
Apa Urusanmu
Harlan didorong kursi rodanya oleh pengawal menuju lantai dua melalui lift, karena ia ingin mendatangi Maisara dan melihat keadaannya. Baru saja asisten memberitahu bahwa, dua hari yang lalu ayah gadis itu meninggal dunia.
Pintu kamar Maisara terbuka begitu saja saat Harlan masuk, dan pengawal keluar setelah menutup pintunya.
Misara yang sedang menangis tiba-tiba menghentikan tangisannya, ia mengusap air mata di pipinya dengan kasar , alu duduk di atas tempat tidur. Ia melihat Harlan dengan sinis.
“Untuk apa kau ke sini? Hah ... di sini bukan kamarmu!” kata Maisara sambil melipat kedua tangan di depan perutnya.
“Ini rumahku ... Apa kau lupa? Aku berhak mau ke mana saja di seluruh bagian rumah ini, tidak ada yang bisa melarangku apalagi kamu!”
Sombong sekali!
“Apa kau mau minta maaf, karena kau merasa bersalah padaku?”
Bagi Maisara, Harlan sangat bersalah karena ia mengabaikan kematian ayahnya, tidak memberikan sumbangan apa pun pada keluarganya, dan juga menyakiti hatinya.
Hal yang membuatnya sakit hati adalah, Harlan bersikap semaunya, sebagai suami, ia sengaja bermesraan dengan wanita lain di depan istrinya sendiri.
“Memangnya Apa salahku?” kata Harlan, menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah atau lebih tepatnya pura-pura tidak bersalah.
“Kau, masih saja merasa tidak bersalah...! Akhh! Sudahlah!”
Ada selintas pikiran baik muncul di benak Maisara, jika kemungkinan Herlan tidak mengetahui apa-apa tentang kematian ayahnya. Mengingat saat pernikahan, Harlan tidak sadarkan diri dan mereka belum saling bertukar nomor telepon sampai saat ini.
Ya, seharusnya ia bisa memaklumi.
“Ini ucapan bela sungkawa untuk keluargamu,” kata Herlan sambil mengeluarkan amplop berwarna coklat, dan meletakkannya di atas meja kecil yang ada di kamar itu.
“Kau tidak perlu melakukan itu, aku pikir kau tidak tahu jadi tidak masalah ... lagi pula aku tidak sedih.”
Maisara bicara sambil melirik dan membiarkan amplop berisi uang itu, tetap berada di meja.
Sementara Harlan mengerutkan alisnya. Ia benar-benar tidak percaya. Gadis itu mengatakan dirinya tidak sedih, padahal matanya jelas-jelas bengkak, karena menangis terlalu lama.
Jadi, sebenarnya untuk apa wanita mengeluarkan air mata?
“Kalau kau tidak membutuhkannya, memberikan saja pada siapa pun dari keluarga ayahmu,” Kata Harlan terlihat bersikeras, sambil menggerakkan tombol kursi roda, hendak keluar kamar.
“Tunggu!” kata Meisara membuat Harlan menghentikan gerakan kursi rodanya dan ia menoleh.
“Apalagi?” tanyanya.
“Apa kau mencintai gadis itu?”
Maksud Maisara, Harlan mencintai Raina, karena ia melihat bagaimana kedekatan dua orang itu, saat ia datang. Mereka berdua tidak akan begitu dekat kalau tidak memiliki hubungan.
Kalau tidak dibubarkan maka pesta itu akan berlangsung sejak Sore itu akan berlanjut sampai tengah malam dan Harlan akan semakin hanyut dalam pelukan wanita itu. Maisara tidak suka, meskipun mereka akan bercerai, tapi Harlan masih suaminya dan ia tidak ingin memiliki suami yang seenaknya saja main perempuan di rumah mereka.
“Kalau kau memang mencintainya, ceraikan aku sekarang juga,.dan menikahlah dengannya, aku heran kenapa Ibumu tidak menjodohkanmu dengan dia saja?”
Harlan pura-pura tidak mendengar, ia kembali menggerakkan kursi rodanya menuju pintu. Ia sadar kalau Wendi tidak pernah menyukai Raina.
“Apa kau tidak dengar? Carikan aku! Aku pikir dia sepertinya pengen banget dinikahin sama kamu!” ucap Maisara tiba-tiba berubah kasar.
“Apa urusanmu?”
“Urusanku Ya tadi itu, Aku baru saja bilang sama kamu, kan?”
“Lupakan saja! Apa kamu tidak punya permintaan lain apa?”
“Lane! Aku tidak akan minta apa-apa, tolong ceraikan aku saja!”
