
Sintia mendorong tubuh Widia ke dalam kamar mandi. Ia langsung menutup pintu, sebelum nek Windu sampai di depan kamarnya.
"Kenapa kau ada disini sepagi ini Siti? Apa kau mencemaskan sesuatu?" Tanya nek Windu berdiri di depan pintu kamar.
Nek Siti mengembangkan senyum, ia mengatalan sesuatu yang membuat nek Windu langsung paham.
"Aku bermimpi buruk malam tadi, ku lihat Dina sudah tak ada di kamarnya. Ternyata semalam Sintia dan Dina pergi dari Panti. Mereka ingin mencari Widia yang belum kembali sampai sekarang. Karena mimpi itu terasa nyata, setelah bangun aku langsung mendatangi kamar ini." Jawab nek Siti menjelaskan.
"Jadi Dina menghilang? Apa yang harus kita lakukan sekarang? Bukankah Mariyati belum kembali?" Sahut nek Windu mengaitkan kedua alis mata.
"Tenang saja nek, semalam Sintia sudah bertemu pak Kirun dan juga mbah Gito. Sintia sudah menceritakan semuanya. Semoga saja Dina bisa diselamatkan." Sintia menghembuskan nafas panjang.
"Jadi kau meminta tolong pada Kirun juga?" Nek Windu terkejut.
"Iya nek, semalam pak Kirun juga yang nolongin Sintia. Tadi malam ada banyak hal gaib yang Sintia lihat. Dan gak akan mungkin bisa dilupakan begitu saja" Kata Sintia seraya melipat tangan di depan dada.
Nek Windu mengaitkan kedua alis mata, ia seperti sedang memikirkan sesuatu. Namun nek Siti mengalihkan perhatian, dengan mengajaknya pergi dari kamar Sintia.
"Kita mandi dulu saja, biarkan Sintia membersihkan diri lalu menyiapkan sarapan untuk kita." Ucap nek Siti menggandeng tangan nek Windu pergi.
Nampak Sintia langsung menghembuskan nafas panjang, ia merasa lega karena nek Windu akhirnya pergi dari kamarnya. Ia dapat melihat ketulusan nek Siti, yang menyembunyikan keberadaan Widia. Dari kejauhan, nek Siti memberi kode dengan gestur tubuh. Supaya ia mencari waktu yang tepat untuk melarikan diri.
"Waktu yang tepat? Yang jelas gak sekarang! Tapi kalau tidak secepatnya, bagaimana kalau mereka sadar jika Widia udah gak ada! Astaga gue harus bagaimana?" Gumam Sintia seraya mengacak rambutnya kasar.
Cekleek.
Widia membuka pintu kamar mandi. Ia berjalan menghampiri Sintia, lalu memeluknya. Widia berlinang air mata, ia berkata jika mereka semua harus pergi sama-sama.
"Gue gak mau pergi seorang diri Sin! Kita harus sama-sama meninggalkan tempat ini!" Protes Widia sesegukan.
"Sssttss... Pelanin suara lu Wid. Gue tau lu takut, dan mau ninggalin tempat ini. Tapi gue gak mungkin pergi dari sini tanpa Dina. Nanti gue kasih tau Riko, biar kalian berdua bisa pergi lebih dulu. Oke?" Sintia membujuk Widia.
"Gak! Gue gak mau Sin! Ngapain lu perduliin Dina sih hah? Dia aja gak pernah perduli sama lu! Pokoknya kita bertiga harus keluar dari Panti ini, meski tanpa Dina sekalipun!" Tegas Widia dengan menyeka air matanya.
"Kita bahas nanti lagi ya Wid. Gue siapin sarapan dulu!"
Widia menarik tangan Sintia, ia merasa aneh kenapa Sintia masih mau melakukan hal yang tak berguna.
"Gue tau Wid. Tapi gue gak mau bikin mereka curiga. Kalau gue pura-pura gak tau apa-apa, mereka juga gak akan curiga, kalau sebenarnya gue udah tau siapa mereka. Gue juga masih harus ngasih tau Riko, supaya dia percaya dan mau pergi dari Panti ini. Sekarang gue minta lu tetap sembunyi, supaya gak ada yang menyadari kalau lu udah gak ada di tempat persembunyian."
"Tapi gue takut Sin... Kalau bu Mariyati datangin gue gimana? Wujud aslinya sangat mengerikan tau gak! Dia itu kayak hantu, tapi dia masih menapaki lantai. Aura nya itu sangat kuat banget mistisnya." Cetus Widia seraya mengusap belakang tengkuknya.
