TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 44 MENEROBOS MASUK!


Riko menyelinap menghampiri Sintia di taman belakang. Ia mengatakan, jika dirinya percaya dengan ucapan Sintia. Riko bahkan mengajaknya ke ruangan ritual untuk membuktikan ucapannya itu benar. Namun Sintia tetap bersikap dingin, ia mengacuhkan Riko dan pergi dari sana.


"Lu kenapa kayak gini ke gue sih Sin? Gue percaya sama ucapan lu, dan harusnya lu juga bisa percaya sama gue. Gue benar-benar gak berbuat apapun ke Dina. Semuanya hanya salah paham aja tau gak, yang dilihat Bu Mariyati gak seperti yang terjadi. Dina hanya melebih-lebihkan saja, lu tau sendiri kan dari dulu Dina emang pengen buat hubungan kita renggang!"


"Hubungan? Hubungan mana yang lu maksud Ko? Kita gak ada hubungan apapun, jadi sah-sah aja kalau lu mau serius sama Dina. Udahlah gue gak mau debat lagi, ada hal lain yang harus gue cari tau kebenarannya!" Sintia melangkahi kakinya pergi.


Dari belakangnya, nampak Riko berlari tergesa-gesa mengejar Sintia. Ia tak ingin membiarkan Sintia seorang diri, namun siapa sangka Dina bersembunyi di balik tembok dan menghentikan langkah Riko. Seketika Riko mengacak rambutnya kasar, ia memaki Dina karena kesal. Menurutnya semua tuduhan yang ditujukan padanya belum jelas kebenarannya, dan ia tak mau terjebak dengan hubungan palsu bersama perempuan yang tak dicintainya.


"Lu harusnya gak berbuat serendah ini Dina! Dengan menjebak gue begini, gak akan bisa buat lu dapetin cinta gue. Jadi mendingan lu gak usah ngelarang gue deket sama Sintia. Karena ketika semua orang tau, kalau gue gak berbuat apapun ke lu, lu sendiri yang akan menanggung malu." Cetus Riko dengan wajah serius.


Tak mau tinggal diam, Dina membantah tuduhan Riko. Ia mengatakan jika ia merasa melakukan sebuah hubungan dengan nya, meski Dina sendiri tak yakin kapan itu terjadi. Karena ada tanda-tanda di sekitar tubuhnya, yang menjadi bukti jika ia memang melakukan hubungan badan dengan seseorang.


"Lu pikir siapa lagi yang menghabiskan malam sama gue, selain sama lu hah? Disini gak ada lelaki lain kecuali lu Ko! Apa lu bakal nuduh para lansia itu yang nidurin gue?" Jerit Dina dengan membulatkan kedua mata.


"Tutup mulut lu Dina! Jangan sembarangan kalau ngomong. Para lansia itu gak tau apa-apa, ngapain lu bawa-bawa segala sih! Udahlah biarin gue sendiri, gue gak mau ladenin lu. Mending kita buktikan aja, apa benar lu hamil anak gue? Jangan-jangan lu udah kayak gitu sebelum kita datang ke Panti ini!"


Mendengar perkataan Riko, hati Dina seperti tercabik-cabik. Tanpa sadar ia melayangkan tamparan tepat di wajah lelaki yang ada di hadapannya itu. Riko hanya tertunduk, ia merasa sedikit bersalah karena telah berkata kasar pada Dina. Perdebatan keduanya dilihat oleh Sintia, ia merasa jika ada kemungkinan Riko memang tak melakukan sesuatu pada Dina. Namun ia juga tak tega melihat Dina, akhirnya Sintia menghampiri keduanya. Ia meminta Riko untuk mengucapkan maaf pada Dina, karena menurutnya perkataannya sudah keterlaluan.


"Gak usah sok perduli deh! Gue gak butuh perhatian lu tau gak! Kalian berdua itu sama, terserah aja mau percaya sama gue atau gak! Kita lihat aja ke depannya, kalian bakal tau kalau gue gak mengada-ngada." Kata Dina seraya melangkah pergi dari sana.


