TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 79 KABUR ATAU TERTANGKAP?


Nampak tiga ruangan dengan cahaya temaram di depannya. Kamar mandi dengan model lawas, yang tak memiliki bak mandi di dalamnya. Hanya ada sumur tua di bagian kanannya, sehingga Rania harus menimba air terlebih dahulu. Mariyati nampak gusar karena mengetahui jika Rania tau keberadaan sosok nek Siti. Apalagi nek Siti terlihat sengaja memancarkan aura kesedihan, yang dapat langsung dirasakan oleh Rania.


Tanpa diketahui Rania, Mariyati kembali melakukan komunikasi dengan sosok nek Siti. Ia mengancam akan segera membawa Sintia dalam keadaan hidup atau mati. Seketika sosok nek Siti tiba-tiba menangis mengiba, sebelum akhirnya ia melesat pergi. Namun Rania kembali terpancing dengan aura kesedihan yang semakin besar sehingga ia meletakkan ember di tanah, lalu memandang ke atas pohon.


"Kemana kuntilanak tadi pergi? Gue yakin kalau tadi dia menangis lebih sedih lagi. Sebenarnya dia kenapa sih, gue jadi terbebani merasakan aura yang dia pancarkan." Batin Rania di dalam hatinya.


Terasa hawa dingin yang melewati tengkuknya, ia membalikkan badan dan melihat gadis muda di belakangnya sedang membantu menimba air untuknya.


"Biar aku bawakan ke dalam, supaya lebih cepat. Takutnya budhe ku bangun dan melihat ada orang asing di rumahnya." Ucapnya seraya berjalan ke kamar mandi dengan menenteng satu ember berisi air.


"Wah maaf ya Riya, saya jadi merepotkan mu. Mungkin setelah ini kami kembali ke mobil aja, menunggu sampai pagi tiba."


"Ehmm jangan begitu dong, saya seneng kok ada kalian. Jadi ngerasa ada teman, lagipula budhe saya sakit hanya bisa berbaring di tempat tidur. Kemana-mana juga pakai kursi roda, jadi gak apa-apa kalau kalian hanya di ruang tamu sampai subuh nanti."


Rania hanya menganggukkan kepala lalu menutup pintu kamar mandi. Cahaya temaram di dalam sana, semakin membuat suasana sunyi. Tempat sebesar dan seluas itu hanya terlihat satu sosok saja yang ia jumpai. Membuatnya semakin bertanya-tanya, karena tak seperti biasanya para sosok dari alam gaib sangat menyukai tempat seperti bangunan tua ini. Namun tak banyak sosok yang ia lihat, seakan tempat itu benar-benar terjaga dari para makhluk gaib.


Cekleek.


Rania melangkah keluar, disambut dengan senyuman datar wanita yang ada di depannya. Ia mengajaknya kembali ke ruang tamu, namun aktivitas seseorang dari dalam sebuah ruangan memancing perhatiannya. Dari balik lubang jendela kayu.


"Siapa yang ada di dalam sana?" Celetuk Rania mengaitkan kedua alis mata.


"Itu sepupu saya yang datang dari kota kemarin. Dia mau menjenguk budhe, dan kebiasaan nya terjaga sampai selarut ini." Jelas Mariyati tak mengatakan yang sebenarnya.


Mendengar percakapan seseorang dari luar, membuat Dina penasaran. Karena tak biasanya ada seseorang yang ngobrol di jam-jam seperti itu.


"Maaf tadi sepupu saya." Ucapnya dibalas anggukkan kepala Rania.


Keduanya kini sudah ada di ruang tamu, menunggu pagi tiba. Namun tiba-tiba Mariyati bangkit berdiri, dan meminta kedua gadis itu pergi bersamanya.


"Sudah mau subuh biasanya banyak warga yang bangun memulai aktivitas nya. Mari saya antarkan untuk meminta bantuan mereka." Mariyati sengaka mengajak mereka pergi, setelah mendapat bisikan gaib dari mbah Gito.


Sepertinya Riko sudah ditemukan, dan terjadi sedikit masalah. Karena ternyata ia bersama pak Kirun di suatu tempat. Dan mbah Gito membutuhkan bantuan Mariyati, karena kedua sosok yang diutusnya tak akan mampu menghadapi pak Kirun.


Nampak beberapa orang baru saja keluar dari mushola. Mariyati memperkenalkan diri sebagai keponakan pemilik bangunan tua yang tak jauh dari tempat itu. Ia meminta bantuan warga untuk memindahkan pohon besar yang tumbang di depan jalan. Akhirnya beberapa warga berbondong-bondong untuk membantu dengan membawa beberapa alat yang dibutuhkan.


"Saya hanya bisa membantu sampai disini saja, semoga perjalanan kalian lancar sampai tujuan." Ucap Mariyati dengan wajah gusar.


Rania dan Dahayu sama-sama mengucapkan terima kasih, namun ada sedikit kecurigaan yang mengganggu pikiran mereka. Beberapa kali Mariyati terlihat memejamkan kedua mata, seperti cara mereka ketika mencari sesuatu yang berhubungan dengan hal gaib. Barulah setelah kepergian Mariyati, Dahayu terang-terangan curiga dengan gadis yang baru saja berpamitan dengan mereka.


"Gue juga ngerasa kok mbak, tapi mau bagaimana lagi. Kita juga gak kenal dia, masak tau-tau nuduh tanpa bukti. Lagian dia udah bantuin kita."


"Tapi kok tadi gue bisa ketiduran sih disana! Perasaan di mobil tadi udah tidur lama deh. Padahal gue ngerasa ada energi lain di rumah tua itu! Dan harusnya gue nyari tau sesuatu,biar gak penasaran gini" Kata Dahayu dengan mengaitkan kedua alis mata.


Rania menghembuskan nafas panjang, sebelum ia melanjutkan perkataannya. Ia mengaku merasakan hal yang sama, dan berusaha menyelidikinya. Namun ia tak bisa mendapatkan petunjuk apapun. Ada tabir hitam yang tak bisa ia tembus, karena ada yang berusaha membatasi penglihatan batinnya.


"Dan anehnya, selama berada di rumah tua itu, gue cuma ngelihat satu sosok hantu doang mbak! Kayaknya gak masuk akal ya, rumah dengan aura gak enak kayak gitu gak banyak makhluk gaib yang tinggal disana." Ucap Rania dengan menggaruk kepala yang tak gatal.


Keduanya hanya bisa memandang punggung Mariyati dari arah belakang. Perlahan bayangan nya pun menghilang ditelan kabut putih. Tak lama setelah itu, terdengar suara ringkikan kuda yang membuat fokus keduanya buyar.