
Sudah Jelas Sekarang
“Harlan kumohon padamu, untuk kali ini saja, hanya sebuah peresmian dan aku tidak akan merepotkanmu lagi, kumohon! Apakah aku harus mengiris tanganku juga, seperti Raina hingga kau mau menikahinya?” kata seorang pria yang terlihat lebih tua.
“Siapa mereka?” tanya Maisara dalam hati, tanpa mengalihkan pandangannya.
Gadis itu terus menguping pembicaraan tiga orang yang berada di ujung lorong menuju deretan kamar rawat VIP. Ia sengaja merapatkan tubuhnya ke dinding dekat dengan mereka hingga ia bisa mendengar dengan jelas.
Saat itu seorang wanita yang ada di hadapan Harlan itu terisak lirih, dan berkata, “Kami sudah tua, siapa tahu bisa menambah banyak cucu dari anak Raina ... anakku itu sudah banyak mengorbankan dirinya untukmu sejak dulu.”
“Aku tidak pernah meminta atau menuntutnya!” seru Harlan ketus.
“Ya, kami mengakui kebodohannya, dia selalu menjaga diri waktu bersamamu, tapi justru hamil anak dari pria lain, tapi orang itu sudah meninggal, aku rasa kamu masih punya hati untuk Raina dan mau menikahinya!” kata wanita itu lagi sambil menghapus air mata yang mengalir di pipi.
Maisara seketika tertegun mendengar pembicaraan itu, hingga ia paham dan tidak berselera lagi untuk mendengarnya lebih jauh. Ia pun pergi. Ia tahu apa jawaban yang akan keluar dari mulut Harlan setelah itu.
Jadi untuk apa menguping, semua sudah jelas sekarang, batinnya sambil berlalu.
Di sisi lain, Harlan menghela napas berat dan melirik ke samping di mana ia menangkap sebuah bayangan yang berkelebat menjauh, dengan kening yang berkerut.
Apa ada yang menguping pembicaraan ini? Sial! Semoga bukan wartawan!
“Kalian tahu? Kan, aku sudah menikah, Raina pasti sudah mengatakannya pada kalian, aku tidak mencintai anakmu, apa dia mau jadi istri keduaku?”
Sari dan Mukti--kedua orang tua Raina itu tercengang, mendengar pengakuan Harlan yang terus terang mengatakan tidak mencintai anak mereka. Selama ini memang mereka merasa kalau Harlan terlalu acuh pada Raina entah karena orientasi yang berbeda atau bukan. Tidak mungkin seorang pria tidak mungkin menolak pesona Raina yang sangat seksi.
Dua orang itu heran, kenapa Harlan tidak tergoda pada Raina, tidak mungkin pula dia mencintai wanita yang baru dinikahinya. Mereka tidak percaya kalau seperti itu kenyataannya.
Ternyata, menghabiskan sekian waktu bersama dalam banyak peristiwa dan melakukan banyak hal baik, belum tentu bisa menjamin perasaan seseorang bisa luluh karenanya. Terkadang dunia menjadi terbalik bagi sebagian orang.
“Jadi, apa kau menyukai gadis itu, anakku lebih layak bagimu, Har! Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu?” tanya Sari, wanita itu lebih proaktif dalam bertanya.
“Aku akan menuruti keinginan kalian, asal jangan banyak bertanya tentang apa yang aku lakukan!” ucap Harlan, sambil berlalu pergi meninggalkan dua orang tua Raina dalam keadaan tak berdaya.
Mereka harus menyelamatkan anaknya walau harus memohon dan merendahkan harga diri di hadapan Harlan. Raina hamil dengan pria tak di kenal dan sekarang laki-laki itu di kabarkan telah tiada. Lalu, demi menyelamatkan muka, ia memohon pada Harlan untuk menikahinya tapi laki-laki itu tak memenuhi harapan yang tersisa.
Hari itu Raina begitu putus asa, dengan keadaan perutnya yang semakin lama akan membesar. Kalau hal itu terjadi, maka tidak bisa ditutupi lagi, sedangkan ia hanya ingin menikah dengan Harlan. Namun, apalah daya keinginannya ditolak mentah-mentah. Akhirnya ia berusaha menghilangkan nyawanya sendiri dengan memotong urat nadi.
Namun, usahanya mengakhiri hidup tidak berhasil, karena pembantu rumah tangganya mengetahui perbuatannya dan segera melarikan gadis itu ke klinik kesehatan terdekat. Kedua orang tuanyalah yang membawa Raina ke rumah sakit besar, untuk mendapatkan perawatan lebih intensif.
Harlan datang ke sana setelah diberitahu oleh kedua orang tua Raina ia meluangkan waktu untuk menengok sebagai perhatian pada orang yang sudah lama berteman. Ia tidak menyangka jika kedatangannya justru dimanfaatkan untuk ikut bertanggung jawab pada hal yang bukan perbuatannya.
Di salah satu kamar VIP, Raina masih dalam keadaan kritis.
