahli dalam berbisnis, tidak ada salahnya memintanya bekerja sama!”
Hai! Dia sudah memberi tawaran yang sangat lugas dan jelas, apa ini jebakan agar aku jatuh seluruhnya dalam kekuasaan Harlan? Tidak akan!
“Apa kau bercanda? Hansan bergerak di bidang yang berbeda dengan Mahespati Industries, jadi aku tidak mungkin bekerja sama!”
Taupan menjadi putus asa, padahal ia pikir tidak ada salahnya mencoba atau mengganti produksi. Kalau berada di tangan orang yang berpengalaman, tentu hal seperti itu akan mudah di tangani.
Sedikit banyak, Taupan tahu masalah Hansan yang mendekati kebangkrutan. Hutangnya banyak di mana-mana karena harus membayar kompensasi dari gagalnya perjanjian atau pengunduran diri mereka dalam proyek yang sudah terlanjur disepakati.
“Nyonya, mengapa tidak menjual Hansan pada Tuan Harlan saja?” tanya Taupan kemudian, “Menurut saya, itu akan jauh lebih mudah, selain bisa untuk membayar hutang, biarkan Tuan mengelola dan Nyonya tinggal menikmati hasilnya!”
Ya, itu kalau bagi istri yang dicintai!
“Maaf, saya rasa kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusanku!”
“Maafkan saya!”
Maisara pergi setelah itu, tapi ia tidak marah, karena usul Taupan adalah secara spontan, dari orang yang sebaya dengan Harlan dan mengetahui bisnis lebih banyak dari pada dirinya.
“Sekali lagi terima kasih banyak, kamu sudah menemaniku hari ini, Taupan! Semoga kamu sukses!”
“Terima kasih atas doanya, Nyonya! Mendoakan saya sukses berarti mendoakan Tuan, sebab kesuksesan Tuan adalah kesuksesan saya!”
Maisara tercengang, ia tidak menyangka kalau kesetiaan anak buah Harlan sedemikian loyal padanya.
Ahk, tapi tidak mungkin sepadan dengan sebuah nyawa! Kesuksesan tidak bisa disamakan dengan berharganya sebuah kehidupan di dunia. Kadang Manusia meminta pada Tuhan agar di beri kekayaan dan kesuksesan dalam hidup, tanpa mereka sadari bahwa hidup itu sendiri adalah kekayaan yang sesungguhnya.
Saat hendak memasuki mobil yang berada di halaman parkir, seseorang memanggil Maisara. Ia menoleh guna memastikan kalau orang yang memanggilnya jelas dikenal.
“Untuk apa kau datang ke sini?” tanya Raina dengan ketus, saat sudah saling berhadapan.
Diam-diam seseorang membuat video dan mengirimkannya pada Harlan.
Maisara menghentikan niatnya pergi, ia menarik napas dalam sebelum bicara dan menjatuhkan tatapan merendahkan pada gadis di hadapannya.
Dia gadis murahan, rela diperlakukan seperti boneka tanpa perlawanan padahal, tidak punya ikatan dan hanya sebagai karyawan, itu pun kalau di kantoran. Kalau di luar, dia bukan siapa-siapa bagi Harlan. Apa peduliku!
“Apa pun tujuanku ke sini ... bukan urusanmu, ini perusahaan suamiku! Jadi, aku berhak ke sini kapan saja, iya kan? Kau yang cuman pegawainya saja bebas berada di sini, apalagi aku, istrinya!” jawab Maisara sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
❤️❤️❤️❤️