TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 46 RENCANA DINA.


Perwujudan hantu nek Dijah berusaha membantu Dina untuk mengerjai Sintia. Ia berniat membuat jebakan supaya Sintia keluar dari Panti, dan celaka diluar sana. Dina yang mendapatkan bisikan gaib dari nek Dijah, merasa di atas angin. Ia seperti menemukan ide brilian.


Dina berjalan menghampiri Sintia, ia bersikap sok baik dengan menanyakan Widia. Ia memberitahu jika lebih baik mereka berbagi tugas untuk mencari Widia di sekitar Panti. Dan saat itulah ia akan membuat Sintia tersesat di hutan sekitar Panti itu. Sementara sundel bolong nek Dijah yang akan membuatnya semakin tersesat, dengan menakut-nakuti nya.


"Gimana kalau kita berdua cari diluar Panti? Kayaknya Widia emang udah gak ada disini deh. Ada kemungkinan dia benar-benar diculik buronan. Kita berpencar aja nyarinya, tapi lu gak usah cerita ke siapa-siapa kalau kita diam-diam mau keluar Panti." Ucap Dina dengan tersenyum melalui sudut bibirnya.


"Kita gak ajakin Riko sekalian? Emang gak bahaya kalau cuma kita berdua?" Tanya Sintia mengaitkan kedua alis mata.


"Kalau kita semua pergi meninggalkan Panti, siapa yang akan jaga para lansia disini? Terus kalau mereka butuh apa-apa gimana? Nanti kita bilang aja ke Riko kalau mau ngerjain sesuatu di kamar. Tapi sih lebih bagusnya kalau kita keluar sebelum jam tengah malam, biar gak terlalu bahaya kalau kita berdua diluar Panti." Jawab Dina seraya mendongakkan kepala ke atas.


"Tapi para orang tua itu jam istirahatnya di jam sebelas malam Din. Gimana caranya kita buat mereka tidur lebih cepat dari waktunya?"


Dina terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya ia menjentikkan jari. Ia membisikkan sesuatu di telinga Sintia, membuat Sintia agak ragu dengan ide Dina.


"Gimana menurut lu Sin?"


"Emang gak bahaya ya? Kalau terjadi sesuatu gimana Din?"


"Halah kalau kayak gitu doang sih gak bakal kenapa-napa deh. Percaya aja sama gue Sin, cuma ini caranya supaya kita bisa diam-diam keluar dari Panti. Selagi bu Mariyati gak tau dimana. Kalau lu sepakat sama gue, bakal gue atur semuanya yang kita butuhin!"


Sintia mengernyit, ia sedang mempertimbangkan perkataan Dina. Ia tak pernah tau, jika sebenarnya ide dari Dina adalah sebuah cara untuk menjebaknya.


Plaaak.


Dina menepuk lengan Sintia dengan kencang, hingga membuatnya oleng dari tempatnya duduk. Sintia mengelus dada saking terkejutnya.


"Lu ngapain bengong sih? Kita gak punya banyak waktu, karena gue juga harus nyari barang yang kita butuhin!" Seru Dina dengan berkacak pinggang.


"Tapi lu yakin itu gak akan membahayakan para lansia? Terus lu juga yakin kalau kita bisa berdua doang keluar dari sini?" Sintia kembali bertanya.


"Tenang aja, dulu gue udah pernah pakai cara seperti itu kalau mau keluar dari rumah. Dan nyatanya nyokap gue masih baik-baik aja kok. Kalau nanti diluar sana ada bahaya, kita siap-siap aja bawa senjata tajam buat perlindungan. Kita nyarinya sama-sama jangan mencar, biar gak kehilangan jejak satu sama lain!" Kata Dina menyeringai.


Sintia menganggukkan kepala menyetujui perkataan Dina. Ia mengira jika Dina benar-benar perduli pada Widia, sehingga ia membuat ide seperti itu. Nyatanya ide itu hanya untuk menjebaknya supaya pergi dari Panti. Keduanya sudah sepakat pergi keluar malam nanti, dan Dina akan mengatur semua supaya strateginya berjalan lancar.


"Mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Antepin aja, biar sekalian gak ada yang tau kita keluar Panti." Ucap Dina setengah berbisik.


