
Kemarahan Harlan
Sementara itu di tempat yang berbeda. Harlan tengah berdiri di depan pintu rumah Maisara sambil meremas telepon genggamnya. Kalau benda itu terbuat dari kaleng, mungkin sudah penyok atau hancur di tangannya. Ia kesal karena tidak bisa menghubungi nomor istrinya. Para pengawal yang telah membuatnya kecewa, baru saja ia pulangkan.
Dia kabur lagi, awas nanti! Aku harus membalasnya dengan lebih serius, aku sudah terlalu baik!
Pria itu akhirnya pergi dari depan rumah Daina, ia tidak mau mengulangi perbuatan bodohnya seperti kemarin. Ia pingsan hanya demi menunggu seorang perempuan membukakan pintu.
Saat ia baru saja meninggalkan rumah Daina, seorang nenek tua tetangganya bertanya pada rombongan kecil itu, “Apa kalian mencari Daina dan putrinya?”
“Ya!” pengawal yang antusias menjawab pertanyaan nenek tua tetangga Daina, mewakili Harlan—tuannya.
“Mereka pergi membawa koper besar ke stasiun kereta tadi siang!” sahut nenek tua itu sambil berlalu.
Harlan turun dari rumah susun itu sambil menyesali dirinya, kenapa harus tidur setelah melakukan hubungan itu dengan Maisara. Wanita itu terlalu nikmat, hingga hormon endolpin yang dihasilkan sangat bagus, membuatnya tertidur dengan pulas. Bahkan ia tidak menyadari pergerakan tubuh Maisara saat turun dari ranjang rumah sakit.
Saat ia terbangun, hari sudah menjelang sore dan mendapatkan dirinya hanya sendiri tanpa Maisara di sisinya. Padahal ia sudah mengingatkan wanita itu agar tidak pergi, karena ia tidak akan membawa Raina ke rumah. Bahkan ia mengizinkannya melahirkan anak mereka nanti. Pria itu sangat tersinggung, karena merasa kebaikannya diabaikan.
Harlan melihat ponselnya yang sengaja di matikan, sejak ia masuk rumah sakit, dan baru ia nyalakan setelah bangun dari tidur, karena kelelahan telah melakukan pergulatan. Ia terkejut melihat banyaknya laporan dari pengawal dan melihat video bagaimana Maisara bisa mendapatkan tangannya terlilit sampai bengkak.
Wanita itu!
Tanpa berpikir panjang, Harlan meminta Raina dan Sari datang menemuinya di rumah sakit, melalui pesan yang sangat singkat. Pesan yang tidak wajar di kirimkan oleh seorang suami pada istrinya.
Segera datang ke rumah sakit Pusat Kota, di kamarku! Ajak ibumu juga!
Dua wanita itu datang dengan pakaian bagus dan riasan wajah yang pantas untuk menemui seseorang yang penting. Tak lupa mereka membawa bingkisan dan makanan. Mereka berpikir kalau kemungkinan Harlan atau Wendi sedang sakit, makanya meminta keduanya datang ke rumah sakit.
Sari menganggap undangan itu adalah sebuah perkembangan dari hubungan anaknya dengan Harlan. Kalau soal pertanyaan mengapa mereka diundang ke rumah sakit, ia bisa mempertanyakannya kalau sudah bertemu. Untung saja mereka sudah tahu sejak lama, di mana biasanya keluarga Harlan dirawat apabila sakit, sehingga ia tidak perlu repot-repot menanyakan di mana kamarnya.
Namun, setelah mereka tiba di kamar itu, baik Sari maupun Raina, tidak mendapatkan ucapan apa pun dari mulut Harlan. Pria itu hanya diam sambil melotot pada mereka.
“Apa maksudmu mengundang kami kemari, Harlan?” tanya Raina lembut. Ia mendekati Harlan dan memeluk lengannya, tapi Harlan menepisnya kuat-kuat.
Harlan hanya bicara cukup keras pada pengawal.
“Harlan! Kenapa kau mengurung kami apa salah kami?” kata Raina saat pria itu berjalan menuju pintu.
Harlan enggan menjawab, ia hanya melirik sebentar lalu melanjutkan langkahnya menuju ruang ICU di mana Wendy berada.
“Nyonya dan Nona bisa memikirkan kesalahan apa yang sudah kalian lakukan, sampai Tuan bisa marah dan mengurung Anda berdua di sini!” kata pengawal sebelum menutup pintu dan menguncinya, sedangkan pengawal yang lain membawa semua bingkisan dan makanan dalam paper bag, yang dibawa oleh Sari dan Raina.
Sepertinya mereka sengaja membuat dua wanita itu kelaparan semalaman di sana.
Tentu saja sikap aneh ini membuat Raina dan Sari berpikir keras hingga kemudian ibu dari anaknya itu mengatakan jika ia sudah berbuat sesuatu pada Maisara, saat mereka secara tidak sengaja bertemu di halaman mall Kota Askanawa. Anak perempuannya yang tidak percaya dengan apa yang dilakukan ibunya, hingga bisa membuat Harlan menghukum mereka.
“Jadi itu artinya, kita tidak bisa berbuat macam-macam dengan perempuan itu? Dan kalaupun kita melakukannya, maka seperti inilah akibatnya, begitu?” kata Raina sambil mondar-mandir dalam ruangan yang kini tiba-tiba berubah menjadi gelap. Mereka hanya menggunakan penerangan dengan ponselnya.
Beberapa kali mereka mencoba menghubungi Mukti—ayah Raina, tapi sinyal pun tiba-tiba lenyap.
“Kita bisa kalau mau mencelakai wanita itu agar pergi dari kehidupan Harlan, gunakan saja tangan orang lain sehingga kita tidak mengotori tangan untuk melakukannya!” ujar Sari sambil merebahkan diri di bangsal rumah sakit itu.
Ahk, Untung saja kamar ini enak, hanya sekarang jadi gerah karena AC nya di matikan dari pusat kontrol.
“Apa Ibu pikir bisa berbuat seperti itu, tanpa diketahui kalau kitalah dalangnya?”
“Entahlah! Eum ... sepertinya kita hanya harus berhati-hati saja!”
Sementara itu, Harlan tengah marah di ruang kerjanya, ia menyimpan perasaan kesalnya dalam hati. Namun, ekspresi wajahnya tidak bisa bohong, rahangnya terlihat mengeras demi menahan diri. Ia kini tahu kalau Maisara pergi dari kota di distrik yang berbeda.
Beberapa kali ia menghela napas berat, Maisara berhasil membuatnya menjadi seorang yang penyabar. Dalam kemarahan itu, ia hanya duduk bersandar sambil mengetuk-ketukkan pena di atas meja.
Pengawal tidak tahu apakah ia harus sedih atau gembira dengan kenyataan itu, tapi melihat betapa merahnya wajah sang tuan, ia justru sangat kasihan.
“Tuan, apa aku harus membawa Nyonya pulang? Aku tahu tempat itu, karena kebetulan ibuku pernah tinggal di sana”
Tiba-tiba Harlan menyeringai.
❤️❤️❤️❤️