Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 47


Suara Di Kamar Nella


 


“Hai kalian, apa sudah puas saling pandang? Aku akan bicara serius mulai dari sekarang!” Maisara berteriak pada dua sejoli yang sedang kasmaran di hadapannya.


“Mai! Kau ini ...!” seru Sanaya dengan wajah yang cemberut.


“Apa?” tanya Maisara, “memangnya apa salahku? Sunni, ayo bicara, bagaimana menurutmu?”


Suni tersenyum malu dan mengalihkan pandangannya pada Maisara, ia benar-benar jatuh cinta pada Sanaya. Gadis itu lucu sekaligus galak, tapi kepribadian seperti itu menurutnya unik, apalagi kecantikan dan bentuk tubuhnya sesuai tipenya.


“Ya, terserah kau Nona Haya, berapa kau ingin menjualnya? Bagaimana kalau aku menawarimu 20 milyar, apa itu pantas?” kata Suni langsung pada pokok permasalahannya.


Maisara menoleh pada Jaka dengan tercengang sebab 20 miliar adalah harga yang sangat fantastis untuk gedungnya. Sebelumnya Ia hanya berpikir untuk mengambil keuntungan sekitar 10 atau 20 juta  saja. Itu adalah sisa dari pembayaran semua kerugian yang sudah ditimbulkan oleh Si Pengacau--saudara dari Syahida. Termasuk melunasi hutang-hutang pada beberapa mitra kerjasama Hansan.


Jaka pun memiliki keterkejutan yang sama, dengan harga yang ditawarkan Sunni pada Maisara. Ia sudah menghitung jauh-jauh hari tentang, harga pembelian gedung apabila sang pemilik benar-benar ingin menjualnya. Harga paling tinggi penjualan gedung beserta tanahnya adalah, delapan miliar itu pun sudah sangat cukup untuk melunasi semua hutang dan kerugian yang ditimbulkan akibat korupsi.


“Kau jangan berlebihan seni beli saja dengan harga yang pantas!” kata Maisara, sambil menarik satu sudut bibirnya.


“Oh jadi kurang pantas? Bagaimana kalau 50 miliar?” kata Sunni lagi.


Kali ini bukan hanya Masiara dan Jaka yang tercengang, tapi Sanaya pun demikian. Namun, kali ini Maisara tertawa cukup keras.


“Haha! Apakah kau begitu mencintaiku Sunni, sampai kau memberiku uang segitu banyak? Lihatlah!” kata Maisara sambil menunjukkan selembar berkas. “Ini, luas tanahnya ... Di tambah dengan harga pasaran, gedung itu pantas dihargai sekitar tujuh atau delapan miliar saja! Jadi kalau kau membelinya dengan uang 20 miliar itu harga yang tidak masuk akal, apalagi 50 milyar!”


“Oh, jadi seperti itu? Tapi biasanya seorang pembeli akan lebih senang kalau ada penjual yang membeli barangnya dengan harga yang jauh lebih tinggi, seharusnya kau begitu!”


Sebenarnya yang mencintaimu itu Harlan! Sadarlah Nona Haya!


Sambil menghela nafas, Sunni kembali berkata, “Tapi, Nona ..., Jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan uang itu untuk gedungnya, kuharap kau tidak menolak! Bukan karena aku mencintaimu, tetapi aku berprinsip bahwa ketika kita memberi sesuatu dalam jumlah besar, maka Tuhan akan memberi kita dengan pemberian yang lebih besar lagi ... aku tidak salah, kan?”


Maisara tersenyum masam, seraya berpikir kalau Sunni rupanya orang yang pandai sekali menderma, dengan kedok sebuah pembelian. Ia tidak mau menduga lebih jauh tentang motif sebenarnya, apalagi ia berada di sekitar Harlan. Namun, ia sangat membutuhkan uang hari ini juga, mengingat batas waktu pembayaran hutang, membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.


Akhirnya kesepakatan selesai dan Maisara pergi ke perumahan Aneovile, meninggalkan Sunni dan Sanaya yang tetap berada di Cafe. Mereka hendak melakukan pendekatan satu sama lain atau meneruskannya sebagai kencan, itu terserah mereka.


Sementara Jaka kembali ke gedung Hansan, untuk memberikan pernyataan jika uang pembayaran akan ditransfer besok setelah transaksi jual beli dan penandatanganan selesai. Berkat kegigihan dan kepandaiannya dalam bernegosiasi, akhirnya para penagih hutang itu pun percaya. Mereka mau menunggu dengan sabar untuk menerima uang keesokan harinya.


