
Malam itu menjadi malam yang sangat panjang. Setelah makan malam selesai, para lansia tak ada yang duduk di teras belakang seperti biasanya. Mereka kembali ke kamar masing-masing. Terdengar oleh Sintia, jika kakek Bimo dan kakek Dodit mengatakan kalau malam itu mereka akan menghadiri sebuah pesta, karena itulah mereka ingin menghemat energi dengan istirahat di kamar saja. Sintia menundukkan kepala bimbang, apalagi ketika ia melihat Dina dan nek Dijah saling diam dengan sorot mata sinis.
"Apa yang kau lakukan disini Sin? Kembalilah ke kamar, tak usah mengantarkan kami sampai kamar. Kau butuh banyak tenaga untuk menjalani hari-harimu disini." Ucapan kakek Ridho membuat Sintia kembali berpikir, seakan akan ada maksud lain di balik kata-katanya.
Masih jam sembilan malam. Dina sudah berbaring di ranjangnya. Tak biasanya ia sudah memejamkan mata lebih awal dari biasanya. Sintia masih duduk dengan menyenderkan kepala di tembok. Samar-samar ia melihat sekelebatan bayangan putih dari balik jendela kayu yang agak berlubang. Tak lama setelah terdengar suara langkah kaki yang mendekat, bayangan putih tadi hilang.
Cekleek.
Terdengar suara derit pintu yang didorong dari luar. Sintia langsung merebahkan tubuh dan berpura-pura memejamkan mata. Seorang wanita berkebaya menatap ke dalam kamar. Ia berdiri di depan pintu, memperhatikan seisi kamar. Setelah terdengar suara pintu yang menutup, barulah Sintia membuka lebar matanya.
"Siapa wanita berkebaya itu ya, aku tidak begitu jelas melihat wajahnya. Tapi melihat dari postur tubuh, sepertinya dia bukan bu Mariyati. Tapi siapa?" Batin Sintia di dalam hatinya.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Sintia ternyata tertidur, karena ia sudah menyantap hidangan yang dicampur dengan mantra-mantra oleh Mariyati. Jam di dinding menunjukkan pukul 23.30 wib. Dina terbangun dari tidurnya. Ia meregangkan otot-otot di tubuh, lalu memastikan jika Sintia sudah benar-benar terlelap. Dina menghembuskan nafas panjang, kemudian ia melangkah keluar kamar. Ia berjalan menuju ruangan ritual. Begitu pintu terbuka, terlihat Mariyati sedang bersama wanita berkebaya merah. Keduanya seperti sedang melakukan sembahyang dengan memegangi dupa di tangan.
"Siapa wanita berkebaya merah itu? Kenapa aku tak pernah melihatnya disini sebelumya?" Batin Dina dengan mengaitkan kedua alis mata.
Terdengar suara Mariyati memanggil namanya. Dina langsung berjalan mendekat dengan menggaruk kepala yang tak gatal.
"Duduklah, dia yang akan membantu ku untuk menyatukan jiwa kita berdua. Kau tak usah cemas lagi, dengan begitu seluruh kesaktian ku akan bersemayam dalam tubuhmu." Pungkas Mariyati seraya bangkit berdiri. Ia berjalan ke taman belakang, lalu menggali tanah untuk mengambil sesuatu.
Wanita berkebaya merah itu masih diam dengan menyatukan kedua tangan di depan dada. Ia komat kamit membaca mantra-mantra di depan altar yang digunakan untuk meletakkan beragam sesajen. Dina sesekali menoleh ke arah Mariyati. Ia terlihat mengambil bungkusan kain putih lusuh, yang sudah bercampur tanah merah. Bungkusan yang berbentuk seperti pocong, dibawanya setelah ia menutup kembali tanah yang tadi ia gali.
"Bughul? Apa itu bughul? Kenapa bentuknya kayak pocong gitu?" Dina menatap dengan lebih detail, ia menyadari jika namanya beserta ayahnya tertulis disana.
Mariyati menjelaskan, jika bughul adalah benda halus atau tali penghubung seperti ikatan berupa kabel gaib yang menghubungkan antara benda sihir, jimat, tumbal, boneka, dan sebagainya. Sebagai pusat yang terhubung dengan target. Keduanya saling mengikat satu sama lainnya. Benda sihir yang diikat, kedua jiwanya akan saling menyatu dan terhubung.
"Biasanya kabel sihir ini dibawa oleh pasukan jin, lalu pasukan jin itu masuk kedalam tubuh manusia dan mengikatkan kabel sihir ini ke bagian tubuh tertentu. Jika ingin menguasai dan menyakiti seluruh tubuh manusia biasanya diikat masuk ke ubun-ubun dan terkunci di otaknya. Itulah yang akan terjadi padamu, namun bughul ini hanya digunakan untuk menyatukan jiwa ku dengan jiwa mu. Supaya kelak, jika terjadi suatu keadaan tertentu, aku dapat langsung memasuki tubuhmu. Dengan begitu, kau sudah langsung memiliki seluruh kesaktian yang ku miliki. Dan raga ku akan binasa, setelah jiwaku menyatu denganmu." Jelas Mariyati dengan wajah datar.
Nampak Dina agak tercekat. Ia bingung dengan penjelasan Mariyati. Karena semua yang dikatakannya termasuk hal baru yang tak pernah ia dengar sebelumnya. Jadi butuh sedikit waktu supaya ia dapat memahami setiap perkataan wanita yang ada di depannya.
"Tunggu dulu!" Dina mencoba memikirkan setiap kata yang Mariyati ucapkan.
"Tunggu apa lagi Dina! Kita sudah tak memiliki banyak waktu! Sebelum proses persembahan jiwa Widia untuk nek Windu, kita harus melakukan ritual lebih dulu. Karena aku merasa ada suatu ancaman diluar sana. Jika kau menundanya, kau sendiri yang akan menyesal. Bukankah kau menginginkan ilmu awet muda dengan semua kekuatan yang ku miliki? Hanya dengan cara ini, kau bisa lebih mudah untuk memiliki semuanya!" Tegas Mariyati dengan membulatkan kedua mata.
"Kenapa kau terkesan memaksa. Apa hanya kau saja yang akan di untungkan dengan penyatuan jiwa ini? Aku jadi curiga, jika kau memang ingin membuat keuntungan buat dirimu sendiri. Jangan-jangan benar lagi kata nek Dijah, jika suatu saat aku akan kehilangan diriku sendiri!" Ucap Dina berpikir kritis. Ia menimbang untung dan rugi bagi dirinya sendiri.
Mariyati nampak kesal. Ia mengepalkan kedua tangan seraya komat kamit membaca rapalan mantra. Ia membuat Dina kesakitan, ia memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa tertekan dan sesak. Rupanya bughul yang ada di genggaman tangan Mariyati, masih tersambung dengan jiwa Dina. Mariyati menyakiti Dina menggunakan bughul tersebut. Karena ia kesal pada Dina, yang seakan berani membangkang padanya.
Mariyati menyeringai dengan mata bengis.
"Rasakan setiap kesakitan itu! Jika kau menolak tawaran ku, tak ada gunanya kau hidup lagi Dina!" Gertak Mariyati dengan sorot mata membunuh.