Disaat Sintia menyibukkan diri di meja makan, Dina bangkit berdiri. Ia memutar jarum jam ke atas. Yang semula masih menunjukkan pukul delapan, menjadi pukul sembilan malam. Tak membutuhkan waktu lama, dalam tiga puluh menit saja para lansia itu sudah mulai merasakan efek obat. Meski mereka hanya jiwa tanpa raga, nyatanya efek obat tidur tetap berpengaruh ketika wujud mereka menyerupai manusia. Nek Dijah hanya menyeringai dalam diam, karena tengah malam nanti begitu wujudnya berubah menjadi sundel bolong. Ia akan menjalankan rencananya, untuk menyesatkan Sintia di dalam hutan belantara. Nek Siti melihat raut wajah bahagia nek Dijah menjadi bertanya-tanya di dalam hati. Kenapa perempuan tua itu terlihat bahagia. Tapi rasa kantuk yang luar biasa membuatnya tak fokus.


"Nenek udah ngantuk ya? Tidur yuk nek udah jam sebelas loh!" Seru Sintia berjalan menghampiri nek Siti.


"Cepat sekali ya Sin, tau-tau sudah jam sebelas malam. Padahal nenek baru selesai membaca dua lembar buku." Kata nek Siti menguap seraya menutup buku yang ada di tangannya.


Dina menggerakan ekor matanya, memberi kode pada Sintia untuk segera membawa lansia itu ke kamarnya. Sintia membalas dengan anggukan kepala, ia memapah nek Siti ke kamar.


Sementara Riko yang kerepotan memapah ketiga lansia laki-laki juga terus menerus menguap. Ia heran, tak biasanya mengantuk lebih cepat dari jamnya tidur.


Sedangkan Dina yang sudah mengantarkan nek Dijah ke kamar. Terlihat menunggu Sintia di depan kamar mereka. Ia nampak mondar-mandir dengan wajah cemas. Sebenarnya ia ragu untuk melakukan rencana yang sudah disusun matang. Tapi jika mengingat tatapan penuh cinta Riko pada Sintia, membuat Dina membulatkan tekad. Ia mengepalkan kedua tangan dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Kalau gue sampai berbuat sejauh ini, jangan salahkam gue ya Sin! Itu semua juga salah lu, yang selalu menjadi penghalang buat hubungan gue sama Riko. Gue harap lu benar-benar hilang di tengah hutan, dan gak akan pernah ditemuin oleh siapapun!" Batin Dina di dalam hatinya.


Tap tap tap.


Terdengar langkah kaki seseorang mendekat ke arahnya. Dina membalikkan tubuhnya, namun tak ada siapapun di belakangnya. Tiba-tiba ada seseorang yang menyentuh pundaknya. Dina terkejut dengan membulatkan kedua mata, bahkan nafasnya yang berderu kencang bisa terdengar.


"Kenapa lu kayak ketakutan gitu Din?" Tanya Sintia.


Dina menghembuskan nafas panjang, begitu tau Sintia lah yang menyentuh pundaknya.


"Lu kemana aja sih lama banget tau gak! Kalau tiba-tiba bu Mariyati pulang gimana? Gue udah susah payah cari tangga dan bangku buat manjat tembok belakang. Karena kita gak mungkin lewat pintu depan. Pintu itu gak ada kunci cadangan nya!" Jawab Dina seraya menarik tangan Sintia.


"Kita mau pergi sekarang juga? Terus gak bawa apa-apa gitu buat jaga-jaga?"


"Tenang aja Sin, gue udah prepare. Semuanya gue siapin di belakang, kita tinggal manjat tembok pakai tangga aja."


Sintia dan Dina melangkahkan kakinya ke taman belakang. Mereka bergantian memanjat tangga. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah Mariyati akan marah pada Dina dan nek Dijah, jika ia tau mereka berencana untuk menjebak Sintia. Supaya Sintia pergi dari Panti, dan nek Siti tak akan mendapatkan persembahan jiwa dari cicitnya. Mungkin saat ini Mariyati tak bisa mengetahui apapun, karena kesaktiannya tak dapat digunakan selama bulan purnama. Namun ketika kesaktiannya kembali, ia pasti dapat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.