
"Kenapa kau menyekap Widia disini?" Tanya Mbah Gito seraya berjalan mendekat.
"Gadis ini sudah terlanjur melihat wujud asli para lansia, dan malam bulan purnama kemarin, dia juga melihat wujud asli ku. Aku tak bisa menggunakan kekuatan untuk menghipnotis nya. Mau tak mau, terpaksa aku harus menyekapnya. Menyembunyikan nya dari teman-teman nya, karena bisa saja dia mengadu pada yang lain." Jawab Mariyati menyeringai.
"Kau benar, jika kau tak melakukan ini, bisa jadi dia mengadu pada yang lain. Dan nasib kita semua bisa terancam. Lalu mau kau apakan gadis ini? Karena setelah ini aku harus mengurus Dina, berkat kecerobohannya sendiri, dia berada di dalam bahaya. Jiwa yang sudah tergadai kan, bisa saja di ambil alih siluman harimau." Mbah Gito mendongakkan kepala ke atas cemas.
Mariyati tak langsung menjawab, ia membulatkan kedua mata menatap Widia tanpa berkedip. Tangannya meraih lakban di mulut Widia lalu membukanya. Seketika Widia berteriak memohon ampun. Ia meminta pengampunan pada Mariyati.
"Saya janji gak akan menceritakan apapun pada semua orang. Tolong bebaskan saya, biarkan saya pergi dari sini!" Seru Widia berderai air mata.
Mariyati berdecih, ia tertawa lantang dengan menggelengkan kepala. Widia juga menjerit memohon pada Mbah Gito, supaya laki-laki itu membantunya bebas. Tapi Mbah Gito tetap mengacuhkan nya, ia justru berpamitan pada Mariyati untuk pergi ke hutan. Mereka belum tau, jika sebenarnya pak Kirun sudah terlebih dulu berada disana. Dan kemungkinan Dina akan diselamatkan oleh musuh mereka.
"Bu tolong... Jangan celakai saya. Saya janji gak akan cerita ke siapa-siapa!" Tiba-tiba Widia berusaha bangkit, ia jatuh tersungkur di lantai.
"Sebenarnya saya juga gak berniat mencelakai mu Widia! Tapi nenek buyutmu sangat membutuhkan jiwa mu, dan kau harus mengorbankan diri untuknya. Jadi lebih baik mulai sekarang, kau terima saja takdirmu!" Pungkas Mariyati tersenyum melalui sudut bibir, sebelum ia menutup kembali mulut Widia dengan lakban.
Mariyati mengiringi Mbah Gito pergi dari Panti. Ia melirik ke arah kamar Sintia, samar-samar cahaya temaram terlihat dari luar. Tak lama setelah itu, nampak perwujudan hantu nek Siti datang. Ia berdiri mengambang dengan wajah marah. Aura gelap semakin terasa pekat, membuat suasana malam itu semakin wingit. Ia mengatakan semuanya pada Mariyati, jika Dijah yang memberikan bisikan gaib pada Dina. Supaya Dina menjebak cicitnya, dan meninggalkan nya di tengah hutan.
"Aku tak ada masalah dengan Dijah, tapi dia selalu mencari masalah dengan ku. Aku tak akan marah, jika ia hanya membuat cicit ku pergi dari Panti. Tapi Dijah juga berencana membuat Sintia tersesat di tengah hutan. Dijah sangat membenciku, hingga ingin membuatku tak mendapatkan persembahan jiwa. Sebenarnya aku tak keberatan jika itu benar-benar terjadi. Tapi aku tak bisa memaafkannya kali ini, Dijah sudah keterlaluan. Nyawa cicitku hampir melayang, setelah ia berhasil lepas dari ancaman siluman harimau. Justru Dijah sendiri yang berniat membunuh nya. Tapi aku lega, karena dia langsung mendapat karma instan. Cicitnya sendiri sekarang berada di tangan siluman harimau. Dijah terancam tak mendapatkan persembahan jiwa dari Dina!" Ucap kuntilanak nek Siti seraya tertawa melengking.
"Kau tak usah hawatir Siti! Biar aku yang akan menyelesaikan semuanya! Dijah dan Dina harus mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Kembalilah ke kamar, tenangkan dirimu. Saat ini Sintia sudah aman, dia berada di dalam kamarnya."
