TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 95 DINA TERTIPU BERAKHIR PILU.


"Kenapa kau bersikap begini padaku? Apa kau memang berniat melenyapkan ku? Bukankah kalian membutuhkan bayi yang sedang ku kandung. Kenapa kau justru berusaha melenyapkan ku?" Ucap Dina dengan terbatuk-batuk. Nafasnya sudah terasa di ujung, hingga ia kesulitan untuk berbicara.


Perlahan Mariyati melunak. Ia mengendorkan genggaman tangannya. Dengan begitu otomatis Dina dapat kembali bernafas dengan bebas. Dada yang terasa sesak dan tertekan sudah bisa mengembang seperti semula. Dina masih mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Sementara Mariyati kembali mengancam Dina, dengan kata-kata yang lebih menohok.


"Mudah saja bagiku untuk melenyapkan mu. Setelah bayi itu lahir, kau juga akan berakhir. Aku bisa mencari raga lain yang bisa ku tempati. Tapi kau, kau tak akan ada lagi di dunia ini. Jadi katakanlah apa keputusan terakhir mu. Sebelum tepat jam dua belas ini, kau harus mengambil pilihan!" Tegas Mariyati seraya melangkah pergi.


Dina tertunduk dengan memegangi dadanya. Ia mendengus kesal, merasa tak ada gunanya melawan. Entah sejak kapan keberanian di dalam dirinya muncul untuk membangkang pada Mariyati.


Ia melihat ke dalam ruangan ritual. Nampak wanita berkebaya merah itu seperti sedang menyatukan kekuatan dengan Mariyati. Sebenarnya wanita berkebaya itu memang lebih tua dari Mariyati. Namun sikapnya pada Mariyati seperti seorang yang jauh lebih muda. Karena beberapa kali Dina melihat, jika wanita tersebut membungkukkan setengah badannya ketika berjalan melewati Mariyati. Cara bicaranya juga terdengar sangat sopan, layaknya seorang anak pada orang tua. Dina yang sekarang hanya mengingat Mariyati dalam wujud mudanya, ia lupa jika pertemuan pertamanya dengan Mariyati memang sudah berwujud tua. Mungkin sudah sebaya dengan wanita berkebaya merah itu. Namun aslinya Mariyati lebih tua darinya.


Angin dingin berhembus kencang. Terlihat kilatan menyambar di langit gelap. Sesekali terdengar gemuruh dengan asap tipis yang mengepul entah darimana asalnya. Sebagai manusia normal pada umumnya. Tentu saja Dina merasakan aura mencekam. Belum lagi aroma dupa dan kemenyan yang berhembus terbawa udara. Membuat bulu halusnya meremang. Beberapa saat kemudian, para hantu lansia berdatangan dengan wujud asli mereka. Dina melihat semua penampakan lansia itu dengan tubuh yang agak bergetar. Ia berusaha menutupi rasa takut dengan berdiri tegak lalu mendongakkan kepala ke atas. Ia nampak angkuh, dan seakan menantang para hantu lansia itu. Namun rupanya ia agak terkejut melihat wujud asli nek Dijah dengan punggung yang berlubang. Ia menyipitkan mata, menatap wujud nenek buyutnya dalam bentuk yang berbeda. Perwujudan sundel bolong nek Dijah hampir membuatmu lari terbirit-birit. Namun karena rasa ego yang terlalu tinggi. Ia berusaha bertahan dan menahan rasa takutnya, supaya nek Dijah tak menganggapnya sepele. Terdengar suara bentakan Mariyati. Wanita itu sudah berdiri dengan berkacak pinggang di depannya.


"Katakan bagaimana keputusan akhirmu?" Tanya Mariyati membulatkan kedua mata.


"Hmm... A-akuu... Jelaskan dulu padaku. Apa aku masih bisa menjalani hidupku seperti sebelumnya? Aku ingin kembali ke kehidupan ku yang sebelumnya. Dengan semua kesaktian yang kau wariskan itu. Aku ingin tinggal di kota, dan tak berurusan dengan para demit lansia itu lagi!" Jawab Dina dengan mendengus kesal.


