TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 65 PENERAWANGAN SOSOK HITAM.


Hari berlalu dengan cepat, malam berganti dengan pagi. Terdengar keramaian di sepanjang lorong rumah sakit. Sepertinya keluarga Sintia sudah berdatangan untuk menjenguknya. Seorang perempuan paruh baya mendatangi Rania dan Dahayu, ia berterima kasih karena telah membawa anaknya ke rumah sakit.


"Sudah berbulan-bulan Sintia dan teman-teman nya menghilang. Terakhir mereka berpamitan pergi ke kampus, tapi dari pihak kampus mengaku tak tau menau dimana keberadaan Sintia dan kelima teman-teman nya. Dan baru kemarin saya mendapatkan kabar dari petugas, kalau anak saya ada disini. Sebenarnya apa yang terjadi pada Sintia dek? Kenapa dia bisa sampai nekat berdiri do tengah jalan?" Tanya ibu Sintia dengan raut wajah cemas.


"Hmm maaf bu, sebenarnya kami juga gak tau apa-apa. Karena Sintia belum bercerita banyak, tapi kalau boleh saya sarankan, lebih baik ibu carikan orang yang paham dengan dunia gaib. Karena sepertinya Sintia mendapatkan gangguan dari makhluk halus. Saya ngomong gini karena kebetulan saya dan teman saya ini bisa melihat sesuatu yang gak bisa dilihat orang lain. Ada bayangan hitam yang ngikutin Sintia terus, sepertinya ada sesuatu yang terjadi sebelumnya. Makanya kami berdua mau bicara sama Sintia, sebelum kami berdua kembali ke Jakarta." Jelas Rania dengan mengaitkan kedua alis mata.


"Iya bu, untuk sementara ini sih belum terlihat ada yang membahayakan nyawanya. Tapi kalau mengingat perbuatan nekatnya, menyebrangi ke tengah jalan, sepertinya memang ada sesuatu yang terjadi. Apalagi sebelumnya Sintia sempat cerita ke kami, kalau dia gak mau balik ke Panti. Mungkin semua kejadian itu ada hubungannya dengan Panti tempatnya dan teman-teman nya pkl." Imbuh Dahayu.


"Tapi seharusnya belum waktunya Sintia melakukan pkl. Dan kalaupun memang harus pkl, pasti ada pemberitahuan sebelumnya, apalagi waktu itu Sintia hanya pamit berangkat ke kampus. Bahkan ia tak membawa baju ganti sama sekali. Bagaimana mungkin bisa dia dan anak-anak yang lainnya pergi pkl tanpa persetujuan kami para orang tua."


"Mungkin hal semacam itu bisa saja terjadi bu. Ada sesuatu yang sangat sulit dijelaskan dengan akal sehat. Mungkin lebih baik ibu berbicara dulu dengan Sintia, nanti kami berdua juga akan berbicara dengan nya. Kami ingin tau ada apa sebenarnya dengan Panti Jompo yang dia bicarakan." Rania menggenggam tangan ibu Sintia dengan menyunggingkan senyum.


Setelah kepergian ibu Sintia, Rania duduk dengan memejamkan kedua mata. Ia berusaha menerawang lebih dalam lagi, namun hanya sebatas gambaran-gambaran di dalam sebuah bangunan tua. Dengan para penghuni yang sudah tidak lagi muda. Mereka berkumpul di taman dengan berbincang satu sama lain.


"Mungkinkah itu tadi Panti Jompo yang dimaksud Sintia. Tapi kenapa aku tak bisa melihat lebih dalam lagi. Kayak ada yang membatasi penglihatan ku." Batin Rania di dalam hatinya nya.


Rania membuka kedua matanya, ia melihat Dahayu juga sedang memejamkan mata. Nampaknya Dahayu juga sedang menggunakan kekuatannya untuk melihat sesuatu.


"Bayangan hitam itu tadi ngelewatin gue Ran. Pas gue sentuh sosoknya, gue kayak ngelihat sesuatu deh. Gue ngelihat Sintia sama kelima temannya."


"Kapan mbak? Emang bayangan hitam tadi datang lagi?"


"Iya Ran, waktu lu masih bicara sama ibunya Sintia tadi. Niatnya sih gue mau kasih tau lu, tapi gue gak enak ada ibunya Sintia. Takutnya gue dikira melebih-lebihkan."


"Semoga aja kelima teman Sintia masih baik-baik aja. Gue kok punya feeling lain ya mbak, sebenarnya gue masih pengen nolongin Sintia sama teman-teman nya. Tapi pekerjaan gue udah gak bisa ditinggal lebih lama lagi."


"Sama sih Ran, apalagi gue. Bentar lagi murid pada ujian, gue harus ekstra ngembimbing mereka. Tapi gue juga penasaran sih, pengennya bantu Sintia. Tapi bagaimana lagi, waktunya gak memungkinkan. Mungkin kita bisa nolong kalau pas ada waktu senggang."


Rania dan Dahayu sama-sama dilema. Keduanya memiliki tanggung jawab pada pekerjaan, tapi melihat kondisi Sintia yang sedemikian, mereka merasa tak tega dan menjadi beban mental tersendiri. Tak lama setelah itu ibu Sintia memanggil keduanya, karena Sintia ingin berbicara. Akhirnya Rania dan Dahayu menemui Sintia di kamarnya. Ia menceritakan sedikit cerita yang terjadi di Panti Jompo Muara Hati. Dari awal kedatangan nya bersama teman-temannya, Sintia tak menaruh curiga sama sekali. Hanya ada kejanggalan, ketika malam tiba. Dari jam tidur yang di atur sedemikian rupa, dengan berbagai aturan yang tak boleh dilanggar untuk meninggalkan kamar ketika tengah malam. Belum lagi berbagai penampakan hantu. Mendengar penjelasan Sintia, Rania dan Dahayu hanya termenung. Mereka tak menyangka ada Panti Jompo yang seperti itu. Bahkan Sintia mengatakan kecurigaan nya mengenai tumbal.


"Sebenarnya gue udah ngerasa gak beres mbak, sewaktu temen-temen gue satu persatu hilang. Katanya kedua teman gue itu balik ke kota, tapi pas gue coba hubungi mereka gak ada kejelasan sama sekali. Bahkan sewaktu di Panti, handphone kita semua disita sama ibu Panti. Perempuan itu kahak siluman mbak, seingat gue, dia emang masih muda dan cantik. Tapi pas hari terakhir, sebelum gue sama ketiga temen gue punya rencana kabur dari Panti. Teman gue ada yang ngelihat wujud ibu Panti, yang katanya berubah jadi orang tua. Dan katanya perubahan itu hanya selama bulan purnama aja. Gue gak ngerti mbak dengan hal gaib semacam itu. Tapi gue juga gak bisa mengelak, kalau ada hal baik yang gue temuin dibalik musibah itu. Gue bisa ketemu sama nenek buyut gue." Ucap Sintia dengan berderai air mata.


Mendengar cerita gadis yang ada di depannya. Sintia dan Dahayu menjadi makin penasaran. Mereka semakin ingin menelusuri kasus itu. Namun siang nanti mereka sudah harus kembali ke Jakarta. Karena ada pekerjaan yang sudah menanti keduanya. Namun mereka berjanji pada Sintia, kalau mereka akan sebisa mungkin membantu Sintia dan teman-teman nya untuk terbebas dari Panti Jompo Muara Hati.