Sintia terus menenangkan Widia, supaya ia berani meski harus sendirian di dalam kamarnya. Sintia tak ingin membuat para lansia curiga, sehingga ia memilih meninggalkan Widia meski temannya itu masih terlihat sangat ketakutan.
Baru saja Sintia mengambil handuk yang menggantung di paku. Terdengar suara ketukan pintu. Ia melangkahkan kakinya perlahan ke arah pintu. Nampak Widia langsung masuk ke dalam lemari, karena ia hanya merasa aman berada di dalam sana. Begitu Sintia menarik gagang pintu, nampak seseorang sudah berdiri membelakangi pintu kamarnya.
"Astaga... Lu ngagetin aja sih Ko!" Seru Sintia dengan menghembuskan nafas panjang.
"Lu kenapa Sin? Kok kayak habis ngelihat setan gitu? Tadi gue denger dari para kakek, kalau semalam lu sama Dina diam-diam keluar Panti ya? Terus gimana Dina bisa hilang di hutan itu?" Tanya Riko penasaran.
"Ceritanya panjang Ko. Yang mau gue jelasin saat ini ke lu berbeda. Tapi gue mau lu percaya dengan ucapan gue. Dan jangan tanya apa-apa lagi. Oke?" Jawab Sintia seraya memijat pangkal hidungnya.
"Maksudnya gimana Sin? Lu mau jelasin apa ke gue?"
"Gue bakal jelasin ke lu sesuatu yang sangat penting. Tapi lu harus janji gak usah banyak tanya, dan langsung lakuin apa yang gue minta. Katanya lu percaya sama gue kan? Jadi gue minta, setelah ini lu harus pergi dari Panti ini sama Widia. Kalian harus tunggu gue di tempat yang aman, kalau sampai dalam waktu sehari gue gak datang juga. Kalian berdua harus pergi cari pertolongan. Oke?"
"Pergi cari pertolongan? Emangnya ada apa sih Sin? Kok gue jadi bingung?" Riko menggaruk kepala yang tak gatal.
"Udah. Lu gak usah banyak tanya, nanti juga lu bakal ngerti. Nantinya Widia juga akan menjelaskan semuanya ke lu. Lebih baik sekarang kita ke dapur dulu. Kalau gue udah kasih tanda, lu harus jemput Widia di kamar ini. Dia ada di dalam lemari itu." Ucap Sintia menunjuk ke lemari kayu di samping jendela.
Riko tak sempat mengajukan pertanyaan lagi, karena Sintia langsung menarik tangannya pergi. Mereka berdua sedang sibuk di dapur, menyiapkan berbagai hidangan untuk sarapan.
"Lu gak mau mandi dulu Sin? Biar gue yang terusin semuanya!"
"Gue gak ada waktu buat mandi Ko. Lebih baik kita selesaikan semuanya lebih cepat!"
Setelah semua selesai dihidangkan. Para lansia bersama-sama duduk di meja makan. Tak ada yang mencurigai sesuatu, kalau sebenarnya Sintia telah mengetahui segalanya. Hanya nek Siti dan kakek Ridho saja yang terlihat makan dengan lahap.
"Wah nek Siti dan kakek Ridho kelihatan lahap banget ya makan nya?" Riko membuka obrolan untuk mencairkan suasana yang terasa kaku.
Hanya senyuman yang ditunjukkan kedua lansia itu, sementara lansia yang lainnya hanya diam dengan wajah muram. Nek Siti membuka obrolan kembali, ia meminta Sintia melanjutkan rajutan syal yang ia buat. Karena hari itu ia ingin menyelesaikan bacaan bukunya. Padahal niat nek Siti adalah untuk memberikan waktu bagi Sintia membuat rencana terbaik untuk melarikan diri dari Panti Jompo itu. Tapi nek Siti tak tau, jika sebenarnya Sintia hanya akan mengirim Widia dan Riko pergi. Karena Sintia tak bisa meninggalkan tempat itu tanpa mengetahui bagaimana keadaan Dina. Seandainya Sintia tau, jika percuma saja kalau dia menghawatirkan Dina. Bahkan Dina sendiri tak pernah memperdulikan nya sama sekali. Tapi kini Sintia malah ingin mempertaruhkan hidupnya hanya untuk teman yang tak pernah menganggapnya ada.