TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 85 SELAMAT DATANG KEMBALI.


Tepat di depan pintu, nampak sesosok bayangan hitam bersama sosok para hantu lansia ada di belakangnya. Tepat di bawah lantai, ada seorang perempuan yang tergeletak dengan posisi tertelungkup. Melihat dari postur tubuh dan rambutnya, Dina jadi curiga jika ia mengenal orang yang ada di lantai itu.


"Cepat kau bawa dia ke kamarnya. Aku terpaksa harus menghilangkan ingatan nya, karena jika tidak dia akan kembali melarikan diri dari tempat ini. Sementara gilirannya masih lama."


"Tapi bagaimana dengan nek Siti?" Celetuk Dina memberanikan diri melihat penampakan hantu nek Siti.


Mariyati tertawa lantang seraya memiringkan kepalanya. Ia berkata jika nek Siti berani mencampuri urusannya lagi, ia tak akan membiarkan Sintia ataupun keturunannya yang lain dapat hidup dalam waktu yang lama.


"Ingatlah, ini bukanlah ancaman Siti! Aku akan membinasakan seluruh keturunanmu, karena kau pun juga tak berkeinginan menerima persembahan lagi bukan. Tak masalah jika kau tak mau, karena aku akan tetap membuatmu hidup abadi meski tanpa persembahan dari keturunan mu." Cetus Mariyati tersenyum licik.


Kuntilanak nek Siti hanya tertunduk tak mengatakan apa-apa. Ia tak berdaya dengan ancaman itu, meski sudah berulang kali mencoba membebaskan Sintia. Nyatanya ia akan dengan mudah kembali ke Panti itu. Sebenarnya Sintia bisa saja diselamatkan, jika ia bertemu dengan seseorang yang paham mengenai agama dan dunia gaib. Tapi ibunya terlambat melakukan sesuatu, karena Mariyati sudah meletakan bughul di depan kamar perawatan gadis itu. Jadi sewaktu-waktu dibutuhkan, Sintia akan dengan mudah dibawa kembali ke Panti terkutuk itu.


"Jika kau masih menyayangi semua keturunan mu, kau harus mau merelakan Sintia untuk menjadi persembahan. Karena jika tidak, aku bisa membinasakan semua keturunan mu yang tersisa. Apa kau paham dengan perkataan ku ini Siti?" Pertanyaan tegas Mariyati membuat hati kuntilanak nek Siti gentar.


Bagaimanapun para hantu lansia itu tak memiliki kelebihan apapun. Mereka tak akan mungkin bisa melawan Mariyati ataupun mbah Gito. Tanpa sadar mereka diperalat untuk mendapatkan persembahan yang bisa berguna bagi kedua manusia sesat itu.


"Dina berikan persembahan mu untuk para hantu lansia ini. Sayat telapak tangan mu menggunakan belati, supaya para lansia ini mendapatkan minum dari darah segar perempuan yang sedang mengandung. Darahmu lebih harum daripada darah perempuan yang masih perawan. Karena ada bayi yang hidup di dalam kandungan mu!" Pungkas Mariyati.


Dina hanya menelan ludahnya kasar, ia melihat mbah Gito berharap mendapat pembelaan. Namun lelaki paruh baya itu justru menganggukkan kepala, meminta Dina untuk mengikuti perintah Mariyati.


"Kau terpaksa harus melakukan ini, beruntung nya kau tak diminta menggantikan posisi Widia. Setelah ini kami akan mempertimbangkan sesuatu mengenai dirimu!" Kata mbah Gito seraya memejamkan kedua mata, lalu membaca rapalan mantra.


Sosok bayangan hitam tadi adalah utusan dari makhluk gaib yang dipuja Mariyati dan mbah Gito. Ia sengaja diperintahkan untuk mengawasi dan membawa Sintia kembali. Sementara Riko yang sedang kehilangan ingatan nya, berada di tempat yang aman sehingga energi negatif tak bisa masuk ke dalam sana. Terpaksa mereka membiarkan Riko berada disana sampai mereka mendapat kekuatan lebih untuk membawa Riko kembali.


Setelah bayangan hitam itu pergi, para hantu lansia itu melesat masuk ke dalam. Mereka berdiri mengambang mengelilingi tubuh Widia. Namun mereka dapat menghirup aroma anyir darah kotor, lalu melesat pergi mendatangi Mariyati.


