TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 43 BERNIAT PERGI?


Ditengah-tengah kebingungan nya, Sintia menemukan sebuah ide untuk meminta bantuan dari pihak kampus. Ia berniat untuk meminjam telepon di ruangan Mariyati. Tapi nek Dijah mengatakan, jika ruangan Mariyati selalu terkunci ketika ia pergi meninggalkan Panti. Seketika Sintia dilanda kecemasan. Ia memijat pangkal hidungnya seraya berjalan mondar-mandir.


"Ada apa Sintia? Kenapa kau sudah bangun sepagi ini?"


Sintia membalikkan tubuhnya, ia melihat nek Siti berjalan ke arahnya. Nek Dijah memilih pergi dari sana, ia selalu menghindar jika harus bertatapan langsung dengan nek Siti.


"Nek, apa nenek tau kemana bu Mariyati pergi? Dan kapan dia pulangnya?"


"Memangnya ada apa Sin? Apa ada hal yang penting dan mendesak, hingga kau terlihat cemas begini?"


Sintia menghembuskan nafas panjang seraya menundukkan kepala. Ia menceritakan semuanya, mengenai Widia yang menghilang sejak semalam. Sintia menjelaskan, jika Widia terakhir kali pergi bersama nek Windu ke kamarnya. Namun setelah itu ia tak pernah kembali ke kamar.


"Sintia takut nek, kalau terjadi sesuatu pada Widia bagaimana?"


"Tenang dulu Sin. Kita tanya nek Windu dulu saja. Mungkin dia tau sesuatu."


Nek Siti bersama Sintia berjalan ke kamar nek Windu. Tapi langkah mereka terhenti ketika melihat nek Windu baru saja keluar dari kamar mandi. Sintia mengernyit, ia heran melihat nek Windu sudah mandi lebih dulu. Padahal biasanya, harus selalu nek Siti yang mengajaknya mandi.


"Windu, apa kau baik-baik saja?" Tanya nek Siti.


"Tentu saja, kenapa kau bertanya begitu Siti?" Jawab nek Windu menyunggingkan senyumnya.


"Kau bisa tanya pada Dijah, semalam aku berbicara dengannya sebelum kembali ke kamar. Memangnya kemana Widia pergi? Jangan-jangan anak itu kabur dari Panti!" Kata nek Windu.


Nek Dijah yang kebetulan berada di sekitar sana menyahuti perkataan nek Windu. Ia mengatakan hal yang sama, jika semalam ia melihat Widia meninggalkan nek Windu bersamanya. Sintia semakin kebingungan, dan takut jika ada hal yang buruk menimpa temannya. Nek Siti menggenggam tangan nya, meminta Sintia supaya berpikiran positif.


"Saat ini Mariyati tak ada di Panti, kita tak bisa melakukan apapun tanpa seijin nya. Kita tunggu saja, mungkin Widia tersesat di suatu tempat seperti waktu itu." Ucap nek Siti dengan senyum teduhnya.


Sintia hanya menganggukkan kepala, berharap jika perkataan nek Siti benar. Setelah itu ia kembali ke kamar dengan sedikit harapan. Ia melihat Dina sedang bersolek, tanpa ada sedikit rasa hawatir.


Pagi itu mereka semua sarapan pagi bersama. Suasana di meja makan agak sedikit canggung, karena Dina bersikap sok manis di depan Riko. Sintia memilih makan di dapur, dengan alasan ingin merapikan dapur supaya pekerjaan nya lebih santai. Ketika ia melewati ruangan ritual, samar-samar ia mendengar suara berisik. Sintia mengendap mencari celah untuk mengintip. Ia menoleh ke berbagai arah, supaya tak ada yang mengetahuinya. Di dalam ruangan itu sangat gelap, hampir tak ada cahaya sama sekali. Namun ekor matanya melihat sesuatu yang membuatnya penasaran. Ada rambut putih panjang yang menjuntai ke tanah. Rambut itu terlihat berkilau di tengah gelapnya ruangan. Sintia mencari pijakan untuk melihat ke atas ventilasi. Ia menata kursi kayu, sebagai pijakan kakinya. Meski agak kesulitan, namun Sintia terus berusaha melihat ke dalam. Kini ia sudah berhasil berdiri di atas kursi, meski ia harus berhati untuk menjaga keseimbangan. Dengan bantuan ventilasi udara, Sintia mendapatkan sedikit pencahayaan. Ia melihat ke dalam ruangan, nampak seorang perempuan tua dengan rambut putih panjang sedang duduk di atas kursi goyang. Ia memejamkan matanya, tak menyadari jika ada orang yang mengintip nya. Dan di sudut ruangan, ada sesuatu yang menarik perhatian nya. Seperti ada yang disembunyikan dibalik tumpukan kain. Disaat Sintia sedang sibuk mengamati nya, kakinya terpeleset hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Sintia hampir terjatuh, namun ia bisa menyeimbangkan tubuhnya. Dan ia pun kembali mengintip ke dalam ruangan, tapi begitu ia bersiap melihat ke dalam. Ia justru melihat sepasang mata dengan sorot mata tajam, sedang melotot melihatnya.


Bruuugh.


Sintia terjatuh ke lantai, tubuhnya bergetar dengan peluh yang membasahi keningnya. Ia berlari sekuat tenaganya, dan menceritakan apa yang dilihatnya pada semua orang yang ada di meja makan. Namun para lansia itu terlihat tak mempercayai nya. Sintia sampai bersumpah, dan meyakinkan semuanya kalau yang dilihatnya benar-benar nyata.


"Kalau gak percaya kita sama-sama masuk ke dalam ruangan itu saja. Sintia yakin kalian semua akan mengetahui yang sebenarnya. Ada perempuan tua yang menyeramkan disana, ia seperti sedang bersembunyi dari kita. Jangan-jangan dia orang jahat yang berusaha mencelakai kita!" Seru Sintia dengan berlinang air mata.


Riko yang tak tega melihat perempuan yang dicintainya ketakutan, berusaha menenangkan nya. Namun Dina langsung menarik tangan Riko, supaya ia menjauh dari Sintia. Nek Siti yang tau segalanya hanya bisa diam, karena bagaimanapun ia tak mungkin mengungkap jati diri Mariyati. Tak ada seorang pun yang mau mendengarkan ucapan Sintia, ia merasa keberadaan nya disana tak diinginkan. Sintia berlari ke taman belakang, ia menumpahkan kesedihannya disana. Ia merasa tak memiliki alasan untuk tinggal disana lebih lama lagi. Muncul niatan untuk pergi meninggalkan Panti Jompo itu. Tapi ia tak tau harus bagaimana, karena ia tak sama sekali tak tau dimana lokasinya saat ini.