TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 24 MENGUBUR BUGHUUL.


Sintia mengucek kedua mata, ia ingin memastikan apa yang dilihatnya. Rintik-rintik hujan dan kilatan petir membuat pandangan matanya tak jelas. Sintia bangkit berdiri, lalu berjalan ke depan jendela.


"Siapa itu, manusia atau hantu ya?" Gumam Sintia dengan mengaitkan kedua alis mata.


Nampak seseorang mengenakan jubah berwarna hitam, berdiri tepat di tengah taman. Ia seperti sedang melakukan gerakan-gerakan aneh, ada sesuatu yang ia sembunyikan di bawahnya. Untuk sesaat Sintia masih fokus mengamati apa yang orang itu lakukan. Tapi setelah terlihat kilatan petir yang menyambar, cahayanya yang terang menghilang berganti gelap. Bersamaan dengan itu sosok berjubah hitam tadi juga lenyap, tak tau kemana. Sintia semakin penasaran, ia memberanikan diri untuk melihat dari luar kamarnya. Ia menarik gagang pintu, tapi seakan pintu itu tertahan dari luar. Ia terus berusaha membuka pintu, sampai akhirnya pintu berhasil terbuka lebar.


Kriiiik kriiiik kriiiik.


Hanya terdengar suara jangkrik dari taman depan, dan tak nampak siapapun diluar sana. Baru saja akan melangkahkan kaki nya, ia melihat orang yang mengenakan jubah hitam tadi sedang mengubur sesuatu di dalam tanah. Ia semakin penasaran dan ingin melihat dengan lebih jelas lagi.


Whuuuusd.


Sekelebatan bayangan putih melesat dengan cepat di depannya. Sintia membulatkan kedua mata tak berkedip. Sesosok kuntilanak berdiri mengambang seraya menarik lengannya. Sintia terjungkal ke lantai, ia ketakutan hingga tak berani bergerak sedikitpun. Kuntilanak itu menggelengkan kepala seraya menyentuh keningnya. Sintia pingsan di lantai kamarnya, lalu kuntilanak itu pergi dari sana.


Ya, Sintia tak salah lihat. Karena seseorang berjubah hitam itu adalah Mbah Gito. Lelaki itu sedang membawa beberapa kain kafan yang dibentuk seperti pocong. Masing-masing kafan pocong itu melambangkan jiwa ke lima mahasiswa. Tapi yang terlihat ditanam dalam tanah hanya tiga kafan pocong yang ia sebut sebagai bughuul, sementara yang dua lagi ada di kantong celananya. Mbah Gito sengaja mengubur tiga kafan pocong, karena hanya tiga orang saja yang akan hidup lebih lama dari mahasiswa lainnya. Sementara yang dua lagi, memang sudah dipersiapkan untuk ritual pengorbanan.


Ternyata gerakan Sintia sudah disadari oleh Mariyati, dan ia mengutus kuntilanak tadi untuk mencegah Sintia keluar dari kamarnya. Karena tak ingin sesuatu hal yang buruk terjadi pada Sintia, kuntilanak itu terpaksa berbuat kasar padanya.


"Mar, ritual penanaman bughuul sudah selesai. Mulai sekarang ketiganya tak akan bisa jauh dari Panti ini. Ketika salah satu dari mereka berhasil meninggalkan Panti, dalam kurun waktu tujuh hari jiwa nya akan kembali ke Panti ini meski tanpa raganya. Dan sampai hari kelahiran para lansia, aku terpaksa akan mengurung jiwa tanpa raganya. Karena itulah aku harap tak ada yang meninggalkan Panti ini." Jelas Mbah Gito seraya mengusap peluh di keningnya.


"Lantas bagaimana dengan dua bughuul lain? Apa kau akan menjaga keduanya sampai hari kelahiran kedua lansia itu?" Tanya Mariyati sorot matanya tajam.


"Sebentar lagi kita akan menggunakan satu bughuul. Dan kita bisa sama-sama mendapatkan manfaatnya. Pastikan semua berjalan sesuai rencana, jangan gunakan trik yang sama supaya tak terlalu mencolok!" Jawab Mbah Gito tersenyum melalui sudut bibirnya.


"Ajukan tanganmu!" Mbah Gito sudah membawa sebilah pisau, ketika Doni mengajukan tangannya, Mbah Gito langsung menyayat telapak tangan Doni.