Maisara berkat seperti itu bukan tanpa alasan, ia ingin perceraian karena ingin fokus mencari solusi untuk perusahaan. Ayahnya sudah memberikan semuanya secara sah, melalui pengacara yang ditunjuknya dan wasiat itu sudah dibacakan di hadapan semua orang. Jadi, perusahaan itu kini adalah milik dan tanggung jawab Maisara sepenuhnya.
“Tidak akan!” kata Harlan ketus.
Setelah itu mereka tidak peduli saat mendengar teriakan umpatan dari Maisara di dalam kamar.
Menurut Pengawal, Maisara sangat kurang ajar. Semua orang yang ada di sekitar Harlan termasuk teman-temannya, tidak ada yang pernah berani berkata dengan suara sekeras itu.
Apa itu tadi, Lane? Bisa-bisanya wanita itu memanggil bos dengan nama sembarangan! Dan, bos kenapa tidak marah?
“Jangan menggerutu, dia baru saja kehilangan Ayahnya!” kata Harlan pada pengawal saat menekan pintu lift dalam rumah itu.
Pengawal diam sekaligus heran, karena Harlan seperti tahu isi hatinya.
Oh, jadi itu penyebab Tuan tidak marah.
“Maafkan saya, Tuan!”
“Bersamaku adalah siksaan baginya, jadi bersikap baiklah agar dia bertahan di sini.” Harlan berkata lagi setelah tiba di kamarnya dan pengawal itu membantunya naik ke atas tempat tidur.
“Baik, Tuan!”
Sebagai pengawal, ia tentu heran sebab perintah Harlan seperti berlawanan.
Sebenarnya bos itu ingin menyiksa atau berbuat baik, sih?
$$$$$$$$$$
Beberapa hari berjalan, seperti berlarinya kuda yang lepas di hutan belantara tanpa ada yang bisa mengekang, kecuali kekuatan ‘tangan’ Tuhan. Dan, apa yang terjadi pada manusia adalah keharusan yang memang mau tidak mau tetap dialami.
Maisara bangun lebih pagi seperti biasanya, meski sekarang akhir pekan. Ia sengaja melakukan setiap hari agar tidak bertemu Harlan. Demikian saat pulang dari Hansan Foundation, ia akan pulang lebih cepat sebelum pria itu tiba di rumah.
Ia berencana menemui Sanaya kali ini, untuk mengambil pakaian yang akan ia gunakan untuk menemui infestor. Ia sengaja meminjam dari sahabatnya itu karena setiap kali pergi, Sanaya selalu mengomentari kalau pakaiannya tidak sesuai. Ada pakaian yang lebih pantas dipakai untuk menemui para infestor itu.
Bagi Sanaya, Maisara bukan lagi aktifis kampus yang bisa berpakaian simple berupa celana jeans dan kaos saja saat bertemu mereka. Jadi, wajar saja mereka semua menilak, karena menilai pimpinan Hansan Foundation itu tidak layak.
Sekarang usahanya berhasil. Oleh karena itu ia akan pergi di akhir pekan ini.
Sudah beberapa hari ia sibuk membuat proposal dan akhirnya ada seorang bernama Banusi mengajaknya bertemu untuk membicarakan proposal nya lebih lanjut.
Namun, ia terkejut saat ia membuka pintu kamar, Hara sudah menyambutnya.
“Anda bangun pagi juga, Nyonya? Silakan sarapan! Tuan sudah menunggu!”
Oh, jadi dia bangun pagi hari ini? Sialan!
Maisara menggerutu dalam hati.
Sesampainya di meja makan, Maisara mengambil tempat terjauh dari Harlan, dan Hara melayani seperti biasanya. Ia melihat pria itu sudah tidak menggunakan pengikat di badannya, itu artinya Harlan sudah jauh lebih baik.
Tanpa Maisara ketahui, Harlan tidak pernah keluar dari rumah selain pergi ke tempat terapi dan rumah sakit, selain untuk menjenguk ibunya ia juga terus mengontrol kesehatannya. Ia sudah mulai bisa merasakan dan menggerakkan sebagian tubuh bagian atasnya. Tulang punggungnya bisa tegak kembali.
“Kau mau pergi?” tanya Harlan datar. Matanya tak lepas melihat Maisara dari sejak gadis itu muncul di hadapannya.
Gadis itu seolah menahan pandangannya agar tidak berpaling. Hanya bayangan saat ia melemparkan gelas malam itu yang membuatnya kesal. Selebihnya semua sikap Maisara menggemaskan.
“Ya.”
“Kau tidak ingin menengok Ibuku?”
“Aku sibuk!” Maisara sengaja memberi jawaban seperti itu agar Harlan kesal. Padahal ia tahu ibu mertuanya itu masih berada di ruang ICU.
Harlan membasahi bibir sebelum meletakkan sendok dengan kasar ke atas piringnya.
“Sibuk mengurus perusahaan yang bangkrut itu?”
❤️❤️❤️❤️