
Mariyati kembali menghipnotis Sintia dan Widia, supaya keduanya langsung kembali setelah urusan mereka di pasar selesai. Bahkan ia juga membuat keduanya menghiraukan ucapan orang lain, yang berkata jelek mengenai dirinya ataupun Panti Jompo yang dikelolanya.
"Apa kalian sudah paham dengan kata-kata saya?" Kata Mariyati, nampak matanya mengeluarkan cahaya merah. Dan keduanya pun membalas dengan anggukkan kepala.
Keduanya pun meninggalkan Panti, mereka masih berjalan dengan tatapan mata yang kosong. Sampai akhirnya Widia menabrak seorang perempuan paruh baya, dan terjadi sedikit perdebatan di antara mereka. Pak Kirun yang sedang duduk di atas delmannya, bergegas menghampiri mereka.
"Maafkan dia bu, kedua anak ini tidak memperhatikan jalan. Pikirannya tidak pada tempatnya. Widia minta maaflah pada ibu ini."
"Maaf bu, saya tidak sengaja."
"Memangnya kalian ini orang mana? Perasaan saya tidak pernah melihat kalian berdua. Dan bapak ini juga, orang mana?" Kata si ibu penasaran.
"Kami tinggal di Panti, memang nya kenapa bu?"
Nampak wajah perempuan paruh baya itu ketakutan, ia bergidik seraya mengusap belakang lehernya.
Karena melihat reaksi perempuan itu seperti ketakutan. Sintia dan Widia langsung penasaran, mereka memperhatikan gelagatnya. Namun dengan cepat pak Kirun menyadari keadaan. Ia membuat si ibu tadi langsung pergi, tanpa bertanya banyak hal. Pak Kirun memiliki ilmu yang sama seperti Mariyati, jadi tak akan ada yang curiga dengan pak Kirun.
"Ayo dek mau ke Pasar kan?"
"Loh kok bapak tau?"
Pak Kirun menyunggingkan senyum, ia nakk ke atas delman dan mengemudikan nya.
"Saya cukup tau, karena kalian membawa kantong belanja. Apakah Mariyati meminta kalian membeli ayam hitam?"
"Loh kok bapak tau?" Widia terperanjat dari tempat duduknya.
"Sudah saya duga sebelumnya." Pak Kirun menghembuskan nafas panjang seraya menundukkan kepala.
Sepertinya Pak Kirun tau, jika Sintia dan Widia di bawah pengaruh hipnotis Mariyati. Karena sejak tadi keduanya tak banyak berbicara dengannya. Tak seperti sebelumnya ketika mereka bertemu pak Kirun. Pak Kirun menggunakan kesaktiannya untuk melihat melalui batin, bagaimana keadaan di dalam Panti Jompo. Ia terkejut melihat kondisi salah satu pemuda yang berbaring di tempat tidur.
"Sintia, apakah salah satu temanmu ada yang sakit?"
"Ada dua orang pak, Doni dan satu lagi Dina. Gak tau kenapa tiba-tiba mereka sakit, padahal kemarin biasa saja."
"Semoga kalian tak mengalami nasib yang sama seperti mereka."
"Maksudnya gimana pak?" Sahut Widia.
"Sudah tak ada apa-apa, kalian mau saya antarkan kemana saja?" Pak Kirun mengalihkan pembicaraan, karena ia tak mau ada masalah dengan Mariyati.
Sintia mengatakan jika ia harus membeli ayam jantan hitam, karena kakek Dodit akan berulang tahun, dan ia sangat menyukainya.
"Ayam jantan hitam sangat susah ditemukan. Tapi saya tau, siapa yang memilikinya. Namun pemiliknya sangat aneh, bisa jadi ia tak mau menjual ayamnya. Tapi kalau kalian mau, saya bisa antarkan."
"Gak apa-apa pak, daripada kami harus mengecewakan kakek Dodit. Kasihan beliau sudah ditelantarkan keluarga nya, jadi kami tak mau membuatnya kecewa." Jelas Sintia terharu.
"Sin kita langsung masuk atau gimana nih, dari tadi ketok pintu gak ada yang bukain!"
"Ntar dulu Wid, gak sopan kalau kita langsung masuk gitu aja!"
Sudah sepuluh menit keduanya berdiri di depan pintu, akhirnya Widia pun memberanikan diri masuk ke dalam. Ia merasa kegerahan berada di dalam sana.
"Sin, ini rumah atau apa an sih, serem banget tau gak. Mana panas lagi, kayak lagi di dimensi lain yang gak ada atmosfer nya!"
"Ngarang aja lu Wid, udah yuk keluar aja. Kalau yang punya rumah tau, dia bisa marah loh."
