TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 34 FLASHBACK SEPENGGAL KISAH.


Seorang gadis muda mengenakan dress putih khas seorang perawat sedang bersiap di kamarnya. Ia bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit pemerintah pada jaman dulu. Ia ditugaskan untuk membantu merawat para tentara Indonesia, yang ingin memeriksakan kondisi kesehatan nya. Disana ia sering bertemu seorang pemuda yang berhasil memikat hatinya. Pemuda berseragam itu sering menghabiskan waktu bersamanya. Suatu hari keduanya harus berpisah, karena sama-sama ditugaskan di kota yang berbeda. Hubungan mereka terhenti, dan keduanya memiliki kehidupan masing-masing. Mereka sama-sama sudah menikah dan memiliki anak. Pada kala itu keduanya secara kebetulan dipertemukan kembali, karena terjadinya perang besar disebuah daerah, yang mengharuskan mereka bertugas di wilayah yang sama. Jalinan cinta kasih mereka kembali terjalin, dan membuat keduanya terlibat cinta terlarang. Perselingkuhan mereka terdengar oleh keluarga mereka masing-masing. Yang akhirnya membuat keduanya kembali dipisahkan. Lelaki itu diberi sanksi oleh komandannya, ia dipindah tugaskan jauh ke daerah pelosok. Karena istrinya melaporkan perbuatan tidak senonohnya itu. Sementara perempuan perawat tadi, diminta berhenti jadi perawat oleh suaminya. Mereka juga pindah ke kota lain, untuk menjauhkan dari lelaki selingkuhannya. Namun si perempuan itu tetap menaruh hati pada sang tentara, meskipun tahun berganti dan ia sudah memiliki cucu. Cintanya pada pemuda berseragam itu tetap masih ada, dan membuat suaminya meninggal di usia muda. Karena ia tak pernah memperhatikan kesehatan suaminya sedikitpun. Suami yang sangat mencintainya tiada membawa rasa sakit hatinya, karena sampai akhir hidupnya sang istri tak pernah memperlakukan nya dengan baik.


Mirisnya masa lalu nya diketahui oleh sang anak, yang merasa tak terima dengan perbuatan ibunya. Sang anak merasa ibunya sangat menyakiti almarhum ayahnya, dan tak mau dekat lagi dengan ibunya. Dimasa tuanya, sang anak benar-benar tak mau mengurusnya. Ia dititipkan di sebuah Panti Jompo di daerah Jawa Tengah, yang tempatnya sangat jauh dari tempat tinggalnya yang berada di Bogor. Namun Sintia tak dapat melihat dengan jelas wajah tua perempuan itu. Ia terlihat menundukkan kepala karena sering berlinang air mata. Namun disaat Sintia akan melihat wajahnya, nampak Mariyati hadir di mimpinya dan membuyarkan semuanya.


Dan di alam nyata, Mariyati sudah berada tepat di depannya. Ia membulatkan kedua mata, menatap Sintia penuh amarah. Sementara kuntilanak nek Siti langsung pergi begitu saja. Ia tak mau jika Sintia menjadi pelampiasan amarah Mariyati.


"Bangunlah! Cepat kembali ke kamarmu Sintia, bukankah sudah saya katakan ada makhluk halus yang akan menggangu mu. Kenapa kau masih ada diluar kamar?"


"Saya pingsan bu, ta tadi ada kuntilanak yang menabrak saya. Setelah itu saya gak sadarkan diri." Ucap Sintia gagap, ia melipat tangan di depan dada dengan raut wajah ketakutan.


"Itu karena kau melanggar perintah saya! Jangan pernah kau ulangi hal seperti ini lagi, kalau tak ingin hal yang lebih buruk terjadi padamu!" Kata Mariyati menatap Sintia dengan menyipitkan kedua mata.


Entah kenapa Sintia merasa jika ucapan Mariyati bukanlah isapan jempol belaka. Ia merasa jika sesuatu yang lebih buruk benar-benar akan terjadi. Terlebih lagi jika ia tak menuruti ucapan pengelola Panti itu. Akhirnya Sintia berjalan gontai ke kamarnya. Ia mengunci pintu kamar dengan memegangi sebelah kepalanya. Matanya berkunang-berkunang, mungkin efek pingsan tadi. Ia kembali mengingat sesuatu dilihatnya melalui mimpi. Wajah seorang perempuan yang sangat mirip dengannya, dengan berbagai kisah masa lalu yang pelik.