Maisara pergi bersama sopir, ke Aneovile dan masuk ke rumahnya tanpa hambatan, karena ia memiliki kunci cadangan sejak dulu. Ia melihat rumahnya yang berantakan dan udara di dalamnya pun pengap, bahkan beberapa benda berharga di dalamnya seperti guci, lukisan kaca, atau jam antik, ada yang hilang. Gadis itu tidak tahu apakah barang itu dicuri atau Nella menjualnya. Wajar saja kalau orang-orang yang tinggal di dalam rumah merasa barang milik keluarga tidak berharga, karena mereka tidak memiliki perasaan sentimentil, sebagaimana Maisara.


Setelah Maisara memasukkan semuanya dalam tas besar, ia menghubungi Daina dengan mata yang berkaca-kaca. Ia menemukan cincin kawin ayahnya masih berada di sana itu artinya sang ayah masih mengingat ibunya sampai wafat. Ia tahu bahwa cincin itu sangat berharga bahkan berliannya pun tergolong langka.


“Bu! Kau tahu Ayah tidak pernah merubah kode brankasnya, bahkan dua orang perampok itu tidak tahu!” kata Maisara, begitu teleponnya tersambung dengan sang ibu.


“Tentu saja, kau adalah mutiara baginya!” jawab Daina dari seberang telepon.


Maisara masih ingat, ia pernah jatuh sakit waktu masih kecil dulu, sampai dokter mengatakan situasinya sangat kritis. Ia menderita demam tinggi di atas rata-rata tanpa diketahui penyebabnya. Semalaman Hansan berdoa, tanpa tertidur sekejap pun sambil memegang tangan kecil sang buah hati. Pada keesokan harinya, gadis kecil itu bisa kembali membuka mata, dan penyakitnya dinyatakan sembuh, sehari kemudian. Bagi kedua orang tua Maisara, hal itu adalah sebuah keajaiban. Sehingga Hansan menganggap sebagai hari kelahiran kedua bagi gadis kecilnya.


Tidak ada yang tahu tanggal lahir kedua Maisara itu, selain Hasan dan Daina, karena tidak tercatat dalam akta kelahiran dan kartu keluarganya.


“Aku jagoannya, Bu! Dan, kalau Nella macam-macam, aku akan membunuhnya!”


“Kau ini bicara apa, Haya? Apa kau bertemu dengan Nella di sana, tetap nyalakan ponselmu, biar aku tahu kalau mereka menyakitimu!”


“Ibu jangan khawatir, tidak apa ada siapa-siapa di sini ... rumah kita sangat berantakan, Bu! Sepertinya mereka menghentikan semua pembantu, karena malas membayar, mereka hampir tidak pernah tinggal di sini atau sehari-hari menginap di hotel, begitulah mungkin cara mereka menghabiskan uang!”


“Biarkan saja mereka kalau kau sudah selesai dengan urusanmu cepat keluar dari sana!”


Daina tahu di Maisara bisa menjaga dirinya dengan baik, tetapi sebagai seorang ibu Ia tetap khawatir. Tidak menutup kemungkinan, Syahida dan Nella tiba-tiba muncul lalu menyakitinya.


“Baiklah, baiklah! Aku pergi sekarang,” kata Maisara seraya meninggalkan ruang kerja ayahnya setelah mengunci pintu kembali.


Namun, baru beberapa Palangka Maisarah berjalan ia mendengar suara tertawa halus dari arah kamar Nella.


Apa yang da lakukan di rumah berantakan seperti ini, apa dia sedang bercumbu dengan Roni? Ahk ... yang benar saja! Ya Tuhan, mereka menggunakan semua tempat untuk memadu kasih, bahkan di rumah kotor? Itu menjijikan sekali!


Maisara mendekat ke kamar Nella, betapa terkejutnya ia setelah melihat pintu pun tidak tertutup dengan sempurna. Dua orang yang ada di dalamnya begitu teledor, menganggap tidak ada orang lain di rumah, selain mereka. Dua sejoli itu, begitu asyik, hingga tidak mendengar suara seseorang yang masuk ke sana.


 Maisara bisa melihat apa yang mereka lakukan, dari arah cermin yang ada di seberang tempatnya berdiri. Dalam bayangan cermin itu ia melihat Nella tidak mengenakan pakaian sehelai pun, ia sedang membungkuk dan seorang pria di belakangnya mereka tengah melakukan proses penyatuan.


Suara yang keluar karena sentuhan kenikmatan dari kedua orang itu, terdengar memenuhi ruangan ... berisik sekali.


 


❤️❤️❤️❤️