Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 96


Pulang Ke Askanawa


“Kenapa berhenti di sini, tidak ada warung baksonya?” Maisara bertanya sambil menjulurkan kepala dari jendela, menoleh ke kanan dan ke kiri tidak ada satu pun warung makanan yang dicarinya itu.


“Maisara, dengar ....!” Harlan berkata sambil melepas sabuk pengaman, lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Maisara.


“Apa yang akan kau lakukan?” ucap Maisara sambil memundurkan tubuhnya ke sisi pintu.


“Menciummu!, Aku ingin melakukannya sebelum kau menikmati bakso seperti yang kau mau!”


“Jangan macam-macam, ini di mobil! Aku tidak mau melakukannya!”


“Tapi, aku mau kalau kau mau makan bakso!”


“ka, kalau begitu, kita pulang saja sekarang!”


“Nah begitu baru bagus!” Harlan berkata sambil kembali ke posisinya, tapi ia tetap mencium bibir Maisara sekilas. Ia kembali mengenakan sabuk pengaman dan melajukan mobil.


Padahal Harlan bukan hanya menggertak tapi ia-benar ingin melakukannya, kalau Maisara tidak menolak.


Apa salahnya melakukan hal itu di mobil? Toh, banyak orang sering melakukannya di tempat ini!


Akhirnya Maisara lagi-lagi harus mengalah, ia menuruti keinginan suaminya untuk pulang ke Kota Askanawa, dengan alasan demi ibunya. Ia akan mencicil untuk mulai berkemas hari itu, dan memulai rapat dengan para pegawainya.


Setibanya di rumah, Maisara langsung pergi ke dapur dan meminta ibu serta pembantunya untuk membuat bakso untuk dirinya.


Harlan tahu permintaan istrinya itu dan ia mendekatinya.


“Kamu tidak mempunyai waktu untuk makan-makanan yang aneh-aneh seperti itu kalau mau membereskan perusahaanmu!” katanya, “aku dulu saat memulai jadi direktur, untuk makan saja tidak sempat, banyak sekali yang harus aku urus sebelum menemukan orang yang cocok dan bisa aku kendalikan, habis itu, baru aku bisa santai!”


“Memangnya tidak bisa ditunda kita pulangnya? Kan, kamu di sini sudah punya rumah, perusahaan kamu juga ada di sini, lagi pula sudah punya teman-teman yang jadi kepercayaan dan mengurus perusahaanmu di sana, kalau hanya soal ibu ... kan, Ibu bisa menunggu?”


“Kemarilah!” kata Harlan sambil meraih tangan Maisara dan diajaknya gadis itu duduk di sofa ruang kerjanya.


Mereka duduk seperti menempel sofa panjang, Harlan memeluk bahu Maisara, sambil menceritakan secara singkat tentang kejadian, ketika tidak bisa datang saat Maisara melahirkan bayinya.


Waktu itu ia tengah sibuk membereskan kekacauan di perusahaan cabang, tapi tiba-tiba sesuatu terjadi. Ia pergi ke suatu tempat setelah mendapatkan pesan dari Wendi.


Semua berawal dari saat Raina melahirkan anaknya secara prematur. Kemudian menuduh Harlan sebagai orang yang tidak bertanggung jawab karena mengabaikan wanita yang melahirkan anak itu.


Lalu, terjadi-lah insiden yang hampir merenggut nyawa Harlan. Namun, Tuhan masih memberi kesempatan pada pemimpin nomor satu di Mahespati Industries itu, untuk hidup. Walaupun kakinya patah, ia masih harus bersyukur dan selama itulah Wendy merawatnya, ia ingin anaknya benar-benar sembuh ketika menemui Masiara.


“Sebenarnya ibu mau ikut, tetapi penyakit tulangnya kambuh ...!” kata Harlan di akhir cerita.


Saat itu ia tidak bisa menunda kepergiannya untuk menjemput Maisara, karena helikopter sudah terlanjur di pesan. Akhirnya ia berangkat juga, dan Wendy pun berpesan agar membawa menantunya pulang secepatnya, karena ia ingin segera melihat cucunya.


“Jadi, kepergian kita besok tidak bisa ditunda, aku harus membawamu dan anak kamu, kasihan sama ibuku!”


“Itu anakmu juga!”


Harlan diam. Apa salahnya menyebut 'anakmu', dia merasa tidak bersalah, karena yang dikatakanya itu benar, Mahes adalah anak Maisara, bukan anak wanita lain.


“Jadi, Raina sekarang sudah punya anak juga?” kata Maisara, karena dilihatnya Harlan tidak berkomentar lagi.


“Ya, tapi anak itu tidak bertahan lama.”


“Oh, begitu ... kasihan sekali dia! Kamu pergi dan anaknya juga pergi! Pernikahan kalian sepertinya sia-sia,” kata Maisarah terdengar bersimpati pada Raina.


Harlan diam, tapi sejenak kemudian ia segera mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya dan menunjukkan sebuah foto undangan pernikahan seseorang, yang tampak di layar ponselnya.


"Lihat ini!" katanya.


Maisara membacanya lalu ia menarik nafas dalam sedangkan mulutnya terbuka, tapi ia segera menutupnya dengan telapak tangan.


“Apa? Sanaya mau menikah dengan Sunni?” katanya.


“Ya. Aku pikir dia sahabat kamu? Apa kamu tidak mau menghadiri pernikahannya?"


“Tunggu dulu, tunggu dulu ...!” kata Maisara sambil mengalihkan tatapannya dari ponsel ke arah wajah suaminya.


“Apa kamu bilang sesuatu pada Sunni tentang hubungan kita selama ini, apa Sanaya juga tahu aku sudah menikah denganmu?”


❤️❤️❤️❤️