"Aaargh! Sial. Kenapa gue kebangun sebelum melihat wajahnya. Dari postur tubuhnya kayak gak asing di mata gue. Tapi kenapa gue mimpi kayak gitu ya, setelah ditabrak kuntilanak tadi?" Batinnya di dalam hati penuh tanya.


Sementara Sintia masih kebingungan dengan arti mimpinya. Mariyati menemui nek Siti dengan penuh amarah. Ia mengancam nek Siti yang berwujud kuntilanak, dengan mengatakan jika ia akan menghabisi Sintia meski nek Siti tak akan mau menerima persembahan jiwa cicitnya.


Nek Siti yang berwujud kuntilanak hanya tertunduk diam. Ia menangis dengan suara yang memekakan telinga, nampaknya ia tak berdaya dengan ancaman Mariyati. Ia memilih diam tak melanjutkan niatnya, karena bagaimanapun ia tak ingin cicitnya celaka lebih cepat. Setidaknya ia bisa mengulur waktu sampai hari yang tepat. Hantu kakek Ridho mengajak kuntilanak nek Siti kembali ke ruang ritual. Mereka berdua nampak tak berdaya dengan ancaman Mariyati. Kali ini ke enam hantu lansia itu mengikuti serangkaian ritual sampai selesai. Sampai tepat pukul tiga pagi, acara persembahan jiwa baru selesai. Ke enam hantu itu masih berpesta merayakan persembahan kakek Dodit. Sementara Mbah Gito dan Mariyati menyiapkan lubang kuburan, untuk menguburkan jasad Doni.


"Kau lanjutkan saja, aku harus segera membelah dadanya untuk mengambil hati dan jantungnya. Sebelum organ tubuh itu membusuk di dalam sana!" Seru Mariyati seraya melangkahi kakinya.


Di ruangan ritual, nampak Mariyati membawa kapak dan beraneka jenis benda tajam lainnya. Ia berniat membelah dada Doni, dan mengambil organ dalam yang dibutuhkan nya. Sementara di sudut ruangan itu, nampak sesosok jiwa yang meringkuk dengan wajah ketakutan.


Ya, itu adalah jiwa Doni yang sudah terlepas dari dalam raganya. Roh korban tumbal persembahan sepertinya tak akan bisa kembali ke alam keabadian, sebelum para pelaku penumbalan itu tewas.


"Cukup Mariyati, jangan kau lanjutkan ritual sesatmu itu. Kau sudah terlalu lama bersekutu dengan iblis, sampai kau melupakan jati dirimu sebagai manusia yang berbudi!" Ucap seorang lelaki yang baru saja melesat masuk ke dalam ruang ritual.


"Apa mau mu datang kesini? Kangmas tak akan pernah bisa menghentikan ku. Dan apa tadi kau bilang, manusia berbudi? Hahaha aku sudah jadi setengah iblis, hanya raga ku saja yang masih berdetak seperti manusia pada umumnya. Namun aku berbeda dari manusia lainnya, aku kekal dan awet muda!" Pungkas Mariyati tertawa angkuh.


Keduanya saling bertatapan dengan maksud sendiri-sendiri. Mereka kakak beradik yang berbeda tujuan, namun sebenarnya keduanya saling mengasihi. Sehingga mereka tak mampu menyakiti satu sama lain. Berpuluh-puluh tahun keduanya bertentangan, namun tak ada yang bisa membuat mereka terpisah. Meski terkadang mereka saling menyakiti satu sama lain, namun perkelahian mereka selalu berakhir dengan saling mengalah. Sang adik berniat untuk mengajak kangmas nya kembali ke jalan kegelapan, sementara kangmas nya ingin mengajak sang adik bertaubat dengan menghentikan semua ritual sesat itu. Entah bagaimana akhir drama kakak beradik itu, siapa yang akan mengikuti jalan mereka masing-masing. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.