
"Lu ngobrol apa an Ran sama demit bocah itu?"
"Ini dia minta susu cokelat mbak. Terus dia ada ngomongin dua hantu lain yang katanya tergadaikan gitu jiwanya."
"Wah kasihan juga ya kalau begitu. Terus tuh demit bocil bisa nolongin emangnya?"
"Ya gak bisa lah mbak, udah yuk kita balik ke mobil. Dingin banget diluar sini!" Keluh Rania seraya melipat kedua tangan di depan dada.
Keduanya kembali melangkah, menyusuri jalanan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi ilalang. Nampak hantu gadis kecil tadi terus mengikuti mereka, meski Rania sudah memberikan susu cokelat untuknya. Namun keduanya terlihat tak terganggu sama sekali. Bahkan hantu itu seakan menuntun keduanya untuk pergi ke gubuk tua yang ia ceritakan tadi. Mereka berhenti di depan gubuk, memandang ke arah gubuk tadi. Hantu gadis kecil itu menembus tembok yang terbuat dari anyaman bambu. Baru saja keduanya akan melangkah lebih dekat, ada seseorang yang menghentikan langkah mereka.
"Maaf ada perlu apa disini?"
"Hmm maaf pak, kami hanya kebetulan lewat saja."
"Kenapa jam segini adek-adek ini ada diluar? Apa ada yang kalian cari?"
"Gak ada kok pak, kami ini terpaksa berkeliaran karena kelaparan. Tadi sewaktu hujan, ada pohon tumbang yang menghadang mobil travel yang kami tumpangi. Jadi kami semua tertahan di daerah ini." Jelas Rania seraya menyunggingkan senyuman.
"Sayangnya rumah saya agak jauh dari sini, jadi saya tidak bisa mempersilahkan kalian untuk singgah. Tapi jika bisa, kalian jangan berkeliaran di daerah sini berduaan saja. Banyak bahaya yang kemungkinan bisa terjadi tanpa kalian duga. Mari saya antarkan kembali ke mobil travelnya." Lelaki paruh baya itu terlihat tenang, dengan perawakan tinggi kurus seraya memakai blangkon di kepalanya.
Dahayu memperhatikan gelagat lelaki tersebut. Meski terlihat biasa saja, lelaki tersebut memiliki dua energi yang menyatu. Energi positif dan negatif terasa kuat ketika ia di dekatnya. Di sepanjang perjalanan, Dahayu terus fokus memperhatikan lelaki yang baru saja mereka temui. Dan secara kebetulan lelaki tersebut mengetahui isi hatinya. Sontak saja Dahayu jadi salah tingkah, dan menyangkal jika dirinya memiliki pemikiran buruk mengenai lelaki tersebut.
"Gak kok pak, bukan begitu maksud kami. Bapak mau mengantarkan kami kembali aja udah bersyukur. Ya kan mbak?" Sahut Rania dengan menyikut tangan Dahayu, dan dibalas dengan anggukan kepala saja.
Sesampainya di depan pohon tumbang, lelaki tersebut memandang ke arah bangunan tua. Nampak ketiga penumpang perempuan tadi baru saja keluar. Ketiganya berjalan kembali ke arah yang sama.
"Ya sudah saya antar sampai disini saja, kebetulan saya ada perlu di dekat sini." Jelas lelaki tersebut berjalan ke arah bangunan tua tadi.
Setelah Dahayu dan Rania berterima kasih padanya, ia melangkah dengan cepat ke bangunan bekas Belanda tadi. Kedua gadis itu penasaran, mereka menatap lelaki tersebut hanya berdiri diam di depan pagar besi. Tak lama pintu utama terbuka, seorang gadis muda berjalan menghampiri lelaki tadi. Mereka terlihat berbicara serius, membuat Dahayu dan Rania salah tingkah karena tiba-tiba gadis itu melihat ke arah mereka.
"Dih Ran, cewek itu ngelihatin kok bikin kita jadi segan ya. Gue kayak ngerasa sungkan gitu harus bertatapan mata dengannya!" Ucap Dahayu dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Gak tau juga gue mbak. Mungkin karena kita ngerasa gak enak aja diem-diem ngelihatin mereka." Rania mengalihkan pembicaraan, lalu menyapa ketiga gadis yang berjalan beriringan dengan mereka.
Rania bertanya, kenapa mereka lama sekali menumpang ke toiletnya. Hanya sekedar untuk berbasa-basi saja, supaya ia tak terlalu sungkan karena sejak tadi gadis mudah yang keluar dari bangunan kuno masih memandangi mereka. Salah satu dari ketiga gadis itu mengatakan, jika pemilik bangunan tua tadi sangat baik. Mereka ditawari makan dan istirahat disana, karena itulah ketiganya lama disana. Mereka juga menceritakan, jika ruangan di dalam sana sangat luas. Sehingga terlalu sepi jika hanya ditempati orang sedikit. Tak banyak yang diceritakan mereka, karena ketiganya langsung masuk ke dalam mobil dan memejamkan mata. Rania dan Dahayu masih ada diluar mobil, sesekali mereka melirik ke arah bangunan tua tadi. Nampaknya lelaki paruh baya dan gadis muda tadi masih berbicara serius.
"Mbak... Kenapa gue jadi keppo sama mereka ya?" Ucap Rania dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Jangankan lu Ran, gue juga jadi penasaran. Soalnya mereka punya energi lain dari manusia pada umumnya. Tapi gue juga gak tau apa, karena mereka terasa beda sama orang-orang lainnya. Itulah yang bikin kita kayak tertarik ngelihatin mereka terus. Tapi masak iya kita sok akrab buat nanya-nanya gitu?" Imbuh Dahayu dengan menghembuskan nafas panjang.
Rania dan Dahayu sama-sama menggelengkan kepala, tanpa mereka sadari gadis muda yang segan mereka lihat berjalan ke arah mereka. Ia menghentikan langkah di depan keduanya, lalu menyunggingkan senyuman dengan ramah. Ia menawarkan pada mereka, untuk menumpang ke toilet atau istirahat sebentar untuk menunggu pagi. Nampak Rania dan Dahayu salah tingkah, mereka gelagapan tak tau harus menjawab apa. Keduanya tak menyangka, jika perempuan yang sedari tadi mencuri perhatian mereka akan datang untuk menawarkan bantuan.