"Kalian tenang saja, sebagai gantinya Dina akan memberikan darah manisnya. Saat ini Widia sedang datang bulan, ia tak bisa menjadi persembahan untuk mu Windu. Kau harus bersabar paling tidak sampai tujuh hari ke depan."


Nampak nek Windu melotot, tak bisa menahan amarah. Hanya hantu nek Siti dan kakek Ridho saja yang terlihat tak bersemangat mendengar kata persembahan. Namun begitu mereka menghirup aroma wangi darah yang menetes dari telapak tangan Dina, semua hantu lansia itu terlihat lebih agresif. Baik kakek Ridho ataupun nek Siti tak dapat menahan diri untuk ikut mencicipi darah manis itu. Ke enam hantu itu berbondong-bondong mengerumuni Dina, hingga ia terduduk lemas antara takut dan menahan sakit dari sayatan belati. Satu batok kelapa penuh darah tersaji untuk para hantu lansia. Mereka menikmati persembahan sementara itu. Terdengar suara tawa Mariyati dan mbah Gito, karena mereka berhasil memenangkan para hantu lansia.


Sintia tak hanya dihilangkan ingatan nya, ja juga dibuat menuruti setiap perkataan Mariyati. Kali ini, ia tak mau ceroboh dengan membiarkan Sintia keluar dari Panti apalagi berkomunikasi dengan orang diluar sana. Sempat ada perdebatan, karena Dina menolak tugas ke pasar. Namun ia tak memiliki pilihan selain menurutinya.


Sintia tergeletak di atas dipan kayu, ia membuka kedua matanya perlahan. Lalu ia menoleh ke segala arah, mendapati jika ia berada di dalam ruangan yang tak asing baginya. Di ujung jendela, sosok perempuan dengan wajah pucat dan mata putih memantaunya. Sintia terkejut dengan menelan ludah kasar, lalu mengucek kedua matanya. Ia seakan baru saja melihat makhluk astral, karena ia sangat ketakutan hingga bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.


"Apa yang lu lakuin di bawah sana? Lu mau lanjut tidur atau gak, jangan sampai pagi nanti lu kelabakan mengurus para lansia." Ucap Dina seraya merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Terlihat Sintia tercekat melihat perut Dina yang membesar. Ia sudah melupakan segala yang terjadi di Panti jompo itu.


"Lu lupa, kalau gue sedang mengandung anak Riko? Kita disini udah hampir tiga bulan, dan usia kandungan gue mungkin sudah dua bulanan. Beberapa hari kemarin lu jatuh dari kamar mandi, makanya sekarang lu jadi kayak gini, lupa segalanya!" Jelas Dina membuat Sintia berpikir keras.


Sintia menggaruk kepala yang tak gatal, ia kesulitan mengingat satu kejadian yang terjadi saat ia berada disana. Sampai akhirnya Dina kesal dan menarik lengan Sintia supaya ia lekas tidur. Nampak telapak tangan Dina terbungkus perban dengan bekas noda darah.


"Tangan lu kenapa Din? Kok gue kayak melupakan sesuatu sih. Dimana teman kita yang lainnya?"


"Teman yang mana? Riko maksud lu? Dia lagi tugas diluar Panti, jadi buat sementara cuma ada kita berdua!"


"Hah... Berdua? Di Panti sebesar ini, kita cuma pkl bertiga doang?"


"Ya emang begitu dari awal, emangnya lu mau berapa orang yang pkl di Panti jompo pelosok desa kayak gini?"


"Seingat gue kita satu kelompok ada enam orang, kenapa hanya bertiga aja yang datang ke tempat ini!"


"Lu tanya aja sama pak dekan! Jangan tanya ke gue! Udah cepetan tidur, besok pagi lu harus masak banyak buat acara syukuran ulang tahun nek Windu!" Seru Dina seraya merapatkan selimut ke tubuhnya.


Sintia diam tak mengatakan apapun, ia berusaha keras mengingat sesuatu yang tak dapat ia ingat. Hanya ada potongan-potongan gambaran yang seakan pernah terjadi dan ia alami. Tapi Sintia kesulitan menemukan jawaban dari beberapa gambaran yang berjalan di dalam isi kepalanya.