Sementara itu Maisara berada di mobil, ia sedang menghubungi seseorang. Setelah itu ia meminta sopir untuk mengantarnya menemui seorang pengacara, yang dulu pernah dekat dengan ayahnya. Mereka bertemu di sebuah cafe, tempat yang sama ia gunakan untuk bertemu dengan Sanaya dan Suni.
Pada pengacara itu Maisara meminta untuk mengurus surat perceraiannya dengan Harlan.
“Kapan kau menikah dengannya, Nona Haya?” tanya pengacara, ia tampak kecewa karena tidak memberikan hadiah apa pun pada putri sahabatnya.
“Belum lama, maaf mengecewakan Paman!”
Maisara dengan berat hati mengatakan tentang pernikahannya dengan Harlan dan apa yang membuatnya ingin bercerai. Pada akhirnya ia tidak akan mempertahankan pernikahan ini, walaupun Harlan bersikeras menahannya pergi.
“Dia menahanku hanya untuk menyiksaku, dia bilang kalau dia akan melakukan apa yang tidak aku inginkan, itu artinya dia membenciku, tapi kalau sudah ada surat pengajuan, maka mau tidak mau dia harus tanda tangan!” kata Maisara di akhir ceritanya.
Maisara tertawa kecil, menertawakan dirinya sendiri, dan berkata, “Kau pasti bercanda, Paman!” Ia tidak percaya banyak wanita yang ingin mendapatkan posisinya.
“Baiklah, aku akan mengurusnya, tunggu sekitar satu pekan, temui aku lagi di sini.”
“Ya! Terima kasih, Paman!”
Maisara kembali ke vila setelah pertemuan itu, dan ia membatalkan kunjungannya ke apartemen Daina, karena hari sudah menjelang sore. Ia segera pergi ke kamar dan menyibukkan diri dengan ponsel. Tidak peduli lagi dengan Harlan.
Di tempat yang berbeda. Saat menjelang malam, Harlan bertemu dengan Suni di sebuah restoran untuk makan malam. Ia hampir tidak pernah menggunakan kursi rodanya lagi, sejak satu pekan terakhir.
Dia orang yang bersahabat sejak lama itu kini duduk saling berhadapan. Mereka berbincang setelah makan malam pesanan mereka terhidang di meja.
“Aku senang kau tidak butuh kursi roda lagi!” kata Suni, sambil mengiris daging steak pesanannya. Harlan pun menikmati menu yang sama.
“Mudah-mudahan aku tidak memakainya lagi sampai kapan pun, hanya saja aku belum bisa berjalan terlalu lama.”
“Apa ada perjalanan dengan kaki yang kau lakukan terlalu lama? Eh, kecuali lututmu, kalau kau melatihnya untuk bertahan lebih lama, itu jauh lebih berguna!”
“Untuk apa? Kekuatan lututku sudah bagus!”
“Oh ya? Kau pasti sering melatihnya saat bercinta dengan gadis itu. Dia cukup menarik, pantas kalau kau menyukainya!”
Harian tidak mengomentari ucapan Suni, ia enggan membahas soal perasaannya.
“Eum ... Lalu, bagaimana dengan Haira? Apa kau akan meninggalkannya? Dia terobsesi padamu, bahkan kalau kau memintanya melompati tebing, dia akan melakukannya!”
“Kau ini, bagaimana perjanjianmu dengan istriku?” Harlan tidak menjawab ucapan Suni lagi.
“Ah ya Tuhan! Kau sudah sejauh ini dengan menyebutnya istri? Tunggu sebentar lagi, dia masih memikirkan apa akan menjualnya atau tidak!”
“Kapan dia akan mengatakan keputusannya?”
“Aku tidak tahu! Dia akan menelepon kalau sudah memutuskan, kau tahu, Har! Istrimu punya sahabat yang manis!”
“Jangan bilang kau menyukainya, kau bisa megacaukan rencanaku kalau jatuh cinta!”
“Jangan melarangku jatuh cinta, aku sudah jauh-jauh pulang ke sini bukan untuk patah hati! Lupakan perjanjian kita!”
“Orang jatuh cinta bisa berbuat konyol! Makanya aku tidak akan jatuh cinta pada wanita mana pun, mereka bisa membuatmu lemah!” kata Harlan penuh percaya diri.
“Seperti kau contohnya?”
Suni tertawa terbahak-bahak, ia tahu betapa menggelikannya sikap Harlan, yang sembunyi-sembunyi untuk membantu Maisara. Ia meminta sahabatnya pulang ke negaranya, hanya untuk menjalankan rencananya.
Sebenarnya, Suni masih sibuk mengurus pembukaan kampus baru di universitas tempat ia bekerja. Namun, demi sang sahabat ia rela melakukannya.
Mereka berteman baik saat masih kuliah dulu. Setelah lulus, Harlan memilih kembali ke kotanya dan melanjutkan usaha ayahnya, sedangkan Suni memilih menetap di luar negeri dan menjadi staf ahli di universitas tempat ia mengabdikan diri.
“Siapa bilang aku jatuh cinta?” Harlan berkata setelah meletakkan sendoknya, ia sudah selesai makan.
❤❤️❤️❤️