
Sintia memikirkan sebuah hal yang harus ia lakukan dengan cepat. Tapi ia juga takut membahayakan dirinya sendiri. Namun langkah siluman harimau itu sudah semakin dekat dengan Dina. Reflek saja, Sintia mengambil batang kayu lalu melemparkan ke arah lain. Mendengar suara yang terlempar, membuat siluman harimau teralihkan perhatian nya. Sintia langsung merundukan tubuhnya, berharap keberadaan nya tak diketahui. Sementara Dina langsung lari tunggang langgang. Ia tak memperdulikan Sintia yang masih tertinggal jauh di belakangnya. Terlihat raut wajah Sintia terkejut, ia tak menyangka jika Dina akan pergi meninggalkan nya. Dan tanpa diduga, gerakan Dina justru terlihat oleh siluman harimau yang belum terlalu jauh darinya.
Whuuuuss.
Siluman harimau melesat dengan cepat menyambar tubuh Dina begitu saja. Hanya dengan satu kali tangkap, Dina sudah berada di dekapan siluman menyeramkan itu. Terdengar suara jeritan Dina, ia menangis berteriak memanggil nama Sintia berulang kali. Ia meminta maaf serta mengakui kesalahannya, karena telah sengaja membuat mereka masuk ke dalam hutan.
Nampak raut wajah Sintia berubah semakin ketakutan. Ia tak hanya memikirkan dirinya sendiri seperti Dina, tapi ia juga tak tau harus berbuat apa. Sintia kembali memikirkan sesuatu, ia harus mengambil sebuah keputusan. Jika ia keluar dari persembunyian dan berusaha menyelamatkan Dina, belum tentu mereka bisa keluar dari hutan itu dengan selamat. Sintia mengaitkan kedua alis mata, ia harus mengambil keputusan yang tepat supaya dapat keluar dari situasi mencekam itu.
"Sepertinya gue harus tega meninggalkan Dina di hutan ini. Gue harus mencari pertolongan diluar sana. Karena kalau gue nekat nyamperin Dina, yang ada gue bakal ikut tertangkap. Dan gak akan ada yang tau kalau kita ditangkap siluman di hutan ini. Gue harus keluar dari hutan, dan meminta pertolongan. Sorry ya Din, bukannya gue jahat mau ninggalin lu. Tapi gue terpaksa kayak gini, supaya salah satu dari kita selamat dan bisa meminta pertolongan." Batin Sintia di dalam hatinya dengan berlinang air mata.
Semakin jauh bayangan Dina dan sosok siluman harimau itu tak terlihat di pandangan mata Sintia. Tapi ia juga tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya menangis dalam diam dengan tubuh menggigil karena dingin dan juga ketakutan.
"Aaarrggh... Tolooong!" Seru Sintia berjalan mundur sesekali menoleh ke belakang.
Sosok nek Dijah meraih rambut panjang Sintia, lalu menariknya dengan kencang. Sintia terseret sampai masuk ke dalam kubangan. Nampak betisnya penuh luka karena goresan ranting-ranting pohon. Darah segar mengalir dari kakinya, membuat jiwa nek Dijah semakin beringas. Ia ingin menyesap habis darah Sintia, namun bayangan nek Siti terpampang jelas di wajah cicitnya. Hingga membuat sundel bolong nek Dijah makin murka. Ia menenggelamkan kepala Sintia ke dalam kubangan air, hingga Sintia nyaris meregang nyawa disana. Beruntung nya sosok kuntilanak nek Siti datang, dan mendorong tubuh hampa sundel bolong nek Dijah. Nampak kedua hantu itu saling menyerang, jiwa tanpa raga itu saling beradu kekuatan gaib. Sintia berusaha keluar dari kubangan air, dan melihat kedua hantu sedang berkelahi di atas udara. Ia kebingungan melihat pertengkaran itu, namun ia tak mau tetap berdiam diri disana. Ia berusaha bangkit berdiri, meski ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Sintia terus melangkahkan kaki dengan darah yang menetes dari betisnya. Ia menoleh ke segala arah, mencari penunjuk jalan yang dibuat oleh Dina.
"Astaga gue lupa arah jalan, karena sundel bolong tadi narik gue sampai kesini. Semoga aja gue gak nyasar huhuhu." Sintia berderai air mata, dengan menahan rasa sakit.
Ia tak memperdulikan luka nya, dan terus melangkah mencari penunjuk jalan buatan Dina. Sampai akhirnya ia melihat sesuatu yang berkilau terjatuh di tanah. Sintia merunduk untuk mengambil nya, begitu ia meraih benda berkilau itu, ia terkejut karena ternyata benda itu adalah liontin pemberian nek Siti untuknya. Samar-samar ia mendengar suara-suara perempuan. Sepertinya itu adalah suara kedua hantu yang sedang beradu kekuatan. Namun Sintia justru penasaran, kenapa sosok kuntilanak itu seakan ingin menolongnya. Tapi ia kembali teringat tujuannya untuk keluar dari hutan. Ia menyusuri jalan setapak dengan memperhatikan batang pohon. Sampai akhirnya ia menemukan satu lakban hitam yang menempel. Sintia menghembuskan nafas panjang, ia lega dapat menemukan satu petunjuk. Karena itu artinya, sebentar lagi ia dapat keluar dari hutan. Dan meminta pertolongan dari seseorang. Sintia yang polos tak menyadari, jika sebenarnya tujuan Dina membawanya kesana memang untuk menyesatkan nya. Namun takdir berkata lain, karena pada akhirnya Dina lah yang terjebak oleh rencananya sendiri. Mungkinkah Sintia dapat mengetahui yang sebenarnya, dan berubah pikiran untuk menyelamatkan Dina. Hanya waktu yang akan menjawab semuanya, apalagi jika Mariyati sampai mengetahui yang sebenarnya. Ia pasti akan sangat murka pada Dina maupun nek Dijah. Dan saat ini tujuan Sintia hanya satu, yaitu sampai di Panti secepatnya supaya ia dapat meminta pertolongan.