Kini Sintia bisa menatap wajah Riko dengan sedikit lega. Sekarang ia memiliki sedikit keyakinan pada Riko, meski semua belum terbukti kebenarannya. Tapi ia tak bisa meragukan perdebatan Riko dan Dina tadi. Ia menghembuskan nafas panjang, melihat Riko dengan menggelengkan kepala.


"Harusnya lu gak perlu sekasar itu ke Dina. Kalau emang lu gak ngerasa berbuat, lu gak perlu meyakinkan gue kayak gitu. Lu tadi tau kan, kalau gue sembunyi di balik tembok itu?" Tanya Sintia mengaitkan kedua alis mata.


"Gue terpaksa kayak gitu supaya lu percaya sama gue Sin. Kalau gitu sekarang kita lihat ke ruangan ritual yuk, gue mau tau apa yang lu lihat di dalam sana." Jawab Riko seraya menggenggam tangan Sintia.


"Sorry ya Sin, gue gak bisa bantu. Gue juga seorang diri ngurusin semua kakek itu."


Sintia hanya menganggukkan kepala, ia mengembangkan senyumnya lalu pergi ke dapur untuk menyelesaikan cucian piringnya.


Seperti biasa, sebelum adzan dzuhur berkumandang para lansia sudah masuk ke dalam kamar mereka. Sintia dan Riko sudah membuat janji untuk bertemu di taman belakang. Dina yang masih kesal dengan keduanya memilih tidur siang di kamar. Jadi tak ada yang mengetahui rencana Sintia dan Riko, untuk melihat ke dalam ruang ritual. Mereka berdua saling waspada, hawatir jika ada yang memergoki. Riko meminta Sintia untuk berjalan terlebih dulu, dan ia yang melihat situasi sekitar. Sepi tak ada siapapun di sekitar sana, karena seperti yang mereka tau para lansia itu tak akan keluar dari kamar sebelum adzan ashar terdengar. Masalahnya hanya dua, yaitu jika Dina memergoki mereka. Atau Mariyati yang tiba-tiba datang. Mereka berdua tak tau jika sosok nenek tua yang ingin mereka intip adalah Mariyati.


Setelah memastikan keadaan aman, Riko berusaha mencongkel pintu itu dari luar. Sintia sempat melarangnya, namun Riko meyakinkannya jika nanti dirinya bisa membetulkan pintu yang dicongkel itu.


Kleeek.


Terdengar suara engsel yang terbuka. Riko menekan gagang pintu ke bawah lalu mendorongnya perlahan. Sintia dan Riko saling menatap, mereka menelan ludah kasar sebelum melangkahkan kakinya ke dalam. Terlihat keraguan di wajah Sintia, ia takut jika sosok yang dilihatnya tadi masih ada di dalam dan berniat mencelakai mereka. Sintia menarik tangan Riko lalu menggelengkan kepala.


"Gue takut Ko. Kalau nenek-nenek itu jahat gimana?"


"Apa yang lu takutin sih Sin? Itu hanya nenek tua, mana mungkin bisa nyelakain kita!" Kata Riko setengah berbisik.


"Ta tapi Ko, kalau ada apa-apa gimana?"


"Tenang aja Sin, gue bakal ngelindungin lu apapun yang terjadi!"


Keduanya saling bergandengan tangan, lalu masuk ke dalam ruangan ritual. Gelap dan tak terlihat apapun di dalam sana. Sintia mengarahkan jari telunjuknya ke sudut ruangan, nampak bayangan kursi goyang yang bergerak. Sintia menelan ludah kasar, bahkan bulu-bulu halus di tubuhnya meremang. Ia berkeringat dingin menahan rasa takut yang luar biasa. Kini ia ragu untuk mengangkat kedua kakinya, padahal beberapa langkah ke depan ia sudah bisa melihat dengan jelas apa yang ada di sudut ruangan itu.