Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 15


Masih Banyak Yang Lebih Baik


Harlan duduk ke arah jendela besar yang menghadap ke taman samping rumah, dalam ruang kerjanya. Dia masih memegang berkas tentang Maisara, yang diberikan oleh asistennya, sejak satu jam yang lalu.


“Perusahaan Hansan Fondation hampir bangkrut karena adik ipar Ayahnya korupsi, dan uangnya dibawa pergi ke luar negeri. Apa kau akan membantunya?” seorang pria berkata.


Dia adalah Fedi, teman sekaligus anak buah Harlan itu, duduk di meja kerja sambil mengetukkan rokok ke asbak. Ia pria blasteran yang mendukung bisnis Harlan di kota.


“Apa itu perlu, padahal aku akan bercerai darinya!” sahut Harlan sesudah itu.


Fedi tidak mengerti dengan pemikiran Harlan yang ia pikir sedikit kekanakan. Apa salahnya menyenangkan hati ibunya yang sudah tua, kasihan sekali wanita itu sekarang berada di rumah sakit. Ia harus dirawat karena hipertensinya kambuh.


Sebagai anak, harusnya ia bisa berpikir logis, ide ibunya untuk memiliki anak darinya itu sangat bagus. Harlan tidak perlu repot-repot menjauhkan wanita-wanita yang berusaha mendekati dan menginginkan berkencan dengannya. Cukup mengaku saja kalau dia sudah punya istri maka semuanya akan menjadi lebih mudah. Namun, itulah Harlan yang memilih jalan lebih sulit untuk soal percintaan.


“Reputasi tidak akan turun hanya karena kau mengakui punya istri dan anak bahkan bisa menahan saham di posisi rate terbaik itu bagus kenapa kamu nggak mau?” ujar Fedi serius.


“Kau pasti ingat ada banyak berapa wanita yang lebih bagus dari dia, kenapa ibu harus memilihnya?”


“Yang lebih bagus dari dia juga kau tidak mau!”


“Kalau dengan wanita yang lebih bagus dari dia saja aku tidak mau, lalu kenapa aku harus memilihnya? Pakai otakmu kalau bicara!”


Fedi menggelengkan kepalanya sambil membuang asap rokok ke udara. Ia biasa dengan sikap Harlan, ternyata bos-nya itu tidak berubah setelah sadar dari koma dan lumpuh, selama satu tahun lebih.


Ia segera datang kemarin setelah mengetahui Harlan sembuh, sekaligus melaporkan segala sesuatunya tentang perusahaan. Namun, ada yang lebih mengejutkan lagi yaitu berita tentang temannya sudah dinikahkan secara paksa oleh ibunya, bahkan tidak banyak orang yang tahu. Ia ikut membaca berkas yang dikirimkan asisten Herlan dan menurutnya Maisara gadis yang punya kelebihan, dari fotonya pun gadis itu cukup manis.


“Bukankah masalahnya hanya seorang cucu bagi ibumu? Kenapa kau tidak membiarkannya hamil anakmu? Apa kau tidak ingin mencoba kemampuan teganganmu setelah sekian lama tidak kau gerakkan?”


“Aku masih belum bisa!” Harlan berkata sambil melihat ke arah kakinya.


“Ya lakukan saja kalau nanti sudah bisa. Tidak perlu bercerai darinya!”


“Apa pedulimu? Sialan!” Harlan berkata sambil melemparkan berkas Maisara ke lantai.


“Ck! Tentu saja aku peduli sebab aku tidak perlu merasa bersalah padamu kalau nanti menggandeng wanitaku!”


“Pergi kamu dari sini!”


Fedi mencebikkan bibirnya sambil mematikan rokok ke dalam asbak. Ia pun pergi tanpa berkata sepatah kata pun pada Harlan yang kembali melihat ke arah jendela, di kamar kerjanya.


Pengawal dan asisten pribadi ada di luar pintu.


Fedi menoleh pada pengawal, lalu menepuk dadanya, seraya berkata, “Apa kau bersenang-senang tadi, kudengar kau memukuli Roni? Ah, anak manja itu pantas mendapatkan pelajaran!”


“Ya. Kau benar!” kata pengawal itu datar.


“Apa benar istri Tuan mantan kekasihnya?”


“Begitulah yang aku tahu.”


“Oke aku pergi ... pertahankan reputasimu!”


Pengawal tersenyum mengejek, kemudian ia kembali ke posisi semula, berdiri di depan pintu. Siap sedia bila Harlan membutuhkannya.


$$$$$$$$$$$


Sementara itu di Hansan Foundation, Maisara kembali memeriksa gudang yang berisi semua perlengkapan dan aset berharga yang tersisa. Ia dan beberapa staf ayahnya, mendata semua barang yang masih ada. Lalu, ia kumpulkan menjadi beberapa bagian, sehingga semua sisa barang itu bisa dengan mudah diangkut, untuk di jual.


Meskipun begitu, semua hutangnya masih banyak, tidak bisa ditutupi hanya dengan menjual aset yang ada. Ia tidak tahu bagaimana harus membayar hutang. Bila melihat pembukuan yang terakhir kali ia periksa, semua baik-baik saja. Oleh karena itu Ia tidak menyangka bila sekarang perusahaan itu bangkrut.


Syahida orang yang seharusnya paling bertanggung jawab dalam masalah ini pun berlepas tangan, bahkan ayahnya jatuh sakit karena banyak beban.


Maisara tidak ingin menjual gedung perusahaan itu, ia akan mempertahankannya sekuat tenaga. Sebab gedung itu adalah hasil kerja keras ayah dan ibunya. Walaupun sebagian besar orang, termasuk Syahida, meminta agar perusahaan itu dijual, tapi ia tidak menurutinya.


Maisara melakukan panggilan video dengan Daina—ibunya, dan menceritakan semuanya dari awal sampai akhir, bagaimana perusahaan itu bisa bangkrut. Di layar telepon, ibunya menangis sedih, menyaksikan bagaimana tokonya yang ia kelola dari kecil, kini sudah kosong tak ada apa pun di dalamnya.


❤️❤️❤️❤️