Mendengar cara bicara Dina yang seakan tak menghormati Mariyati. Nampaknya wanita berkebaya merah itu kesal. Ia mengepalkan tangan seraya berjalan mendekati Dina. Ada yang berbeda dari caranya berjalan. Ia berjalan namun tak menapakkan kakinya di lantai. Berbeda dengan para hantu lansia yang berdiri mengambang dengan cara melesat terbang. Mariyati menghentikan wanita itu, ia menggelengkan kepala memberi kode supaya wanita itu tak mencampuri pembicaraan mereka. Tentu saja jika bisa Mariyati akan langsung melenyapkan Dina. Namun ada sesuatu yang spesial darinya, sehingga Mariyati bersikap lunak dalam menghadapinya.


Hampir semuanya menganggukkan kepala dengan wajah datar. Hanya ada tiga hantu lansia yang nampak acuh tak perduli.


"Lantas kapan semuanya akan terjadi? Apa aku bisa langsung mendapatkan kesaktian mu itu?" Dina menyipitkan kedua mata.


"Pasti, tapi sekarang hanya akan terjadi ritual sebagai simbolis saja. Cepat ikuti aku ke altar, kau harus membuat bughul baru yang akan disatukan dengan ku." Pungkas Mariyati seraya melemparkan bughul bekas Dina ke ujung ruangan, dan secara tiba-tiba muncul kobaran api yang entah berasal darimana.


Setelah api membakar hangus bughul tersebut, terlihat jika hantu nek Dijah merasakan efek terbakar. Seluruh tubuh hambanya mengeluarkan asap tipis. Sosoknya melesat pergi meninggalkan ruangan itu. Entah kenapa sosok sundel bolong nek Dijah tak membangkang keputusan Mariyati, bukankah itu akan merugikan nya sendiri. Pasti Mariyati sudah berdiskusi dan menawarkan jiwa pengganti untuk nek Dijah. Tapi siapa yang akan menjadi tumbal selanjutnya? Kelak waktu yang akan menjawab semuanya.


Wanita berkebaya merah itu memberikan boneka yang dibuat dari sabut kelapa. Boneka tersebut dibungkus menggunakan kain kafan, yang sudah dituliskan nama Dina beserta binti ayahnya. Dan dibaliknya ada nama Mariyati yang akan menjadi perantara. Setelah Dina menulis dan mengikat bughul yang dibentuk pocong itu. Ia tak merasakan apapun, dan tak ada perubahan di dalam dirinya. Sehingga ia merasa tak ada ancaman yang dapat merugikan nya.


"Mudah saja kan Dina, tak ada apapun yang terjadi padamu saat ini. Kenapa kau membuang waktu sejak tadi. Jika tidak semua ritual pasti akan lebih cepat selesai. Sekarang pergilah ke ruangan ku. Bawa Widia dengan hati-hati. Jangan sampai penutup mulut ataupun tali yang mengikat tubuhnya lepas. Karena Widia sedang dalam keadaan sadar tak terhipnotis. Sehingga kau harus hati-hati membawanya. Kita akan memulai ritual persembahan jiwa untuk nek Windu." Perintah Mariyati dengan membawa bughul baru milik Dina.


Ia pergi ke belakang Panti untuk menguburkan bughul itu di tempat yang tak diketahui Dina. Supaya kelak Dina tak dapat berubah pikiran dengan mengambil bughul itu lalu menghancurkan rencananya.


Sintia yang terpejam di dalam kamarnya tiba-tiba bangun, karena kerongkongan nya kering. Ia menoleh ke tempat tidur Dina. Sintia mengira jika temannya itu berada di dalam selimut yang menutupi badannya. Dina sengaja meletakkan guling di dalam selimut supaya Sintia tak menyadari jika sebenarnya ia tak berada disana. Dina sudah mengatur segalanya, ia sengaja berjaga-jaga merencanakan semuanya. Dan ternyata benar dugaannya. Karena Sintia memang memiliki kebiasan bangun dari tidurnya, untuk sekedar minum ataupun buang air kecil. Sayup-sayup Sintia mendengar suara ketukan pintu dari luar sana. Ia mengaitkan kedua alis mata, untuk memastikan apa yang didengarnya benar-benar nyata atau halusinasi nya saja. Namun semakin lama, ia yakin jika ada seseorang yang mengetuk pintu. Tapi ia tak berani melakukan apapun untuk memastikan nya. Sehingga ia hanya diam di atas tempat tidur dengan menoleh ke segala arah. Ia waspada jika saja hal-hal yang menakutkan terjadi di dekatnya.