
Melihat Dina dalam keadaan berdarah-darah, membuat Mariyati naik pitam. Ia membulatkan kedua mata, lalu berjalan ke arah Sintia. Mariyati menampar pipi Sintia sampai ia tersungkur di lantai. Darah mengalir ujung bibirnya. Membuat Sintia tersadar dari lamunannya. Ia berusaha bangkit berdiri, namun Mariyati lebih dulu menginjak telapak tangannya. Sintia menjerit kesakitan, ia hampir tak bisa merasakan jari-jari di tangannya. Dua sosok hantu lelaki yang sebelumnya menolong Sintia kembali memberi perlawanan.
"Be-beny... Dony..." Ucap Sintia begitu melihat wajah kedua sosok hantu yang berusaha menolongnya kembali.
Mariyati berdecih seraya merentangkan kedua tangannya. Lalu ia menyatukan kedua telapak tangan di depan dada, dengan membaca rapalan mantra. Kedua sosok hantu itu secara ajaib berubah menjadi kepulan asap. Dan menghilang begitu saja.
"Lancang sekali kau berani merusak rencanaku! Kau hanya seorang gadis lemah yang tak memiliki kemampuan apapun untuk melawan ku. Tapi kau berani melawan ku meski seorang diri! Bodooh!" Seru Mariyati dengan mencengkeram leher Sintia, lalu melemparkannya ke sembarang arah.
Bruugh.
Sintia jatuh tersungkur dengan memuntahkan seteguk darah. Namun ia tetap berusaha bangun untuk menolong Widia yang sudah mulai kehilangan kesadarannya. Tiba-tiba angin dingin berhembus, nampak kedua sosok hantu lansia datang menghalangi Mariyati yang bersiap menyakiti Sintia dengan kekuatannya. Sosok kuntilanak Nek Siti meminta Mariyati untuk berhenti menyakiti cicitnya. Bahkan sosok Kakek Ridho juga meminta Mariyati untuk bertaubat, dan kembali ke jalan kebenaran.
"Hentikan semua ini Mar, kami ingin hidup tenang di alam keabadian. Ikutilah jejak kami, supaya kau dapat menjalani sisa hidup mu dengan tenang." Kata Kuntilanak Nek Siti dengan wajah sendu.
"Benar Mar, hentikan semua keburukan ini. Kami semua sudah sepantasnya tiada sejak lama, dan kau bisa menjalani hari tua mu dengan nyaman disini, bersama semua kenangan indah para lansia yang pernah kau rawat." Imbuh sosok Kakek Ridho yang berpakaian tentara jaman dulu.
"Tidak! Kalian semua harus bersamaku selamanya!" Bantah Mariyati dengan mengepalkan kedua tangannya.
Kuntilanak Nek Siti melesat mendekati Sintia, ia membisikkan sesuatu di telinga cicitnya. "Ta-tapi Nek... Sintia gak sanggup." Ucap Sintia berlinang air mata.
"Cepat Sin, sebelum Mariyati kembali melanjutkan ritualnya yang belum selesai. Nanti Widia bisa saja tak tertolong!" Pungkas kedua hantu lansia itu bersamaan.
Dengan tangan bergetar, Sintia menengadah tangan ke atas seraya membaca ayat-ayat suci. Begitu bacaan ayat kursi selesai dibacakan, ia memantik sebatang korek api yang akan dilemparkan ke arah kedua hantu lansia itu.
"Maafkan Sintia Nek... Kek... Semoga jiwa kalian tenang di alam keabadian." Kata Sintia sesegukan melihat kedua hantu lansia itu terbakar api.
Nampak raut wajah kedua hantu lansia itu tersenyum bahagia. Mereka melambaikan tangan perpisahan pada Sintia. Sementara Mariyati yang berada di belakang mereka langsung terduduk lemas. Ia kehilangan sosok-sosok yang sangat disayanginya. Mariyati menjerit hingga memekakan telinga. Ia murka, dan langsung mengambil sebilah pisau yang akan ditusukan ke leher Widia.
