
Hansan Foundation Dinyatakan Bangkrut
Ia lebih terkejut lagi saat melihat ada beberapa tanda di bagian dada, hingga ia bertanya-tanya, apa laki-laki itu berada di kamarnya semalam.
Apa ini? Pikir Maisara.
Ia memilih untuk mengabaikan keadaan tubuhnya, lalu menyimpan botol minyak kayu putih yang ada di tempat tidur, kembali ke meja rias. Setelah itu ia membersihkan diri, dan berganti pakaian dengan cepat.
Di meja makan, Maisara bertemu Harlan dan mengabaikannya. Pria itu sedang sarapan dengan tenang. Ia sudah melepaskan pandangan pada wanita itu sejak menuruni tangga.
Apa kamu liat-liat? Dasar pencuri ciuman! Mau punya istri baru, tapi masih mau sama istri lama! Awas kalau kamu melakukannya lagi, akan aku sumpal mulutmu itu!
Maisara pun membalas tatapan Harlan dengan tajam. Siapa lagi yang mewarnai dadanya kalau bukan pria yang masih sarapan itu.
Sementara pengawal pun memperhatikan Maisara, membuatnya geram. Bagaimana bisa perempuan itu menatap sang majikan dengan cara yang tidak sopan.
Maisara hanya mengambil dua lembar roti dan memakannya sambil berdiri, ia membawa tas besar yang dibawanya dari Aneovile kemarin.
“Kamu mau ke mana?” tanya Harlan, sambil menatap Maisara dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu berhenti pada tas besar yang diselempangkan di pundak.
“Bukan urusanmu!” sahut Maisara dengan roti yang penuh di mulutnya, ia berkata sambil berjalan melewati Harlan begitu saja.
Harlan membiarkan istrinya, karena ia sudah tahu ke mana tujuan wanita itu pergi. Ia mendapatkan laporan secara lengkap dan terperinci dari Sunni. Meskipun, ia kesal karena sahabatnya terus-menerus memuji Maisara, tapi ia puas karena wanita itu mau menerima pembelian tanpa banyak bertanya.
Hari itu, Maisara mengumumkan secara resmi jika Hansan Foundation sudah bukan miliknya lagi, dan dinyatakan bangkrut. Meskipun begitu, Hansan—ayahnya, tidak memiliki hutang piutang apa pun dengan orang luar. Semua pegawai di bebas tugaskan setelah diberi pesangon yang layak. Semua uang itu ia dapatkan dari hasil transaksi jual beli dengan Sunni. Perusahaan kecil itu tidak lagi memiliki tanggung jawab atas semua mitra kerjanya di masa lalu. Juga, gedungnya sudah dibeli dengan harga 20 milyar, atas nama Suni Sanjaya dengan perusahaan barunya.
Itu harga yang fantastis bagi sebagian orang, tapi beberapa orang pegawai termasuk Jaka, sangat bersyukur karenanya. Uang itu tidak dihambur-hamburkan untuk urusan pribadi oleh Maisara, sebab gadis itu menggunakannya untuk memberi uang gaji yang tertunda, sebagai ucapan terima kasih serta permintaan maaf secara resmi, atas nama ayahnya.
Setelah semua urusan selesai, Maisara menjabat tangan Sunni.
“Semoga kita bisa bertemu lagi Sunni!” katanya dengan tersenyum manis.
Mereka saat ini sedang berdiri di depan gedung Hansan.
Suni membalas senyuman Maisara dan berkata, “Memangnya aku bisa ke mana? Kau tahu, wanitaku sudah mengikatku di sini!”
“Siapa wanitamu, Sanaya? Jadi kalian sudah meresmikan hubungan kalian?”
Suni hanya mengangguk dan tersenyum, sikapnya menunjukkan jawaban, ya! Maisara merasa ketinggalan berita, dan lebih kurang ajar lagi, Sanaya tidak memberitahukan tentang hubungan barunya.
“Begitulah! Terima kasih Nona Haya, semua karena dirimu ... aku sangat mencintai Sanaya!”
“Sama-sama ... semoga hubungan kalian awet! Kalau begitu ... Jangan lama-lama, cepat bawa dia ke pelaminan dan beri aku keponakan!”
“Oh! Itu tidak mudah! Aku tidak akan melangkahi sahabat dan saudaraku!”
“Siapa mereka?”
Sunni hanya menjawab pertanyaan Maisara dalam hati, jika sahabatnya itu adalah Harlan. Kalau pria itu belum berani mengumumkan pernikahannya di media dan di mana pun, maka ia pun tidak akan menikahi Sanaya.
“Suatu saat kau akan tahu siapa yang aku maksud, Nona Haya!”
“Apa dia Fhedi? Kurasa dia sudah memiliki istri!”
“Bukan, lebih dekat lagi dari Fedi, dialah yang sudah membantuku atas transaksi ini!” sahut Sunni, sambil memasuki mobilnya.
Sunni sudah memberikan sebuah petunjuk dengan jawaban itu, ia berharap Maisara bisa mengerti dan menghargai usaha Harlan untuk dirinya.
“Jadi, kau tidak akan kembali ke luar negeri?” Maisara bertanya sebelum Sunni sempat menyalakan mesin mobilnya.
“Ya, mungkin sesekali saja aku ke sana dan akan kuajak Sanaya!”
“Oh! Aku ikut senang untuk itu, sahabatku punya kekasih yang baik seperti dirimu!”
“Terima kasih, kalau kau membutuhkan aku lagi, jangan sungkan! Aku akan membantumu selagi aku mampu!”
Maisara tersenyum sambil mengangguk hormat pada Sunni, sebelum laki-laki itu pergi.
Setelah kepergian Sunni, Maisara menatap gedung Hansan sekali lagi, ada kelegaan dalam hati, tapi secara bersamaan, ada sesak yang mengganjal di sana, tidak mudah melepas segala sesuatu yang berhubungan dengan seseorang sejak kecil.
Setelah puas melepas rasa sentimentil itu, Maisara meminta sopir mengantarkannya ke apartemen Daia. Lalu, ketika sudah sampai di sana, ia menyuruh sopir itu kembali ke villa Harlan. Ia akan menginap untuk beberapa hari dan berpesan, untuk menyampaikan keinginannya pada Harlan.
“Kenapa Nyonya tidak mengatakannya langsung pada Tuan?’ kata sopir itu saat Maisara selesai memberinya pesan.
❤️❤️❤️❤️