
Riko menatap Sintia seraya menganggukkan kepala, ia meyakinkan Sintia untuk melihat ke dalam ruangan gelap. Hanya terlihat raut wajah yang cemas. Sintia menelan ludah kasar, ia berjalan perlahan dengan langkah yang berat. Nampak tirai di depan pintu bergerak karena hembusan angin. Riko menyibak tirai itu, dan menengok ke dalam. Terlihat jelas bayangan kursi goyang, seperti ada yang duduk di atasnya. Riko meminta Sintia untuk menunggu di depan, karena ia tau jika Sintia sepertinya sangat ketakutan. Sintia bersikeras untuk ikut melihat ke dalam. Mereka bersama-sama masuk dengan bergandengan tangan. Ada aroma khas kemenyan dan dupa di sekitar sana. Karena memang berbagai ritual selalu di adakan disana, sehingga mereka sangat akrab dengan aroma macam itu.
Sintia menghentikan langkah, ia melihat rambut putih panjang yang menjuntai. Ia menarik tangan Riko, menunjuk ke arah rambut yang menjuntai ke lantai. Riko menaruh jari telunjuk di depan bibir, memberi kode supaya Sintia tak bersuara. Ia mengambil kayu panjang yang ada di belakang lemari, berjaga-jaga jika ada bahaya di sekitar sana. Keduanya berjalan mengendap, bersiap memegang pundak seseorang yang sedang duduk di kursi goyang. Meski kurang pencahayaan, mereka yakin jika nenek tua itu duduk disana dengan mengenakan daster putih yang menutupi seluruh tubuhnya. Riko memegangi kursi goyang itu, lalu menyentuhmu pundak peremuan tua yang duduk di atasnya.
"Kenapa tubuhnya keras dan kaku gini ya, sebenarnya nenek ini kenapa?" Batin Riko di dalam hatinya.
Riko menggoyangkan tubuh perempuan tua itu, namun ia tak bergeming. Sintia memberanikan diri berjalan ke depan, ia mendongakkan kepala nenek tua itu. Ia dapat merasakan tubuh dingin dan kaku. Begitu Sintia menyibak rambut putih yang menutupi wajah, barulah ia tau jika yang duduk di kursi goyang itu hanyalah sebuah boneka manekin. Nampak Sintia terkejut dengan membuka lebar mulutnya. Riko pun hanya bisa mengaitkan kedua alis mata melihat kenyataan yang ada di depan matanya.
"Apa ini Sin? Tadi lu bilang ada nenek tua di dalam sini. Tapi yang kita lihat hanya boneka manekin doang! Jangan-jangan lu cuma salah lihat, dan ngira manekin ini hidup."
"Gu gue gak mungkin salah lihat Ko. Tadi gue lihat sendiri nenek-nenek tua berdiri melotot di depan ventilasi sana. Dia marah lihat gue ngintipin dia, gue yakin gak salah lihat. Dan itu disana, dibalik kain ini gue yakin ada yang disembunyikan!" Sintia berbicara dengan nafas yang berderu kencang.
Tanpa banyak bicara, Riko menyibak kain yang dimaksud Sintia. Di dalamnya hanya ada tumpukan kain dan boneka manekin yang membentuk tubuh seseorang sedang duduk di lantai. Riko menggelengkan kepala di depan Sintia, membuat Sintia terlihat bodoh di hadapan lelaki yang disukainya.
"Gue udah ikutin naluri lu buat lihat ke dalam. Dan kenyataannya gak ada apa-apa disana, sekarang giliran lu yang nurutin gue. Balik ke kamar lu, biar gue yang benerin pintu itu. Takutnya bu Mariyati tiba-tiba pulang, dan ngelihat kekacauan yang kita buat." Kata Riko dengan memijat pangkal hidungnya.
Sintia mengaitkan kedua alis mata, ia tau jika Riko kini meragukan ceritanya. Karena setelah mereka melihat ke dalam sana, tak ada apapun di ruangan itu. Sintia pun bertanya-tanya di dalam hatinya, kemana nenek tua itu pergi. Dan benarkah yang berada di balik kain itu hanya boneka manekin saja. Namun ia tak bisa memaksa Riko untuk mendengarkan nya, karena ia tak punya cukup alasan. Akhirnya Sintia menuruti ucapan Riko, ia pergi ke kamar dengan perasaan yang campur aduk. Ia duduk termangu di depan jendela kamar, dan berharap jika Widia tiba-tiba datang. Riko dan Sintia tak pernah tau jika sebenarnya Mariyati sudah terlebih dulu pindah ke dalam ruangan nya. Para lansia itu sudah terlebih dulu memberitahu Mariyati, jika Sintia sudah memergokinya di dalam ruangan ritual. Karena itulah, disaat para anak muda itu mengantarkan para lansia ke dalam kamar, Mariyati bersusah payah memindahkan Widia ke ruangan pribadinya. Dan ia mengatur strategi dengan meletakkan manekin di kursi goyang, untuk mengecoh mereka. Permainan licik Mariyati berhasil membuat Sintia terlihat bodoh di depan Riko. Dan dari kejauhan Mariyati tersenyum penuh kemenangan.
"Gue gak bisa tinggal diam gitu aja. Gue yakin dengan apa yang gue lihat. Pasti ada yang gak beres di Panti ini, dan gue harus cari petunjuk." Gumam Sintia pada dirinya sendiri.
Nampak Dina mendengarkan apa yang Sintia katakan pada dirinya sendiri. Ia menggelengkan kepala, menganggap jika Sintia sudah terguncang jiwa nya. Tapi ia juga ingin menjebak Sintia, jika apa yang di ucapkan Sintia itu benar. Ia ingin membuat Sintia menghilang dari sana, supaya hubungan nya dengan Riko dapat berjalan baik.
"Gue bakal cari tau apa yang akan lu lakuin setelah ini. Dengan begitu, gue bisa bikin lu celaka karena kecerobohan lu sendiri!" Batin Dina di dalam hatinya.
Dina berharap jika Sintia akan berkeliaran keluar Panti untuk mencari Widia. Dengan begitu kemungkinan Sintia menghilang seperti Widia bisa saja terjadi, dan itu akan menguntungkan nya. Nampaknya apa yang ada di dalam batin Dina didengar oleh sosok sundel bolong perwujudan nek Dijah. Ia juga memiliki keinginan yang sama seperti Dina. Hantu nek Dijah ingin membuat Sintia pergi dari Panti itu, supaya nek Siti tak mendapatkan persembahan jiwa dari cicitnya sendiri. Entah apa yang akan dilakukan keduanya untuk menjebak Sintia, hanya waktu yang akan menjawabnya.