Setelah mendengar penjelasan Mariyati, kuntilanak nek Siti melesat menyusuri lorong. Ia pergi ke arah kamar Sintia, dan mengintip di balik ventilasi. Nampak Sintia sedang menyenderkan tubuhnya di tembok. Ia menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Sesekali Sintia meneteskan air mata, ia ketakutan berada di dalam kamar seorang diri. Melihat Sintia tertekan membuat kuntilanak nek Siti tak tega. Ia menggunakan kesempatan itu untuk menemui cicitnya.
Disaat kuntilanak nek Siti berusaha memberi penjelasan pada Sintia. Widia berusaha keras melepaskan ikatan yang melilit tubuh dan tangannya. Ia melihat ke sekitar, nampaknya Mariyati sedang berada diluar ruangan sehingga memberinya waktu bebas untuk melepaskan diri.
"Gue harus bisa lepasin ikatan ini, kalau gue gak berusaha pergi sekarang. Mungkin hidup gue akan benar-benar berakhir di tempat ini!" Batin Widia di dalam hatinya.
Widia terus menggerakan tubuhnya, ia berusaha keras membuat lilitan tali itu longgar. Namun tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat. Seketika Widia berhenti bergerak, ia tak mau usahanya ketahuan. Dan membuat Mariyati kembali mengencangkan ikatan tali yang melilit tubuh nya.
Benar saja, Mariyati sudah ada di depan pintu. Namun ia tak langsung masuk ke dalam, ia sedang berkomunikasi dengan sosok sundel bolong. Terdengar suara tingginya membentak sosok astral yang ada di depannya. Widia membulatkan kedua mata terkejut. Ia mendengar Mariyati menyebut sundel bolong itu dengan nama Dijah. Sontak saja Widia semakin ketakutan, ia benar-benar yakin jika sosok astral yang ia lihat kemarin adalah para lansia yang ia rawat di Panti. Lantas siapa leluhurnya yang dimaksud para hantu itu. Widia bertanya-tanya dalam hati, namun ia tak berani menebak. Sampai akhirnya ia menyadari sesuatu.
"Masing-masing dari kami berenam merawat satu orang lansia. Mungkinkah para orang tua itu mewakili satu leluhur dari kami semua?" Batin Widia penuh tanya.
Ia tak mendapatkan jawaban sama sekali, karena ia tak memiliki bukti untuk membenarkan dugaannya.
"Pergi ke kamarmu sekarang juga Dijah! Karena ulahmu dan cicitmu, semua rencanaku hampir berantakan! Apa kau tak menyadari dampaknya untuk dirimu sendiri? Dina saat ini berada dibawa ke alam lain oleh siluman harimau. Bisa saja jiwa nya di ambil alih, dan kau sendiri yang akan merugi! Kau terlalu bodoh, hingga tak menyadari akibatnya!" Bentak Mariyati, membuat sosok yang ada di depannya tertunduk.
Widia yang sedari tadi mendengarkan ucapan Mariyati hanya terdiam dan tak mengedipkan mata. Ia baru tau, jika nyawa Dina sedang dalam bahaya.
Dari luar, Mariyati menoleh ke arah Widia. Untuk memastikan jika gadis itu masih ada di dalam. Mariyati berjalan tertatih ke ruangan ritual. Ia mencari sesuatu di dalam kotak kayu yang tersimpan rapi di bawah kolong meja.
Mengetahui jika Mariyati tak berada di depan ruangan yang sama dengannya, Widia kembali berusaha melepaskan ikatan yang sudah mulai mengendor. Ia dengan lihai melepaskan lilitan di pergelangan tangannya. Nampak peluh membasahi seluruh tubuhnya, bahkan Widia sampai menahan nafas. Supaya lilitan di tubuhnya agak longgar. Tapi tiba-tiba ia merasakan hawa dingin yang memasuki ruangan. Widia langsung menghentikan gerakannya. Ia melihat ke sekelilingnya, dan matanya langsung membulat sempurna, begitu melihat sosok lain ada di dalam ruangan yang sama dengannya.