Cinta Diujung Waktu

Cinta Diujung Waktu
Bab 65


Bertemu Harlan


“Kenapa kau menangis? Apa aku menakutimu?” tanya Harlan pada gadis itu, tapi ia tidak mendapatkan jawaban apa pun selain suara tangisan yang semakin keras.


Remaja itu menggelengkan kepalanya.


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


Remaja itu menggelengkan kepalanya lagi. Ia tidak bersuara karena sibuk menangis.


Ia adalah Caca, yang kebetulan sedang berada di sekitar gedung Mahespati Industries. Ia baru saja selesai mengikuti sebuah kegiatan seni, bersama beberapa teman sekolahnya. Kegiatan itu berlangsung di salah satu gedung, yang tidak jauh dari perusahaan terbesar di kota dan secara kebetulan Harlan adalah pemiliknya.


Ia tidak menemukan mobil dan sopir yang tadi mengantarkannya ke sana. Ia mencoba menghubungi sopir, tapi ponselnya tidak aktif. Ia tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Oleh karena itu ia hendak mencari taksi. Namun, saat ia baru saja berjalan di trotoar, seseorang memanggilnya.


Caca pun menoleh, betapa terkejutnya ia ketika melihat orang yang telah memanggilnya adalah Harlan, seseorang yang memang sangat ingin ditemui sekaligus ditakutinya.


Melihat wajah penuh amarah dari Harlan, suasana emosional pun terjadi, rasa takut dan juga rasa bersalah bercampur menjadi satu dalam benak gadis remaja itu. Tangisannya adalah ungkapan dari rasa tidak berdaya. Sebagai anak remaja, ia yang tidak tahu harus berbuat apa, seandainya laki-laki itu melakukan balas dendam atas kematian ayahnya.


Caca membayangkan jika dirinya yang menjadi Harlan, maka ia tidak akan merelakan kepergian ayahnya dengan mudah. Mungkin ia akan melakukan hal yang sama seperti harapan sekarang yaitu mengintimidasi atau bahkan membunuhnya.


“Lalu, kenapa kau menangis begitu melihatku?”


Caca kembali menggelengkan kepalanya. Itu bukan jawaban yang diinginkan Harlan.


“Apa kau tuli?” tanya Harlan lagi, ia semakin kesal karena Caca tidak juga menjawab. Apalagi gadis itu menangis hingga menjadi perhatian banyak orang.


Akhirnya, dengan berat hati Caca mendongak dan memberanikan diri untuk bicara. Meskipun, degup jantungnya bertalu-talu bagai genderang perang.


“Apa kau akan membunuhku?” tanya Caca. Ia yang semula berjongkok sambil menangis, kini ia berdiri sambil mengusap air mata yang ada di pipinya.


Harlan berpikir jika ia terus berada di sana dengan anak perempuan yang menangis, ia akan disangka berbuat buruk atau semacamnya pada gadis itu. Mana mungkin ia membunuh orang tanpa alasan.


Rupanya kebanyakan gadis remaja berpikiran sangat naif! Dia pikir aku akan membunuhnya sembarangan di tempat umum seperti ini?


Oleh karena itu ia pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Caca.


Namun baru dua langkah ia berjalan, Caca memanggilnya.


“Pak! Pak Harlan Mahespati Prawira!” seru gadis itu yang memilih mendekati Harlan.


“Bukankah itu nama Anda?”


Harlan mengangguk.


“Anda mau pergi?”


“Apa urusanmu? Apa kau peduli padaku?”


Caca mengangguk, ini kesempatan baginya kalau Harlan mau bicara padanya, sebab gadis itu juga yakin, kalau pria itu tidak akan berbuat macam-macam di tempat umum yang cukup ramai.


“Ayo! Ikut aku!”


Caca tetap bergeming dan matanya menatap Harlan penuh permohonan, layaknya seorang pencuri yang ketahuan mencuri dan ingin dibebaskan dari hukuman.


“Bisakah saya bicara dengan Anda di sini saja, Pak?” tanya Caca, suaranya terdengar bergetar karena takut.


“Tidak!” sahut Harlan sambil menggeleng dan berbalik.


Ia masuk kembali ke mobil dan sebelum menutup pintu, ia berkata pada para pengawal, “Bawa dia!”


Begitu Harlan memberi perintah seperti itu, Caca langsung di kelilingi para pengawal dan hanya memberinya tempat untuk berjalan mengikuti mereka. Pengawal hanya mempertegas ucapan sang majikan, bahwa Caca harus menuruti kalau ingin selamat. Sementara para pengawal hanya berbuat sesuatu yang sudah seharusnya, karena tugas mereka adalah membuat semua urusan Harlan berjalan dengan semestinya. Soal urusan bagaimana perasaan Caca, yang menjadi lebih takut dari sebelumnya itu urusan belakangan.


“Kau dengar, kan? Apa perintah Tuan Harlan? Ayo cepat!” kata salah satu pengawal.


Meski ragu-ragu, Caca tetap mengikuti ke mana para pengawal membawanya. Gadis itu masuk ke mobil yang berbeda dari Harlan, karena para pengawal yang mengarahkannya ke sana.


Selama ini Caca hanyalah orang asing yang mencoba menjadi detektif untuk dirinya sendiri. Ia tidak memiliki hubungan apa pun dengan orang yang nomor satu di Mahespati Industries itu.


Caca sudah sering mendengar tentang Harlan dan segala sepak terjangnya ia tahu. Termasuk rumor pernikahannya dengan Raina, seorang gadis cantik keturunan salah satu orang terkaya di kota. Bisa dikatakan kalau Caca adalah pemantau setia pria itu. Bahkan, semua media sosial yang berlangganan menceritakan perkembangan perusahaan Mahespati Industries, ia ikuti juga.


Namun, dalam hatinya, Caca sempat berpikir kalau Harlan lebih baik berjodoh dengan Maisara.


Di dalam kendaraan pengawal, Caca mendekap perlengkapan seni lukis dan tasnya kuat-kuat, sedangkan dua pengawal yang berbadan kekar serta berambut plontos mengapit tubuhnya erat di sisi kanan dan kiri. Dalam hati gadis itu terus memanjatkan doa, dan memejamkan mata ia berharap sebuah keajaiban datang saat itu juga, untuk membantu kalau saja Harlan akan membunuhnya.


❤️❤️❤️❤️