Widia menarik tangan Sintia, ia menunjuk ke sebuah ruangan yang paling gelap dan terlihat hangus. Tanpa sadar keduanya bergandengan tangan, mereka terlihat sangat ketakutan. Keduanya berjalan mengendap, lalu Sintia mengintip ke dalam ruangan itu.
"Wid, kayaknya kita salah masuk deh. Ini kayak gedung terbengkalai tau!"
"Iya Sin, kok kayak bukan rumah tinggal sih. Tadi pak Kirun bilangnya belok kanan atau kiri ya? Gue jadi lupa deh." Widia menggaruk kepala yang tak gatal.
Saat gilirannya Widia yang mengintip ke dalam ruangan itu, ia melihat sepasang mata menatapnya melotot. Sosok yang tak terlihat jelas wujudnya sedang menyeringai di hadapannya. Dari senyum nya seolah berkata, kalau kemanapun mereka pergi, sosok itu akan selalu mengikuti. Karena saat mereka berusaha meninggalkan bangunan itu, mereka selalu kembali ke tempat yang sama. Keduanya terjebak di dalam dan tak dapat menemukan jalan keluar. Sampai akhirnya pak Kirun datang menyelamatkan mereka.
"Cepat kita harus keluar sekarang juga, sebelum sosok yang paling berkuasa melihat kalian!" Cetus pak Kirun seraya melakukan gerakan-gerakan tertentu. Ia sedang berusaha melawan beberapa makhluk yang menyandera Sintia dan Widia.
Pak Kirun berbicara dengan bahasa jawa, ia mengatakan jika kedua jiwa gadis itu sudah tergadaikan oleh iblis. Sehingga tak ada gunanya penunggu yang ada disaba berusaha mencelakai mereka.
"Wes culno wae cah wedok-wedok kui. Daripada kowe kabeh keno masalah."
Sintia dan Widia bersembunyi di balik tubuh pak Kirun, keduanya tak mengerti apa yang dikatakan pak Kirun pada sosok yang tak bisa mereka lihat.
Sepertinya negosiasi pak Kirun berhasil, ia membakar kemenyan sebagai tanda persetujuan.
"Saya minta kalian belok ke kanan, kenapa malah masuk ke rumah kosong ini. Untung ada anak kecil yang memberitahu saya, kalau tidak bisa terjadi pertarungan dua kubu." Kata pak Kirun melirik ke sosok tuyul yang berdiri di depan pintu.
"Pertarungan dua kubu? Maksudnya gimana pak?"
"Sudahlah Sin, tak usah dibahas lagi. Itu rumahnya, kalian beli dulu ayamnya. Saya tunggu di delman saja."
Pak Kirun berkomunikasi melalui batin dengan seseorang. Ia memerintah lawan bicaranya itu untuk tak melanjutkan niatnya.
"Selama ini aku sudah diam, karena kau berjanji akan segera menghentikan ritual sesat yang kau dalami. Nyatanya kau semakin menjadi, dan aku sudah tak bisa tinggal diam lagi. Aku masih perduli dan menyayangimu sebagai satu-satunya keluarga yang ku miliki. Tolong berhenti sebelum jatuh korban lagi." Ucap pak Kirun melalui batin.
Namun sepertinya permintaan tulusnya ditolak. Pak Kirun sangat kecewa, karena tak bisa menyadarkan orang itu. Pak Kirun tertunduk pilu. Tak lama Sintia dan Widia datang, mereka kaget melihat pak Kirun berlinang air mata.
"Ada apa pak? Apa bapak sedang sakit?" Tanya Sintia seraya memberikan sebotol air yang ada di dalam tas ranselnya.
"Kau anak yang baik Sintia, tak seharusnya kau berada disana. Namun aku sudah terlanjur terikat janji untuk tak ikut campur lagi. Karena dulu aku pernah melakukan sesuatu untuk menyelamatkan cucu salah satu lansia itu. Namun pada akhirnya, justru anak tunggal ku yang jadi korbannya. Sekarang aku sudah mempelajari ilmu yang sama. Namun tetap saja aku tak berdaya, karena dia satu-satunya keluarga yang ku punya."
Pak Kirun terlihat dilema, ingin sekali ia membebaskan kedua gadis yang ada di hadapan nya. Namun secara kebetulan Mariyati datang, ia berdiri tepat di hadapan pak Kirun. Keduanya hanya diam dengan sorot maya tajam. Seolah komunikasi mereka melalu batin, dan tak terdengar orang lain. Entah apa yang sedang mereka lakukan dengan berdiri bertatapan. Karena Sintia merasa keduanya sedang berbicara di dalam hati masing-masing.