"Jangan takut Ko, selama ada gue dan Pak Abdul, wanita itu gak akan bisa mencelakai lu. Maju Ko, hadapkan cermin itu di depannya. Biarkan dia melihat wujud aslinya sendiri, dengan begitu kita bisa melumpuhkan nya dengan mudah. Dia akan kembali ke wujud aslinya, yaitu wanita tua renta! m" Seru Rania berjalan beriringan dengan Riko.
Terlihat Riko berjalan mengendap. Ia mengarahkan cermin itu persis di depan wajah Mariyati. Namun ia memalingkan wajah selama beberapa kali. Sehingga pantulan dari cermin itu berhasil ia hindari.
"Sin, bangunlah! Ikat pergelangan tangan temen lu pakai kain jarik itu. Jangan sampai dia kehabisan darah!" Teriak Rania menyadarkan Sintia dari duka nya yang tidak akan pernah lagi melihat Nenek Buyutnya.
Sintia menyeka air matanya, lalu berjalan melewati Dina. Namun kaki nya tertahan, setelah tangan Dina memegangi betisnya.
"To-tolong gue Sin... Gue gak mau mati disini..."
"Lepasin kaki gue Din... Gue harus nolong Widia dulu. Lu jadi kayak gini karena pilihan lu sendiri, jadi biarin gue selamatin Widia dulu!" Sintia berjongkok untuk melepaskan tangan Dina, yang berpegangan erat di kaki nya.
Meski setengah hati Sintia tak tega melihat Dina menggelepar kesakitan dengan berlumuran darah di kakinya. Apalagi ia juga dipenuhi rasa bersalah. Namun seorang lelaki paruh baya yang dipanggil Pak Abdul meyakinkan Sintia, jika apa yang dilakukannya tak sepenuhnya salah. Karena tujuan bayi yang akan dilahirkan Dina, hanya akan digunakan untuk tujuan buruk ayahnya.
"Bayi itu adalah benih dari lelaki yang bernama Gito, dan kelak bayi itu akan menjadi tempat baru untuk ayahnya. Maka lebih baik jika bayi itu tiada sebelum dilahirkan ke dunia!" Jelas Pak Abdul membuat Sintia tercekat.
Dina terus berguling di lantai, ia nampak kepayahan dengan memegangi perutnya. Sementara Riko yang sudah semakin dekat dengan Mariyati, langsung menghentikan langkah ketika Rania berusaha memegang tubuh Mariyati. Wanita sesat itu sempat menggunakan kekuatannya, sehingga membuat Rania kesakitan ketika menyentuh tubuhnya. Namun Rania berhasil melawan kekuatan itu, dan ia menarik tangan Mariyati ke belakang. Sehingga Mariyati tak bisa berpaling dari cermin yang akan dihadapkan ke wajahnya. Namun Mariyati kembali memberikan perlawanan, sampai akhirnya ia dan Rania sedikit bergulat di lantai. Nampak mulut Mariyati komat-kamit seakan membaca rapalan mantra. Rania sempat mengernyitkan dahinya, merasa janggal dengan apa yang dilakukan Mariyati. Dan tiba-tiba ia tak bergerak lagi. Mariyati terdiam untuk beberapa saat. Membuat semua orang yang ada disana bingung. Apakah ini hanya taktik Mariyati untuk mengakali mereka semua. Tak ada yang mendekat, mereka semua menjaga jarak. Waspada jika Mariyati tiba-tiba melakukan perlawanan kembali. Dan benar saja, tau-tau ia bangkit berdiri dengan tersenyum bahagia.
"Cepat Ko, arahkan cermin itu ke hadapannya!" Jerit Rania seraga melemparkan tasbih yang langsung ditangkap Riko.
Pak Abdul terlihat membuat tameng pelindung di sekitar Widia dan Sintia. Karena beliau merasakan aura jahat yang mendekat.
Mariyati nampak ling lung, ia berdiri sempoyongan dengan raut wajah bingung. Apalagi setelah cermin besar berada tepat di depannya. Ia membulatkan kedua mata, seakan ia terkejut melihat wujudnya. Terdengar bacaan ayat-ayat suci dibacakan oleh Pak Abdul dan juga Rania. Sampai akhirnya sesuatu yang diluar nalar terjadi.