TUMBAL PANTI JOMPO

TUMBAL PANTI JOMPO
BAB 59 MASIH MENJADI MISTERI?


Malam itu, nek Siti lebih dulu sampai di Panti. Ia terpaksa menceritakan bagaimana penghianatan nek Dijah dengan penguasa hutan rawa mayit. Meski Mariyati terlihat bimbang, dan tak percaya begitu saja. Ia menunggu sampai sosok nek Dijah datang. Kedua hantu lansia menceritakan hal yang berbeda dengan versi mereka masing-masing. Tentu saja keduanya sama-sama menceritakan kebenaran sekaligus kebohongan. Sehingga Mariyati bingung untuk mengambil sikap. Karena apapun yang terjadi di hutan rawa mayit tak bisa diterawang, tempat itu memiliki privasi yang tak bisa ditembus dari luar. Jadi Mariyati ataupun mbah Gito tak akan bisa mengetahui siapa yang benar di antara nek Siti ataupun nek Dijah.


"Apa kau lupa dengan ucapanku Dijah?" Bentak Mariyati dengan tubuh renta yang gemetaran.


"Aku tak melupakan semuanya! Karena itulah kau harus percaya padaku! Siti sengaja membebaskan cicitnya, karena aku sendiri yang membantunya pergi membawa Sintia dari hutan rawa mayit!" Jelas sosok nek Dijah dengan tegas.


Seketika Mariyati membulatkan kedua matanya, menatap sosok nek Siti dengan amarah besar.


"Aku memang berniat membebaskan Sintia dari perjanjian terkutuk itu. Namun di tengah perjalanan, para penghuni hutan rawa mayit menghadang ku. Mereka mengeroyok ku dan melemparkan ku keluar dari hutan itu. Para sundel bolong itu membawa Sintia pergi entah kemana. Dan seperti yang kau tau, tak ada yang bisa sembarangan masuk ke dalam sana kecuali mereka yang berilmu tinggi, dan para sundel bolong itu sendiri. Karena itulah aku kehilangan jejak keberadaan Sintia. Entah dimana cicitku saat ini. Semua itu karena ulah Dijah yang dipenuhi keegoisan!" Seru sosok nek Siti menatap tajam pada sosok yang ada di depannya.


Terlihat aura saling membunuh di antara kedua sosok gaib itu. Mariyati tak tau siapa yang bisa dipercaya, karena tak akan ada hasil yang bisa menunjukkan kebenaran keduanya.


Nampak sinar bulan purnama diluar bangunan itu. Mariyati mendongakkan kepala, memikirkan langkah yang selanjutnya. Ia merasa rencananya gagal karena ulah kedua lansia itu sendiri. Mendadak ia merasakan sakit di ulu hatinya. Mariyati memekik seraya memegangi sebelah dadanya. Nampak kedua sosok lansia itu panik, dan berusaha menolongnya. Namun Mariyati menolak, dan meminta kedua sosok itu pergi meninggalkan ruangan nya.


Tak lama setelah itu mbah Gito kembali bersama Widia dan Riko. Kedua anak muda itu, hanya diam dengan tatapan mata yang kosong. Nampaknya mereka kembali dihipnotis, sehingga mereka melupakan apa yang telah terjadi di Panti.


Kedua anak muda itu pergi meninggalkan mbah Gito seorang diri. Kemudian ia mendatangi Mariyati, yang sedari tadi melihat dari dalam ruangan nya. Ia sedang menyesali keteledoran mereka karena telah membuat Sintia meninggalkan Panti.


"Kau tak usah hawatir Mariyati... Mendekati hari persembahan jiwa, gadis itu akan segera kembali ke Panti ini apapun keadaannya. Meski hanya berbentuk jiwa tanpa raga!" Kata mbah Gito dengan suara beratnya.


"Tidak! Tidak bisa begitu! Aku juga membutuhkan organ tubuhnya. Seperti yang kau tau, darah segar dan organ dalam gadis seperti Sintia sangat bermanfaat untukku. Bagaimana mungkin dengan gampangnya kau mengatakan hal semacam itu! Mungkin kau tidak perduli apakah Sintia akan kembali dengan utuh atau tidak. Karena kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Yaitu seorang penerus yang akan kau jadikan tempat untuk jiwamu berpindah. Lantas aku hanya akan mendapatkan sesuatu yang tak ada artinya. Itu maksudmu Gito?" Ucap Mariyati dengan membulatkan kedua mata.


"Sudahlah tak perlu dibahas sekarang. Keadaan mu tak memungkinkan untuk berdebat dengan ku. Lewatilah malam terakhir mu dengan wujud renta ini untuk banyak istirahat. Aku akan membuat rencana lain, entah bagaimana baiknya. Jika kau memang menginginkan Sintia kembali dalam keadaan utuh dan baik-baik saja." Pungkas mbah Gito sebelum meninggalkan Mariyati di ruangan nya.


Sementara Sintia yang sudah sampai di gubuk pak Kirun, nampak kebingungan seorang diri. Beberapa kali ia mengetuk pintu kayu yang ada di depannya, namun tak ada siapapun yang menjawabnya. Sampai akhirnya Sintia duduk bersimpuh di tanah, tangannya menengadah ke atas seraya berlinang air mata. Sintia mengingat kembali TuhanNya. Ia berdoa meminta perlindungan dan pertolongan. Doa yang tulus ia ucapkan dari hatinya yang terdalam. Sesekali terdengar suara petir yang menggelegar. Samar-samar ia melihat bayangan seseorang mendekat ke arahnya. Matanya yang sayu karena air mata membuatnya tak bisa melihat dengan jelas. Sinta mengusap matanya, untuk memastikan siapa yang ada di dekatnya.


Sepasang kaki berhenti tepat di depannya, lalu ia merasa ada yang menyentuh pundaknya. Sintia terperanjat dan tak berani membuka kedua matanya, karena takut jika yang mendatangi nya adalah Mariyati ataupun mbah Gito. Yang kemungkinan akan membawanya kembali ke Panti. Atau apakah mungkin yang mendatanginya adalah pak Kirun.