Darah menetes di atas dupa yang terbakar, aroma dupa dengan perpaduan darah segar membuat para penghuni gaib di Panti itu kelaparan. Mereka kehilangan kendali dan semakin tak bisa di atur. Ke enam hantu lansia itu mendatangi ruang ritual. Hanya sosok kuntilanak saja yang langsung pergi begitu melihat wajah Doni. Tatapan matanya kosong, tak ada ekspresi apapun dari raut wajahnya. Mbah Gito menggunakan kesaktiannya untuk mengendalikan para hantu itu. Hanya sosok pocong saja yang dibiarkan berada di ruang ritual.


"Beberapa hari lagi kau sudah bisa menikmati darah segar cicitmu. Hari ini aku sudah memulai ritual pengambilan jiwa. Perlahan jiwa cicitmu akan melebur jadi satu bersama separuh jiwamu. Kau akan mendapatkan fisik yang lebih kuat dan segar. Mungkin selama sepuluh tahun ke depan kau akan sehat seperti Bimo. Aku hanya mengingatkanmu sekali ini saja, jangan pernah ada penyesalan. Karena perlahan darah yang ada di tubuh Doni akan habis tak tersisa. Dan puncaknya ia akan mati kering, karena seluruh darahnya akan berpindah padamu. Jiwanya akan berada di antara dua alam, ia tak akan bisa kembali ke alam keabadian ataupun berada di alam manusia lagi. Ia akan menjadi budakku sama seperti Beni, yang tiada karena Kakeknya menikmati darah yang mengucur dari lehernya." Pungkas Mbah Gito menyeringai.


Nampak sosok pocong itu perlahan menghisap darah segar yang keluar dari telapak tangan Doni.


"Sudah cukup! Sebentar lagi waktunya subuh, kau harus segera kembali ke tempat persembunyian mu." Mbah Gito meletakkan tangannya di depan pocong itu, supaya ia dapat mengendalikan pocong yang mendapatkan kekuatan lebih setelah menghisap darah segar.


Terlihat tubuh Doni melemas, wajahnya seketika pucat. Ia hampir saja kehilangan kesadaran.


"Bangunlah Doni. Kembali ke kamarmu, dan kau tak akan menyadari semua kejadian malam ini. Bersiaplah seakan tak pernah terjadi apapun padamu. Lusa besok kau harus mempersembahkan jiwamu untuk Kakekmu!" Cetus Mbah Gito seraya tersenyum miring.


Dari kejauhan Mariyati tertawa penuh kebahagiaan, karena ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat ia butuhkan. Mariyati bukanlah jiwa tanpa raga seperti para lansia yang ada disana. Ia masih manusia yang memiliki kesaktian tertentu, ia dapat bertahan hidup dan menjadi awet muda dengan mengkonsumsi jantung dan hati manusia. Karena itulah, ia mau menghidupkan kembali para lansia yang dulu ia rawat. Selain ia memang menyayangi para orang tua itu, Mariyati juga memiliki tujuan sendiri. Sementara Mbah Gito yang menjadi dukun kepercayaan nya, dulunya adalah temannya di satu perguruan ilmu hitam. Keduanya menyatukan kesaktian untuk mendapatkan apa yang mereka mau. Mbah Gito selalu memanfaatkan para cucu atau cicit lansia yang ada disana untuk dijadikan budak hasratnya. Dan setiap tiga puluh tahun sekali, ia selalu membuat keturunan dari para korban nya. Karena ketika anak keturunan mulai memasuki usia remaja, Mbah Gito akan mengambil alih raga keturunannya sendiri. Dan keadaan seperti itu selalu berulang setiap sepuluh tahun sekali. Sesuai dengan kesepakatan mereka berdua, dengan para lansia yang siap menumbalkan keturunan mereka.


"Tahun ini adalah tumbal yang sempurna untuk kita semua. Aku akan segera mendapatkan tubuh baru!" Ucap Mbah Gito tertawa bahagia.


"Lantas bagaimana jika bayi yang dilahirkan Dina perempuan? Kau tak akan bisa menempati tubuh itu!" Sahut Mariyati menghentikan tawa Mbah Gito.


"Jika memang itu terjadi, aku terpaksa menyantap tubuh bayi perempuan itu. Karena aku tak akan mungkin menempati tubuhnya, jadi akan ku gunakan tubuh bayi itu sebagai pengganti obat awet muda dan memperbaiki stamina ku yang mulai menurun. Selagi itu aku bisa membuat keturunan lagi bersama para cucu atau cicit lansia lainnya!" Pungkas Mbah Gito seraya berkacak pinggang, dan menyeringai menghadap ke atas.