
"Siapapun kau yang sedang berusaha menerobos masuk ke dalam pesantren ini, jika tujuanmu baik maka aku akan mempersilahkan mu untuk masuk. Tapi jika kau memiliki niat buruk, kau harus berhadapan langsung denganku!" Tegas pak Abdul, ayah Fatima yang sangat disegani di wilayah pesantren itu.
Tak ada siapapun yang muncul setelah mendengar peringatan itu. Pak Abdul hanya dapat merasakan dua energi negatif dan positif di luar pondok pesantren. Sejauh mata memandang, tak ada pergerakan yang mencurigakan sehingga ia memilih mengacuhkan nya.
"Aku sengaja diam, tak mencari lebih detail supaya siapapun yang memantau di luar sana mengira jika aku lengah. Maka disaat yang tepat, aku dapat menangkap nya dengan mudah!" Batin pak Abdul di dalam hatinya.
Nampak seseorang bersembunyi di balik pohon besar, mengamati sekitar pondok pesantren. Ia mengenakan penutup kepala yang terbuat dari anyaman bambu. Di tangannya, terlihat sebilah belati dan karung besar. Ia berjalan mendekati seorang santri lelaki yang baru saja kembali dari kebun, lalu ia bertanya dimana tempat yang banyak ditumbuhi banyak rumput dan ilalang. Karena ia ingin mencari pakan untuk ternaknya. Tanpa curiga sang santri memberitahu, jika di dalam pondok pesantren nya ada tempat yang selalu ditumbuhi rumput dengan subur. Karena kebetulan para santri juga memelihara ternak, yang diberikan pakan rumput langsung dari sana.
"Jika bapak mau, silahkan ikut saya ke dalam. Bapak bisa mengambil seperlunya." Ucap sang santri dengan ramah, dan dibalas anggukan kepala lelaki bercaping itu.
Lelaki itu selalu menundukkan kepala, tanpa mengatakan sepatah katapun. Jika santri tadi tidak bertanya, darimana ia datang. Karena sebenarnya mereka tidak diperbolehkan sembarangan membawa orang luar masuk ke dalam wilayah pesantren.
"Saya tinggal tidak jauh dari sini, kebetulan tempat yang biasanya mencari pakan sudah kering rumputnya. Sehingga saya harus mencari ke tempat lain, saya tidak akan berlama-lama kok disini." Jelas lelaki itu seraya memangkas rumput dengan belatinya.
Sang santri baru saja akan melangkah pergi ke kandang ternak. Namun lelaki itu kembali mengajukan pertanyaan. Ia mengaku melihat tabib dari luar desa masuk ke pondok pesantren itu, dan ia menanyakan apa ada seseorang yang sakit disana. Nampak sang santri hanya mengaitkan kedua alis mata, ia menggaruk kepala yang tak gatal dan menjawab tak tau apapun. Kemudian santri tersebut memberi pakan ke ternak yang ada di kandang.
Lelaki misterius tadi mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya. Ia menggantungkan sesuatu yang terbungkus kain putih ke atas dahan pohon. Tak da yang mengetahui gerak-geriknya, sampai akhirnya Fatima menghentikan langkah karena merasa asing dengan seseorang yang berada di dekat kandang ternak. Baru saja Fatima akan melangkah kesana, lelaki bercaping itu berpamitan seraya berterima kasih pada santri yang membawanya masuk. Ia diantarkan sampai depan pagar pondok pesantren, lalu ia pergi terburu-buru dengan menenteng karung berisi rumput.
Fatima menatap punggung lelaki tersebut, sampai panggilan umi nya tak didengarnya.
"Fatima hanya heran, tadi ada lelaki yang datang kesini. Tapi Fatima merasa tak asing dengan postur tubuhnya. Seperti pernah melihatnya di suatu tempat." Jelasnya nampak mengingat.
"Sudah waktunya shalat dhuha, abi dan santri lainnya sudah menunggu." Pungkas uminya seraya berjalan masuk ke dalam sebuah ruangan.
*
Tabib desa berusaha menyadarkan Riko. Sampai akhirnya ia membuka kedua matanya. Ia sesekali mengerang kesakitan dengan memegangi kepalanya. Sang tabib membantu dengan memberikan ramuan, supaya sakit yang dirasakannya sedikit berkurang. Perlahan Riko mulai tenang, dan dapat berbaring tanpa memegangi kepalanya.
Tak berselang lama pak Abdul datang, ia melihat kondisi pemuda yang ditolong putri nya. Meski terlihat sadar, kondisi pemuda itu sangat memperihatinkan. Pak Abdul mendengar penjelasan dari sang tabib, yang mengatakan jika ada kemungkinan cedera parah pada bagian kepalanya. Dengan was-was pak Abdul bertanya, siapakah nama pemuda itu dan darimana asalnya. Namun pemuda tersebut kesulitan menjawabnya. Ketika ia berusaha untuk mengingat, ia justru semakin kesakitan dan kembali mengerang dengan memegangi kepalanya.
"Sudah nak... Tak usah dipaksakan untuk mengingat. Kau bisa tinggal disini sampai kondisi mu lebih baik, aku yang akan menjaga keselamatan mu." Ucap pak Abdul dengan menghembuskan nafas panjang.
Berdasarkan reaksi yang ditunjukkan Riko, nampaknya ia mengalami gagar otak sehingga ia kehilangan ingatan nya. Sang tabib meminta pak Abdul supaya tak membuat pemuda itu terlalu berpikir, karena akan membuat kondisinya semakin buruk.
Sedangkan seseorang diluar pondok pesantren yang berhasil mengawasi Riko dari luar sana nampak terkejut. Ia menundukkan kepala seakan kekecewaan menggelayut di pundaknya. Bahkan jiwa tanpa raga kakek Ridho nampak mendatangi lelaki yang berhasil menerobos masuk pondok pesantren tadi. Ia tak menyangka jika cicitnya dalam kondisi yang demikian. Ia sempat menyalahkan lelaki tersebut, karena ia merasa jika kondisi Riko sampai seperti itu juga tak lepas dari campur tangannya. Kini Riko dalam keadaan tak menentu, meski nyawanya berada di tempat yang aman. Tapi kondisi jiwa nya bisa sewaktu-waktu terancam, karena bagaimanapun jiwa nya sudah tergadaikan. Dan kapanpun dibutuhkan, jiwa Riko dapat di ambil kapan saja oleh orang-orang yang telah membuat ritual pengikat jiwa bersama para anak muda lainnya. Termasuk jiwa Sintia yang bisa di ambil kapanpun, sesuka Mariyati ataupun mbah Gito.